Akibat Korona, Bank Indonesia Melakukan Intervensi Pasar - strategi.id
Infrastruktur

Akibat Korona, Bank Indonesia Melakukan Intervensi Pasar

Strategi.id-Akibat Korona, Bank Indonesia Melakukan Intervensi Pasar
Strategi.id-Akibat Korona, Bank Indonesia Melakukan Intervensi Pasar

Strategi.id-Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi pasar sebagai upaya untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang saat ini berada dalam tekanan.   di tengah wabah virus korona (covid-19). Hal ini disebabkan kekhawatiran investor yang mengalihkan dananya ke aset yang lebih aman.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, Bank Indonesia terus memperkuat intensitas intervensi di pasar, baik di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun pembelian obligasi pemerintah alias Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder.

Bahkan menurut Perry, sejak awal 2020 BI telah melakukan pembelian SBN sebesar Rp192 triliun dari pasar sekunder yang dilepas oleh investor

Baca Juga : Pemerintah Lakukan Tes Cepat dan Siapkan Jutaan Obat Covid-19

“Injeksi likuiditas dalam jumlah yang cukup besar. Jumlah tersebut sudah hampir mencapai Rp 195 triliun dan ini bisa terus bertambah,” kata Perry pada Kamis (19/3/20) di Jakarta.

Untuk meredam tekanan di pasar keuangan, BI memastikan mekanisme pasar terjaga dengan likuiditas di pasar uang dan pasar valas juga terpenuhi. 

Hal ini untuk meyakinkan para investor dengan terus di berada di pasar untuk menjaga kepercayaan mereka. “Kami lakukan triple intervention itu yang terus kami lakukan baik di DNDF, Spot maupun juga pembelian SBN sekunder. Kami pastikan adalah Bagaimana penentuan nilai tukar di pasar baik melalui broker maupun internal bank itu konvergen,” tuturnya.

Baca Juga : Pepesthen Korona dan Bencana Kemanusian

Selain dengan membeli SBN di pasar sekunder, BI juga mengajukan repo dengan agunan SBN sebesar Rp 53 triliun. Kemudian BI juga akan menambah total giro wajib minimum (GWM) sebesar Rp 23 triliun dari sebelumnya Rp 51 triliun per 1 April 2020, serta menurunkan GWM valuta asing (valas) menjadi Rp 3,2 miliar.

Menurutnya tekanan dipasar keuangan, tak hanya terjadi di Indonesia, melainkan disemua negara. Sebab saat ini investor Global ini memang sedang menghadapi tekanan ketidakpastian yang sangat tinggi terutama terkait penyebaran virus korona.

Keluarnya dana asing dari aset keuangan juga memicu kenaikan premi risiko. “Investor Global ini memang sedang menghadapi tekanan ketidakpastian yang sangat tinggi ,kita pantau donjones anjlok, premi risiko sangat sangat tinggi dan kami juga kita menghadapi semua negara menghadapi bahwa investor Global melepas asetnya baik saham maupun Surat Berharga Negara (SBN),” jelas dia.

Baca Juga :“To Be Or Not To Be”, Indonesia Harus Selamat Melawan Covid 19

BI akan selalu siap dalam menempuh langkah-langkah lanjutan. Pasalnya, BI melihat bahwa dampak Covid-19 ini dalam jangka pendek masih belum terasa, sehingga Indonesia memang harus terus memasang kuda-kuda untuk menanggulangi dampaknya.

BI mencatat sampai tanggal 19 Maret 2020 terjadi penarikan dana asing sebanyak Rp 105 trilliun. Terdiri dari Surat Berharga Negara (SBN) Rp 92,8 triliun.

“Sementara saham adalah Rp 8,3 T, itu data kami sampai 19 Maret 2020,” kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam Rapat koordinasi Kemenko Bidang Perekonomian secara virtual, Jakarta, Jumat (20/03/20).

Baca Juga : Resesi Dunia dan Potensinya di Indonesia

Sedangkan Bank Indonesia pada RDG Februari 2020, telah memangkas suku bunga BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI-7DRRR) sebesar 25 basis poin (bps) ke level 4,75 persen.

Hal itu, kata Perry, perlu dilakukan karena menurunkan kembali suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 4,5 persen.

“Sehingga bisa mendorong perekonomian lebih lanjut,” kata Perry dalam video conference usai Rapat Terbatas dengan Presiden Joko Widodo atau Jokowi, Jumat, 20 Maret 2020.

Baca Juga : Strategi Singapura Hadapi Resesi Dunia

Dia menuturkan penurunan suku bunga acuan BI bertujuan agar memberikan kemudahan bagi dunia usaha dan masyarakat agar dapat pembiayaan dari perbankan di tengah dampak wabah virus Korona atau Covid-19.

Bersama OJK, Bank Indonesia terus berkoordinasi dan menjaga pasar agar tetap berjalan. Fokusnya untuk menjaga confidence, memastikan bekerjanya mekanisme pasar, dan menjaga likudiitas baik rupiah maupun valas.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top