Anies; Gubernur Rasa Monas - strategi.id
Corong

Anies; Gubernur Rasa Monas

Strategi.id-Anies; Gubernur Rasa Monas
Strategi.id-Anies; Gubernur Rasa Monas

Strategi.id- Anies Baswedan itu piawai. Jejak rekam prestasi akademiknya membuktikan itu semua. Belum lagi narasi-narasi yang diviralkan sarat dengan retorika akademis terus mengalun dalam rangkaian tutur kata yang indah. Sulit untuk membantah bahwa memang ia piawai.

Lompatan-lompatan karier politiknya pun ikut menguatkan bahwa ia memang pribadi yang piawai sekaligus ambisius.

baca juga :Tommy Suharto Menutup Pelatihan SAR Benteng Berkarya Rescue Indonesia

Dengan segala kepiawaiannya, ia mampu dengan lincah melakukan akrobat politik dengan indahnya. Bagaimana dengan pesona retorikanya ia mampu mempecundangi Yudi Latief dalam proses pemilihan Rektor Paramadina.

Langkah politik Anies melalui konvensi capres Partai Demokrat juga menyisakan korban akibat kepiawaian silat lidahnya. Gita Irawan Wirjawan yang dikenal dekat dengan Anies sekaligus pendukung utama Anies sewaktu naik menjadi Rektor Paramadina, akhirnya dihabisi oleh ketelengasan retorika Anies terkait mundurnya Gita Wirjawan sebagai Menteri Perdagangan demi mengikuti konvensi capres Partai Demokrat.

Tak hanya itu, bagaimana ia bermanuver dari Menteri Pendidikan yang tak sampai seumur jagung di Kabinet Kerja Jokowi sebelum akhirnya direshuffle dengan Muhajir Effendy, lalu ia muncul menjadi lawan politik Basuki Tjahja Purnama (BTP) di Pilkada DKI 2017.

baca juga :Chemistry Gagasan Nadiem Makarim dan Eka Supria Atmaja

Hebatnya ia bisa mempecundangi BTP yang didukung oleh Jokowi, mantan Bossnya semasa di Kabinet Kerja dengan mendapat dukungan penuh dari kelompok yang menjadi lawan politik Jokowi di Pilpres 2014.

Para pendukungnya yang kontra Jokowi seolah mengalami amnesia politik hingga lupa bahwa Anies Baswedan tadinya merupakan salah satu Juru Bicara di tim kampanye Joko Widodo-Jusuf Kalla di Pilpres 2014 hingga membuatnya duduk sebagai Menteri Pendidikan.

Tentu ambisi politik Anies tak hanya selesai sampai dengan DKI-1. Meski Anies masih menyimpan dendam politik terhadap Jokowi karena mereshuffle dirinya sebagai Menteri Pendidikan, toh di sisi lain ia berharap bisa meniru jejak langkah Jokowi yang menapaki milestone ke tampuk RI-1 melalui kursi DKI-1.

baca juga :Siti Fadilah Yakin Ahli Indonesia Bisa Deteksi Virus Corona

Sedemikian piawainya langkah-langkah politik Anies Baswedan dengan rekam jejaknya yang luar biasa, sampai-sampai sulit untuk bisa diterima akal sehat jika sekaliber Anies Baswedan bisa gagal mengantisipasi banjir yang melanda hampir seluruh DKI hingga menyebabkan kelumpuhan aktifitas sehari-hari disertai kerugian harta benda yang sangat besar.

Akibat buruknya penanganan banjir yang dilakukan oleh Anies selaku Gubernur DKI, Presiden Jokowi sampai harus memerlukan turun sendiri ke lapangan untuk memeriksa kesiapan pompa-pompa air yang selama ini telah terpasang di periode pemerintahan sebelum Anies.

Bahkan akhirnya soal penanganan banjir terpaksa diambil alih oleh pemerintah pusat mengingat selain posisi strategis DKI sebagai ibukota negara, juga luasan wilayah banjir yang meliputi Jabodetabek.

Belum selesai masalah banjir, tiba-tiba mencuat berita tentang penebangan sejumlah 191 pohon di Monas yang dilakukan oleh Dinas Cipta Karya Tata Ruang dan Pertanahan (CKTRP), Dinas Citata DKI Jakarta dengan judul revitalisasi Monas. Atas seijin Anies tentunya.

Baca Juga :Politisi PDIP Gani Suwondo: Kalau Gentleman, Sebaiknya Anies Mundur

Pro dan kontra terkait penebangan pohon belum usai, sudah merebak lagi berita kontroversial yang lain. Anies mengumumkan penyelenggaraan balap mobil Formula E yang rencananya akan digelar di Monas tahun ini. Formula E diselenggarakan dengan memangkas dana revitalisasi GOR dan stadion sebesar Rp320,5 miliar di Dispora DKI Jakarta termasuk juga pemangkasan alokasi sebesar Rp455,4 miliar untuk rehabilitasi sekolah di Disdik DKI Jakarta.

Yang terbaru, masih dengan judul revitalisasi, setelah Monas lagi-lagi Anies bermanuver dengan melakukan revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM) yang selama ini menjadi pusat kegiatan seni Indonesia, khususnya Jakarta. Konon Anies ingin menyulap kawasan TIM menjadi pusat kesenian dan kebudayaan bertaraf internasional dengan fasilitas hotel bintang lima. Kali ini Anies mendapat perlawanan langsung dari kalangan seniman yang mengadukan kasus ini ke Komisi X DPRRI.

Tentu dengan kepiawaian seorang Anies, pastinya dalam setiap pengambilan keputusan politik selaku DKI-1, ia akan mempertimbangkan dengan saksama setiap langkah politiknya. Termasuk juga ia tahu persis bahwa banjir merupakan ancaman utama yang bisa melumpuhkan ibukota.

Artinya, ketika banjir melanda DKI dengan ekstrim, pusat pemerintahan juga akan ikut lumpuh akibat banjir. Pada konteks itu, buruknya penanganan banjir akan berakibat pada hampir seluruh wilayah Jakarta berpotensi terendam banjir. Jika itu terjadi, yakinlah jika itu bukan akibat kebodohannya, melainkan merupakan langkah politik yang dilakukan dengan cermat dan saksama untuk membuatnya langsung berhadap-hadapan secara diametral dengan RI-1, Jokowi.

Kebijakan Jokowi dan BTP di periode kepemimpinan DKI-1 sebelum Anies sengaja ditabrak secara vulgar oleh Anies dengan melakukan pembolehan terhadap PKL untuk berjualan di trotoar jalan-jalan utama DKI semata demi mencitrakan dirinya seolah seorang populis yang pro-rakyat.

Baca Juga : Sejumlah Tokoh Hadir Dalam Reuni Akbar Alumni 212 di Monas

Demikian pula dengan apa yang terjadi di Monas. Baik terkait soal penebangan 191 pohon, maupun penyelenggaraan Formula E. Melalui manuvernya, Anies sebenarnya hanya ingin menyampaikan pesan kepada Jokowi bahwa Monas yang ada di hadapan Istana Merdeka, mutlak ada dalam kekuasaannya sebagai gubernur DKI.

Demi ambisi politiknya, dengan dingin dan telengas Anies menghalalkan langkah-langkah politik apapun untuk bisa menempatkan dirinya berhadap-hadapan langsung secara diametral dengan Jokowi demi melambungkan popularitas dan elektabilitasnya.

Baca Juga : Jokowi Do’akan Aktivis 98 Adian Napitupulu Cepat Sembuh

Monas yang terletak persis di hadapan Istana Merdeka, bagi Anies yang saat ini menjabat sebagai DKI-1 tak lebih hanya sekadar medan perang Kurusetra yang harus dimenangkan sebagai bagian dari political vendetta sekaligus demi pemuasan ambisinya untuk menapaki karier politik yang lebih tinggi, RI-1.

Dengan kepiawaian yang dimilikinya maka tak heran bila di media sosial saat ini kerap berkumandang tagline “Gubernur Rasa Presiden.”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top