BPIP: Mewujudkan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab Melalui Pendidikan 70 - strategi.id
Dialektika

BPIP: Mewujudkan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab Melalui Pendidikan 70

Strategi.id - BPIP: Mewujudkan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab Melalui Pendidikan 70

Strategi.id – “Justru inilah prinsip saya yang kedua. Inilah philosofisch princiep yang nomor dua, yang saya usulkan kepada Tuan-tuan, yang saya namakan ‘internasionalisme’. Pidato Bung Karno dalam sidang BPUPK 1 Juni 1945.

Internasionalisme yang dimaksudkan Bung Karno, berbeda maksudnya dengan kosmopolitanisme. Internasionalisme yang dimaksudkan, Indonesia sebagai suatu Bangsa dan Negara tidak bisa terlepas dari pergaulan lintas bangsa dan negara yang ada di dunia. Begitupula bangsa dan negara lain, dalam pergaulannya tidak bisa meninggalkan Indonesia. Pergaulan lintas bangsa yang dijalin adalah pergaulan setara sebagai anggota atau komunitas dunia internasional.

Dalam pergaulan tersebut, tentunya ada nilai-nilai yang saling mempengaruhi antar Indonesia dengan negara lain, demikian pula sebalinya. Termasuk nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, yang diterima secara universal. Menanamkan keadaban bisa dilakukan melalui proses pendidikan. Pendidikan sejak dini, dilakukan di dalam keluarga dan pendidikan melalui lingkungan atau masyarakat sekitarnya. Dilanjutkan dengan pendidikan yang terlembagakan secara formal, yaitu melalui lembaga atau badan pendidikan seperti sekolah.

Namun, baik dalam keluarga, lingkungan masyarakat maupun lembaga pendidikan figur pendidik tidak bisa dinihilkan keberadaannya. Pendidik yang secara awam dipahami oleh masyarakat kebanyakan adalah guru. Sejatinya pendidik itu bukan hanya guru saja, seperti yang pernah dikatakan oleh Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara “jadikan setiap tempat sebagai sekolah dan setiap orang menajdi guru”. Setiap orang sebaiknya memposisikan diri sebagai guru sekaligus murid.

Ketika seseorang memposisikan diri sebagai guru dalam pengertian luas, dia akan menjaga sikap dan prilakunya ketika berhadapan dengan masyarakat umum. Sebagai seorang guru, dirinya memiliki kesadaran bahwa yang dilakukan bisa saja ditiru oleh banyak orang. Di lain sisi, dia harus memposisikannya sebagai seorang murid. Sebagai seorang murid, dia akan menjaga lakunya dan terus melakukan pembelajaran dalam kehidupan.

Di sinilah ungkapan Ki Hajar Dewantara soal kepemimpinan diterapkan, “Ing Ngarso Sung Tulodo; Ing Madya Mangun Karso; Tut Wuri Handayani”. Ketika seseorang memposisikan dirinya sebagai seorang guru atau pendidik, dirinya akan cenderung memberikan contoh dan menjadi tauladan bagi orang-orang di sekitarnya. Ketika dirinya bearda di tengah-tengah masyarakat, dirinya akan menebarkan cinta kasih dan energi positif untuk membangun masyarakat. Juga ketika dirinya berada di belakang atau mengikuti, dirinya akan memberikan dorongan dan dukungan kepada orang lain untuk melesat maju.

Ki Hajar Dewantara juga berpendapat, pendidikan adalah pembudayan buah budi manusia yang beradab dan buah perjuangan terhadap dua kekuatan yang selalu mengelilingi hidup manusia (kodrat alam dan zaman/masyarakat). Selain menanamkan pengetahuan intelektual, pendidikan penting juga diarahkan kepada penanaman atau pembudayaan buah budi manusia yang beradab. Sejalan dengan sila kedua dalam Pancasila, kemanusiaan yang adil dan beradab.

Kemanusiaan yang adil dan beradab berbicara bagaimana suatu manusia memposisikan dan memperlakukan manusia atau sekelompok manusia lain seperti dia melakukan dirinya sendiri. Beradab bisa juga diartikan sebagai memanusiakan manusia. Salah satu dari tujuan pendidikan adalah memerdekakan manusia dari kebodohan. Setelah mengalami kemerdekaan, manusia memiliki keluhuran budi serta mampu merasakan derita orang lain. Manusia itu tidak lagi berfikir tentang dirinya sendiri, tetapi juga memikirkan tentang orang lain.

Rasa saling memikirkan satu sama lain inilah yang merupakan bentuk nyata dari kesetiakawanan. Kesetiakawanan bersumber dari semangat gotong royong, yang merupakan intisari dari Pancasila. Sistem pendidikan kita, baik formal, nonformal maupun informal, harus diarahkan kepada mendidik manusia yang adil dan beradab.

Nah, dalam menanamkan rasa kesetiakawanan dan adab sebagai seorang manusia, peranan guru sebagai pendidik yang sejati dalam proses pendidikan sangat diperlukan. Guru harus memposisikan dirinya sebagai sahabat bagi murid-muridnya. Tidak boleh ada jarak yang terlalu jauh antara guru dan muridnya, bahkan jika perlu guru harus berada di tengah-tengah muridnya untuk melakukan proses pendidikan. Seperti penggalam ungkapan Ki Hajar Dewantara, “Ing Madya Mangun Karso”, di tengah-tengah para murid guru bisa memberikan semangat yang membangun. Fungsi sebagai pendidik, bisa dilakukan secara maksimal dalam menanamkan rasa kesetiakawanan, berkeadilan dan keadaban sebagai manusia.

Jikalau itu sudah diterapkan di Indonesia, niscaya kesetiakawanan dan semnagat gotong royong akan semakin terpupuk serta di mudah ditemukan dalam seluruh kehidupan berbangsa dan bernegara. Di lain sisi, prilaku bullying atau individualistic yang hanya mementingkan diri sendiri, dengan sendirinya akan menghilang dari prilaku kalangan generasi penerus Bangsa Indonesia.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2020! Adilah sejak dalam pikiran, beradablah dalam tindakan dan perbuatan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top