Agenda Perlindungan Anak dan Perempuan dibahas di Sudin PPAPP Jaktim - strategi.id
Nusantara

Agenda Perlindungan Anak dan Perempuan dibahas di Sudin PPAPP Jaktim

Strategi.id - Nanang Djamaludin Membahas Perlindungan Anak dan Perempuan di Sudin PPAPP Jaktim

Strategi.id – Masih terus bertenggernya Indonesia sebagai salah satu negara pengakses pornografi terbesar di dunia dalam waktu yang cukup lama, yang banyak diantara pengaksesnya adalah para generasi muda atau generasi millenial, merupakan salah satu ancaman serius yang berpotensi menghambat segala upaya pemajuan agenda-agenda perlindungan anak dan perempuan, yang justru belum terlalu beranjak dari keringkihannya.

Hal itu mengingat ketika keterpaparan dan kecanduan berat terhadap pornografi dialami oleh seseorang maupun sekelompok orang, maka inspirasi ke arah tindakan-tindakan cabul, bahkan kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan menjadi laen dan terbuka lebar. Tinggal menunggu mementum yang tepat saja tindakan itu teraktualisasikan, yang seringkali banyak masyarakat tersadarkan ketika kejadian sudah berlangsung.

Pandangan itu disampaikan Nanang Djamaludin, selaku Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), yang juga konsultan perlindungan anak dan Keayahbundaan, saat menjadi pemateri di acara ‘Advokasi Peran Lembaga Dalam Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan dan Anak’ yang digelar oleh Sudin Pemberdayaan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) Jakarta Timur, Rabu (29/8/2018).

Pada kesempatan itu, Nanang membawakan presentasi berjudul “Pemajuan Agenda Perlindungan Anak dan Perempuan Berbasis Keluarga dan masyarakat”. Sementara pesertanya 150 orang berasal dari kader PPKB (Pembantu Pembina Keluarga Berencana) dari 10 kecamatan yang ada di Jaktim. Mereka antusias mengikuti acara hingga selesai dan terlibat aktif dalam diskusi yang amat menarik.

Nanang menjelaskan, bukan hanya pornografi/pornoaksi dan perilaku seks salah yang menjadi potensi ancaman serius terhadap anak dan perempuan. Namun kekerasan dalam beragam bentuknya, paham intoleran, gaya hidup hedon dan permisif, narkoba, penelantaran, perilaku salah lainnya terhadap anak, dan bencana alam. Dan bagi perempuan, kuatnya ideologi patriarki di tengah masyarakat masih menjadi sandungan bagi banyak perempuan.

Menurutnya tidak bisa tidak, segenap elemen masyarakat di Jakarta Timur, terlebih kader PPKB Jaktim yang peduli agenda-agenda pemajuan perlindungan anak dan perempuan harus menjalin kekompakan menyusun langkah-langkah dan aksi bersama dalam menghadapi klaster-klaster ancaman yang mengintai orang-orang terdekat kita itu, yang sesungguhnya tidaklah ringan bila dihadapi cuma sambil lalu apalagi cuma sendiri-sendiri belaka.

“Untuk pemajuan agenda-agenda perlindungan anak dan perempuan maka wajib adanya kekompakan, kesamaan pemahaman dan sikap dari orang-orang ‘sekampung’ untuk menutup lubang-lubang kelemahan yang bisa membuat masyarakat kecolongan, “, tandasnya.

Sementara pembicara lain, yakni Prof. Suswandari, MPd, dosen Uhamka Jakarta menyebut saat ini di masyarakat berlangsung apa yang disebut sebagai darurat adab dalam keluarga. Berdasarkan data, dalam lima tahun terakhir ini di Jakarta terjadi sebanyak 49.368 perempuan yang menjanda akibat. perceraian.

Uniknya salah satu picu yang menonjol dari banyaknya perceraian itu berasal dari aktivitas di medsos yang memunculkan ‘orang ketiga’ dalam kehidupan rumah tangga sekaligus menciptakan kondisi rumah tangga yang ssmakin tidak harmonis. Selain tentu saja ada faktor lain penyumbang perceraian, yakni faktor ekonomi dan tidak adanya tanggungjaban dari pasangan.

“Untuk itu mari kita bangun keluarga tangguh, yakni keluarga yang dipondasikan oleh nilai-nilai keluarga yang kokoh, seperti cinta, saling menghormati antar suami-istri, bertanggungjawab, kebersamaan keluarga, dan hubungan yang harmonis,” ujarnya.

Sebelumnya dalam sambutannya saat membuka kegiatan tersebut, Kepala Sudin PPAPP Jaktim, Dra Fetty Fatimah MM, meminta kepada para kader PPKB Jaktim dari setiap RW dan kelurahan untuk secara nyata mengambil bagian yang aktif dalam melindungi anak dan perempuan di wilayahnya masing-masing. Juga untuk memutus rantai kekerasan terhadap anak dan perempuan. []

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top