Anak Bengal Dalam Rahim Reformasi,Sebuah Catatan Pribadi Seputar Peristiwa 1998 - strategi.id
Dialektika

Anak Bengal Dalam Rahim Reformasi,Sebuah Catatan Pribadi Seputar Peristiwa 1998

Strategi.id - Anak Bengal Dalam Rahim Reformasi,Sebuah Catatan Pribadi Seputar Peristiwa 1998

Strategi.id – Sepanjang tahun 1993 – 1996, itu merupakan masa yang penuh dinamika, tantangan dan resiko. Terutama setelah terpilih sebagai Ketua SMPT Untag Jakarta pada tanggal 26 Juni 1996. Saya langsung tancap gas dan intens mengisi orasi mimbar bebas di Jalan Diponegoro hingga menjelang peristiwa 27 Juli. Selain baksos keliling Indonesia, beberapa kegiatan, mencoba melawan dan menentang rezim kekuasaan dilakukan bersama kawan-kawan dan gerakan perubahan lain sebisanya pada saat itu, dan terus berlanjut hingga reformasi lahir.

Suatu ketika masih di tahun 1996, oleh Dekan diminta menjadi ketua rombongan mahasiswa mewakili Fakultas Teknik Untag Jakarta mengikuti program baksos di DI Aceh (masih berlaku Daerah Operasi Militer-DOM) oleh TNI Al bersama mahasiswa perwakilan UI, Unbraw, Lions Club dan berbagai organisasi lainnya. Sepanjang perjalanan dengan kapal laut Teluk Semangka milik TNI Al dan harus mengikuti SOP militer. Saya sering protes dan membangkang, baik kepada pimpinan program baksos maupun komandan armada (keduanya berpangkat kolonel) yang mengangkut peserta.

Hingga saat kapal sampai dan sandar di Pelabuhan Belawan Medan Sumut dalam perjalanan pulang, saya mencoba memimpin rombongan Fakultas Teknik Untag Jakarta kabur dari kapal menuju Padang Sumatera Barat tempat tinggal salah satu kawan. Sebagian lolos, sementara saya dan beberapa kawan tertangkap kabur. Selanjutnya saya dipertemukan dengan kedua pimpinan TNI Al yang memimpin ekspedisi itu. Terjadi dialog dan kesepakatan yang membuat saya dan rombongan yang saya pimpin lebih nyaman. Banyak yang bilang sudah bagus saya ngga dicemplungin ke laut atau dihilangkan pada saat itu, secara keberadaan dan kegiatan saat itu saya dan kawan-kawan dalam kekuasaan TNI Al.

Dari pengalaman itu, meski sering juga berinteraksi dengan elit militer dari kesatuan militer yang lain jelang peristiwa reformasi, termasuk di undang makan malam oleh Mayjend. Sutiyoso selaku Pangdam Jaya. Saya paham TNI Al memang beda, lebih persuasif dan humanis. Jadi teringat sejarah dan cerita senior-senior, yang menggambarkan suasana “Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO – merah kata Bung Karno, merah kata KKO. Hingga tanpa sadar dan sepengetahuan saya, TNI Al mengirim petugas perwira berpangkat kapten memantau dan mengamati segala aktifitas saya sepanjang tahun 1996 hingga 2000. Informasi dan pengakuan itu, langsung disampaikan oleh sang kapten di tahun 2001 yang ternyata sengaja terdaftar dan aktif sebagai mahasiswa Untag Jakarta.

Dari situ saya baru sadar juga, waktu seorang tokoh intelelejen dari TNI Al yang bernama Juanda (biasa dipanggil Mr. J dan dikenal sebagai pembisik presiden Gus Dur, sekarang almarhum), melalui kawan yang tokoh aktifis 98 bernama Sarbini, meminta untuk bertemu saya usai peristiwa reformasi 98. Ternyata pertemuan saya dengan Juanda pada saat itu terkait ketika saya melawan Mr. Tong Djoe seorang taipan yang dekat dengan Soekarno dan dekat juga dengan Soeharto, pengusaha China yang besar di Indonesia sebelum era 9 naga.

Baru engeh saya kalau Indonesia itu luas tapi sempit. Besar tapi mudah ditakluki dan bebas tapi terkekang. Tapi sejauh ini Bravo TNI Al, terutama saat pendudukan gedung DPR/MPR, dimana saya bersama tak terhitung mahasiswa dan elemen perubahan lainnya, melewati malam yang diterpa isu akan digulung militer.

Penulis: Yusuf Blegur (Pemerhati Sosial,Mantan Aktivis FKSMJ 98).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top