Ada Apa Dibalik Remaja Teler Air Rebusan Pembalut Perempuan? – strategi.id
Dialektika

Ada Apa Dibalik Remaja Teler Air Rebusan Pembalut Perempuan?

Fenomena Anak-Anak Kecanduan Pembalut Rebus

Strategi.id- Penggunaan pembalut perempuan yang direbus lalu meminum air rebusan nya, yang diyakini dapat memunculkan efek nge-fly, memang harus diwaspadai semua pihak, terutama para orang tua dan pendidik. Apalagi dari kasus-kasus yang terungkap selama ini kerap kali yang menyalah gunakan nya dari kalangan usia remaja, baik itu anak jalanan maupun para pelajar.

Kasus kelompok remaja teler memakai air rebusan pembalut perempuan, yang terungkap beberapa waktu lalu di beberapa daerah di Jateng, yakni di Kota Semarang bagian Timur, Kudus, Pati, Rembang, dan Gerobokan, sebenarnya bukan kejadian pertama. Kabarnya aksi serupa juga telah ada di Jabar, Jakarta dan beberapa daerah lainnya.

Baca Juga : Fenomena Anak-Anak Kecanduan Pembalut Rebus

Sebelumnya, aksi teler dengan meminum air rebusan pembalut berhasil terungkap media pada awal Agustus 2016 di daerah Belitung Timur yang melibatkan kalangan.pelajar belasan tahun. Salah seorang dari pelajar itu mengaku mengenal cara teler seperti itu sejak pertengahan tahun 2015. Entah sejak kapan, di mana dan siapa persis nya penemuan cara teler dengan air rebusan pembalut itu bermula.

Meski pihak berwenang menyimpulkan tidak ada kandungan zat narkotika di dalam pembalut, namun bukan berarti zat-zat kimia di dalamnya bersahabat bagi kesehatan tubuh. Justru malah amat berbahaya jika dikonsumsi.
Zat klorin, atau zat pemutih, yang terdapat pada pembalut, bersifat korosif jika dikonsumsi bisa menyebabkan iritasi pada kulit, usus, dan saluran pernafasan, penyempitan pembuluh darah, dan bersifat karsinogenik yang memicu kanker.
Sodium polyacrylate pada pembalut merupakan senyawa kimia yang berfungsi penyerap air sekitar 200 sampai 300 massa air. Sehingga usai dikonsumsi mengakibatkan tenggorokan kering, yang memicu dehidrasi.
Selain itu pembalut pun mengandung pulp kertas, polimer, dan zat perekat yang bisa menyebabkan kerusakan hati dan ginjal. Terlebih jika menggunakan pembalut bekas pakai yang notabene mengandung gumpalan darah kotor menjijikan berisi pelbagai bakteri dan bibit penyakit berbahaya.

Sebenarnya efek nge-fly yang digembar-gemborkan pengguna air rebusan pembalut lebih bersifat sugestif semata. Artinya, lantaran secara psikologis sejak awal para pengguna atau calon pengguna tersugesti atau disugesti bahwa air rendaman pembalut itu akan bikin nge-fly, maka yang terjadi setelah meminumnya ia pun nge-fly, namun secara sugestif. Bukan nge-fly layaknya saat mengonsumsi narkoba sebenarnya.

Boleh jadi para peminun air rebusan pembalut akan benar-benar teler ketika mengoplosnya dengan aneka bahan yang sebelumnya pun marak dilakukan kelompok pemabuk berdompet cekak, yang menimbulkan banyak korban tewas. Yakni mengoplosnya dengan alkohol murni, atau spirtus, bensin, ditambah krim anti-nyamuk, obat generik tertentu yang melebihi dosis, plus minuman berenergi.

Baca Juga : Air Rebusan Pembalut Memberikan Sensasi nge-fly, Ini Kata BNN

Penggunaan barang-barang legal untuk keperluan teler, telah berlangsung sejak tahun 1990-an, ketika mulai marak penggunaan lem Aibon yang dihirup untuk menciptakan efek mabuk di banyak kalangan anak-anak jalanan.

Di tahun 2000-an ke atas juga mulai muncul kreatifitas kebablasan lainnya dari kelompok pemuda bokek hobi mabuk dengan mengoplos minuman beralkohol divamour spirtus, krim anti-nyamuk, minuman berenergi, dan lain-lain.
Ketika seorang anak remaja terlibat pengonsumsi air rebusan pembalut ataupun narkoba, maka itu menandai hal-hal berikut:
Pertama, anak itu sejak dini minim, bahkan tidak terpapar dan terinstal dengan nilai, perilaku dan keteladanan tentang apa saja yang baik dan buruk bagi dirinya, yang diperolehnya dari orangtua, keluarga dan para pendidiknya, melalui metode pendidikan dan pengasuhan yang benar, tepat dan berkelanjutan.
Kedua, anak itu mengalami defisit cinta dan kasih sayang yang akut dari orangtua, keluarga dan para pendidiknya. Sehingga ia lari ke dalam pergaulan sesat, yang seakan kelompok pergaulannya itu mampu menambal defisit cintanya, padahal yang berlangsung kerap kali justru perilaku kebersamaan dan solidaritas yang keliru bahkan menjerumuskan diantara mereka.

Baca Juga : Buruknya Kemampuan Matematika Pelajar Kita dan Dekonstruksi Sistem Pendidikan

Ketiga, anak tidak dididik untuk memiliki keterampilan bersikap kritis atas ide-ide atau perilaku yang bisa jadi melenceng dengan norma yang berlaku, bahkan bisa berdampak buruk bagi dirinya. Sehingga ia mudah terpengaruh pada ide atau perilaku buruk yang merugikan dirinya.

Untuk itu sebagai orangtua dan para pendidik, marilah kita bersama menjaga anak-anak kita dengan kasih sayang paripurna. Menerapkan metode pendidikan yang tepat kepada anak berbasis nilai-nilai agama dan sains ilmiah. Menanamkan pemahaman nilai-nilai terpuji lewat cara-cara asyik dan menyenangkan. Serta memberikan keterampilan bersikap kritis pada anak atas hal-hal tertentu yang boleh jadi bisa merugikan dirinya.[]

Penulis : Nanang Djamaludin, Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Keayahbundaan dan Perlindungan Anak

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top