BTN Sebut Telah Maksimalkan CAR ke Dalam Kredit - strategi.id
BUMN

BTN Sebut Telah Maksimalkan CAR ke Dalam Kredit

Strategi.id – Rasio permodalan perbankan yang tebal saat ini dinilai belum disalurkan secara maksimal ke dalam pertumbuhan kredit. Alasan utamanya adalah masalah likuiditas perbankan yang sampai saat ini masih terbilang ketat.

Meski begitu, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) menilai pihaknya bisa memaksimalkan permodalan lewat penyaluran kredit yang terbilang lebih cepat ketimbang industri. Direktur Resiko, Strategi dan Kepatuhan BTN Mahelan Prabantarikso menyebut posisi capital adequacy ratio (CAR) BTN per Maret 2019 ada di level 17,62% demikianlah dikutip dari kontan.co.id, Senin, (13/05/19).

Walau lebih rendah dibandingkan CAR secara industri sebesar 23,97% pada Maret 2019 lalu, perseroan menilai jumlah tersebut sudah jauh di atas batas bawah yang mesti dijaga oleh BTN dengan profil risiko II sebesar 9%.

Baca juga : Strategi BTN Kejar Target Akir Tahun Kredit Payroll Rp 6,2 triliun

Jumlah itu pun sudah memenuhi tambahan permodalan sesuai Basel III countercylical buffer sebesar 0-2,5%, capital conservation buffer sebesar 2,5% dan capital surcharge sebesar 1%-2,5%.

Bank bersandi saham BBTN ini menyebut, cara BTN memaksimalkan CAR adalah dengan meningkatkan profitabilitas bank, menerbitkan pinjaman atau obligasi, serta melakukan rights issue bila diperlukan.

Menurut Mahelan, kondisi CAR yang tebal secara industri saat ini disebabkan bank belum optimal dalam melakukan penyaluran kredit. “Kondisi tersebut berbeda dengan BTN, kami termasuk bank yang agresif dalam penyaluran kredit,” ujarnya kepada rekan media, Minggu (5/5/19).

Memang, per kuartal I 2019 lalu BTN membukukan pertumbuhan kredit sebanyak 19% secara year on year (yoy). Posisi loan to deposit ratio (LDR) pun juga lebih besar dibandingkan industri yakni di atas 100%.

Baca juga : BTN Targetkan Kontribusi Pendapatan Bancassurance Sebesar Rp65 Miliar

Menurut perseroan, masing-masing bank memiliki siasat sendiri dalam menyalurkan kredit. Hal tersebut tentunya tergantung dari kemampuan likuiditas dan mitigasi risiko.

“Angka ideal (CAR) dikembalikan pada kondisi masing-masing perbankan, berapa tingkat profil risikonya, berapa rasio LDRnya, serta perhitungan tambahan sesuai Basel III,” jelasnya.

Penurunan Laba UUS Bank BTN

Di tempat terpisah Direktur BTN Budi Satria mengatakan penurunan laba tersebut dikarenakan pada tahun ini BTN mengambil kebijakan yakni meningkatkan pencadangan untuk portofolio pembiayaan sebesar 1.266% secara year on year (yoy).

Kinerja unit usaha syariah (UUS) PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN, anggota indeks Kompas100) melambat di kuartal pertama tahun 2019. Hal ini terlihat dari pencapaian laba bersih UUS BTN yang menurun sebesar 73,96% dari pencapaian Maret 2018 Rp 116,32 miliar menjadi hanya Rp 30,29 miliar di akhir Maret 2019 lalu.

“Peningkatan pencadangan ini antara lain untuk mengantisipasi pemberlakuan PSAK 71 dan juga upaya untuk memitigasi risiko portofolio pembiayaan di tahun 2019,” katanya, Kamis (2/5/19).

Di samping itu, merujuk laporan keuangan perseroan, rasio non performing financing UUS BTN memang naik cukup tinggi dari 1,02% di kuartal I 2018 menjadi 4,82% di kuartal pertama tahun 2019.

Hasilnya, total aset BTN Syariah meningkat di kisaran sama 19,41% yoy menjadi Rp 27,84 triliun. Sementara dana pihak ketiga (DPK) tumbuh lebih lambat sebesar 15,72% menjadi Rp 21,66 triliun.

Budi menambahkan, untuk tahun ini UUS BTN menargetkan pembiayaan naik sebesar 14,87% yoy dan DPK dipatok tumbuh 12,78% dengan asumsi rasio dana murah (CASA) menjadi 38,55%. “Untuk target laba UUS BTN pada tahun ini bersifat moderat. Hal ini dikarenakan fokus UUS BTN tahun ini konsolidasi ke dalam,” tutupnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top