Prabowo Minim Ide, Jokowi Keliru Data - strategi.id
Dialektika

Prabowo Minim Ide, Jokowi Keliru Data

Pengamat: Jokowi Tak Menyerang Prabowo, File Pemimpin Harus Dibuka

Strategi.id – Debat kedua Calon Presiden yang berlangsung Minggu malam (18/2/19) berlangsung lebih menarik dibanding debat capres-cawapres pertama.

Selain moderatornya Tommy Tjokro dan Anisha Dasuki lebih santai, juga format debatnya lebih menarik karena diberi ruang waktu yang longgar saat sesi debat eksploratif dan sesi debat inspiratif.

Baca Juga : BPN Sebut Jokowi Jebak dan Permalukan Prabowo lewat Unicorn

Untuk hal ini KPU patut diapresiasi. Para panelis juga patut diapresiasi karena mampu menghadirkan pertanyaan yang menarik.

Prabowo Kritik Jokowi Tapi Minim Ide Baru

Meski Prabowo nampak enggan mengkritik Jokowi tetapi beberapa pernyataanya sempat membuat Jokowi mengernyitkan dahi kepalanya.

Ada kritik Prabowo saat debat meski disampaikan terlalu santun, misalnya pada pernyataan Prabowo kepada Jokowi : “janjinya dulu tahun 2014 tidak akan impor pangan, tapi mengapa saat ini impor besar- besaran padahal katanya surplus beras?”

Selain itu Prabowo juga menyebutkan bahwa saat ini tidak sedikit pengelolaan bisnis dikelola oleh asing dan kekayaan banyak mengalir ke asing.

Hampir tidak ada ide baru yang muncul dalam debat dari Prabowo. Kecuali sedikit saja yang muncul, yaitu Prabowo akan membuat dua kementrian yang terpisah antara Mentri Kehutanan dan Mentri Lingkungan Hidup.

Ide baru lainya yang muncul dari Prabowo adalah akan membuat BUMN yang khusus menangani perikanan dan kelautan yang dikelola oleh anak bangsa sendiri bukan asing.

Kekeliruan Data Jokowi

Dalam debat Capres kedua ini Jokowi sebagai Petahana sangat banyak menyebutkan data, namun setelah debat usai sejumlah media yang melakukan fact check ditemukan terlalu banyak data yang diungkap Jokowi ternyata keliru.

Data keliru Jokowi tersebut ditemukan ketika Jokowi mengatakan bahwa hampir tidak ada konflik dalam pembebasan lahan untuk pembangunan infrasrruktur dalam 4.5 tahun ini.

Faktanya ternyata data Greenpeace (2015) menyebutkan ada konflik pada kasus pembangunan PLTU di Batang Jawa Tengah yang berakhir dengan konflik hebat dengan masyarakat karena ada pemibdahan paksa.

Konflik lain juga terjadi pada proses pembangunan bandara baru Yogyakarta (New Yogyakarta Airpirt).

Data keliru Jokowi juga ditemukan ketika Jokowi dalam debat mengatakan bahwa dalam tiga tahun terakhir ini tidak ada kebakaran hutan.

Faktanya ternyata ada. Berdasarkan sumber Direktorat PKHL Kementrian Lingkungan Hidup dan kehutanan (2018) menyebutkan bahwa pada tahun 2016 terdapat kebakaran hutan seluas 14.604,84 hektar.

Pada tahun 2017 terdapat kebakaran hutan seluas 11.127,49 hektar, dan pada tahun 2018 terdapat kebakaran hutan seluas 4.666,39 hektar.

Baca Juga : Mengulik Unicorn ‘Jokowi’ yang Tren di Fesyen dan Kuliner

Data keliru Jokowi juga ditemukan ketika Jokowi mengatakan bahwa tahun 2014 kita masih impor jagung sebesar 3,5 juta ton dan tahun 2018 hanya impor 180.000 ton.

Faktanya, berdasarkan sumber Badan Pusat Statistik (BPS, 2018) disebutkan bahwa Indonesia mengimpor Jagung mencapai 737.220 ton jagung.

Tentu kekeliruan data Jokowi ini bisa menjadi pukulan balik dari kubu Prabowo kepada Jokowi karena Jokowi bisa dinilai menggunakan data bohong atau hoax. Jika pukulan balik Prabowo ini dilakukan tentu akan terus menggerus elektoral Jokowi.

Tidak Ada Pertanyaan Tajam dari Kedua Capres

Kelemahan terbesar dari debat kedua justru datang dari kedua capres. Kedua calon Presiden tersebut saat sesi debat eksploratif dan sesi debat inspiratif tidak menghadirkan pertanyaan- pertanyaan yang tajam terkait energi, pangan, sumberdaya alam, infrastruktur dan lingkungan hidup.

Penulis : Ubedilah Badrun, Analis sosial politik UNJ.

Berikan Komentar

Berikan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Atas