BTS McDonald dan Buku Besar Perilaku - strategi.id
Corong

BTS McDonald dan Buku Besar Perilaku

Strategi.id - BTS Mcdonald dan Buku Besar Perilaku

Strategi.id – Buku Besar Prilaku? Jadi begini di suatu sore, hari rabu 9 Juni 2021 kemarin, saya menerima whatsapp dari sahabat dengan foto gelas, tulisan BTS dan kemasan makanan berlogo McDonald berwarna ungu berikut pesannya begini: “ini menarik nih bro”.

Lah saya jadi bingung.

Apanya yang menarik ya? Saya lalu bertanya padanya: “apa ini bro?”

Melalui penjelasan sahabat tersebut, saya akhirnya mulai sedikit memahami mengapa meal BTS ini jadi sesuatu yang “heboh” dan “viral” di. Konon BTS meal McDonald ini adalah hasil kolaborasi McD dengan BTS group band asal korea yang tentu saja sedang digandrungi oleh para penggemarnya (BTS Army) di seluruh dunia.

Saking diminatinya, penjualan BTS meal ini menyebabkan antrian ojol yang sangat panjang di gerai McDonald dimana-mana.

Tak hanya itu, bahkan gelas dan kemasan meal BTS ini dijual di lapak-lapak marketplace yang ada dengan harga yang fantastis.

Di lapak-lapak market place tersebut, konon ada yang menjual kemasan meal McDonald BTS ini hingga 1,5 juta rupiah. Di shope misalnya, paket meal BTS dijual dengan range harga Rp. 75.000 s.d Rp. 385.000.

Sementara itu untuk penjualan satuan, gelas coke BTS Mcd dijual dengan range harga Rp. 30.000 s.d Rp. 350.000; kemasan kotak nugget pada kisaran harga Rp 35.000 s.d Rp 50.000 dan paper bagnya antara Rp 20.000 s.d Rp. 1.500.000.

Sensasi McDonald BTS tak hanya sampai disitu. Beberapa gerai bahkan harus memanggil polisi atau ditutup atas pertimbangan protokol kesehatan karena begitu sesaknya pengemudi ojol yang melakukan pesanan.

Apa isinya beda banget gitu ya?

Enggak juga sih. Katanya sih, Meal BTS ini berisi nugget, kentang goreng dan Coke yang membedakan mungkin hanya saos cajun dan sweet chilli sausnya gitu.

Wuih wuih wuih…

Itu baru dari sisi hiruk pikuknya pesanan aja loh. Nah lalu bagaimana pula dari sisi BTS dan McDonaldnya sendiri.

Yang jelas, bisa dibayangkan berapa jumlah uang yang bisa didulang oleh BTS sekaligus McDonald dari hal ini.

Nah pertanyaannya sekarang.

Seandainya saja kamu beli nih ya, bagaimana pengaruhnya buat BTS, McDonald dan juga kamu sendiri?

Apakah kamu membayarnya melalui dompet digital yang ada di akun gopay, ovo atau shopeepay kamu? Atau kamu membayarnya secara tunai gitu?

Entah kamu membayar tunai atau menggunakan dompet digital, ya aset kamu dalam bentuk kas/digital cash akan berkurang (dibukukan di sisi kredit), namun asset dalam bentuk yang lainnya (BTS meals) akan bertambah (dibukukan di sisi debet).

Sementara itu bagi BTS dan McDonald, aset atau harta mereka akan bertambah dalam bentuk kas (dicatat pada sisi debit). Pada saat yang sama, penjualan mereka bertambah (dicatat di sisi kredit).

Sebagai akibatnya, sisi ekuitas (kekayaan bersih) BTS dan McDonald pun bertambah (dengan asumsi tambahan biaya produk kolaborasi ini tak melebihi tambahan laba yang diperoleh dari hasil transaksi penjualannya).

Skema seperti inilah yang disebut sebagai double entry accounting.

Double entry accounting ini digagas oleh Lucca Pacioli di abad pertengahan melalui karyanya “Summa De Arithmetika Proportioni et Proportionalita”.

Sejarah penggunaan catatan numerikal untuk transaksi ekonomi yang telah dimulai sejak 7000 tahun lalu di mesopotamia sampai dengan kehadiran Bank “modern” di abad 14 di Florence Italia yang dimulai oleh keluarga medici, mendorong Pacioli untuk menyusun konsep double-entry system (sistem pembukuan berganda dengan sisi debit dan kredit).

Pacioli lalu mengungkapkan 3 (tiga) komponen kunci sistem double entry accountingnya ini, yakni:

(1) Memoriale (memorandum)
(2) Giornale (jurnal, pencatatan)
(3) Ledger (buku besar)

Nah di sini lah menariknya (emang apa yang menarik dari akuntansi ya?).

Ledger (buku besar) dalam berbagai formatnya sejak saat itu semakin banyak digunakan untuk merekam berbagai aktivitas ekonomi dan hubungan finansial.

Tak hanya itu, ledger juga digunakan sebagai dasar untuk mengetahui jumlah total sekaligus rincian harta, hutang dan selisih antara harta dan utang (yang disebut kekayaan bersih) dari individu atau entitas tertentu.

Sehingga kemampuan seseorang atau entitas bisnis untuk mengelola dan menumbuhkembangkan modalnya pun jadi semakin membaik.

Jadi semua transaksi atau aktivitas ekonomi yang terjadi pada suatu saat tertentu dicatat dalam ledger (buku besar).

Apa yang dicatat dalam buku besar (ledger) paling tidak harus meliputi jumlah (dalam nilai uang), waktu dan deskripsi dari aktivitas atau transaksi ekonomi yang terjadi.

Untuk itu ledger juga harus memenuhi kriteria kualitatifnya sendiri seperti dapat dipercaya, valid (tak mudah diubah2 oleh pihak yang berkepentingan), tepat waktu, dapat cepat dipindahbukukan, tak mudah dimanipulasi dan terdistribusi dengan baik oleh pihak yang berkepentingan.

Nah dalam konteks BTS, berapa banyak kopi rekaman digital yang terjual, nilai endorsement, nilai co-branding, kontrak manggung termasuk hasil penjualan meals bersama McDonald akan dicatat via jurnal (giornale tadi) untuk kemudian dimasukkan ke dalam masing buku besar – buku besar pembantu (sub-ledger) penjualan.

Karena sumber-sumber pendapatan BTS mungkin begitu banyak, maka buku besar pembantu (sub-ledger) yang digunakan pun banyak.

Sementara untuk orang seperti saya, karena tak (eh belum) sehebat BTS, sub-ledger pendapatannya pun jauh lebih sedikit. Hal ini terjadi tentunya karena frekuensi dan sumber-sumber revenue stream yang tak sebanyak BTS.

Ini adalah penjelasan tentang ledger atau buku besar dalam versi yang sempit dan konvensional loh ya.

Namun ledger (buku besar) kini telah berubah sehingga tak hanya dalam bentuk catatan di atas kertas.

Di era kekinian, arsitektur buku besar telah merambat ke dalam wilayah digital. Buku besar digital memungkinkan transaksi jual beli dapat dilakukan secara tepat, akurat, melewati batas-batas fisik dan cepat melalui aktivitas pemindahbukuan elektronik.

Ledger kekinian juga memungkinkan dicatatnya beragam muatan dan informasi yang bisa jadi berpotensi mendatangkan nilai di masa depan.

Perkembangan ini telah memberikan peluang bagi individu-individu untuk membukukan (baca: merekam) jejak dan identitas diri seperti potensi, pengalaman, kompetensi dan portofolio karyanya dengan lebih utuh secara individual.

Hal seperti ini dipercaya memampukan terjadinya akumulasi modal melalui kapitalisasi, monetisasi, pemberdayaan dan “kemerdekaan” diri secara individual.

Ledger oleh karenanya menimbulkan dimensi psikologis dan perilaku yang lebih besar dari yang sebelumnya dapat dibayangkan.

Konon, kira-kira 1,7 milyar orang di dunia belum bankable sehingga kemampuan mereka dalam mengakses jasa perbankan dan modal pun menjadi hampir nihil.

Jika begini, maka teknologi buku besar digital bisa digunakan sebagai alat demokratisasi (pemberdayaan diri) dan desentralisasi keuangan (DEFI, decentralization of finance).

Jadi tak hanya individu atau kelompok-kelompok tertentu seperti BTS yang dengan buku besarnya yang kuat saja yang berkemampuan untuk memonitesasi identitas diri agar jadi sumber “modal” atau “kekayaan bersih” agar makin bertumbuh besar.

Namun, saya dan kamu pun mungkin bisa meramu dan mengelola identitas diri via ledger digital yang berfungsi sbg penyimpan nilai (store of value) dan platform kolaborasi yang bersifat universal.

Saya oleh karenanya mungkin bisa menjadi BTL (eehh kok…?).

Atau kamu pun mungkin bisa meramu portofolio identitasmu sendiri entah sebagai pencipta lagu, peramu konten, pemusik, fotografer landscape, desainer grafis dll ke dalam buku besar digital kelolaan sendiri yang aman, efisien, efektif (tepat sasaran), interoperable dan valid sehingga dapat dipercaya.

Dengan begini, maka peluang pemberdayaan diri bagi sekitar 1,7 milyar penduduk dunia tadi diharapkan dapat lebih terbuka lebar.

Dalam kondisi seperti ini, masyarakat tak lagi “sepenuhnya” harus mengandalkan “belas kasihan” para elit politik (siapa pun dan dari pihak manapun itu), pihak pengelola (lagi lagi siapa pun dan pihak manapun itu), perbankan, validator atau berbagai sosok perantara lain yang tentunya memiliki beban overheadnya sendiri-sendiri.

Para pihak yang membutuhkan sumber-sumber daya dapat memperolehnya via mekanisme P2P (peer to peer) yang minim campur tangan pihak ketiga sehingga lebih efisien.

Bayangkan saja jika kamu misalnya membutuhkan modal untuk usaha yang menurut kamu bisa menghasilkan imbalan 20 persen.

Kamu mungkin harus merelakan paling tidak 12,5 – 15 persennya untuk pihak bank atau pemberi dana (biaya dana) yang tentu punya beban overhead (biaya penyusutan kantor, verifikasi data, kunjungan, pajak dan analisa kredit) dan porsi marginnya sendiri.

Kondisi ini pada akhirnya dapat menurunkan perceived affordance (persepsi atas kemampuan) untuk berusaha dan berinvestasi.

Dari sisi pihak yang memiliki dana pun demikian. Dana yang disimpan di bank kini hanya dapat menghasilkan tingkat bunga yang semakin rendah dan makin tergerus dengan berbagai bentuk potongan (beban administrasi intermediasi dan supervisi).

Kehadiran bank dan berbagai pihak ketiga lainnya bisa semakin terdisrupsi kendatipun kecenderungan ini tentu tak akan dibiarkan begitu saja dengan tanpa perlawanan.

Aturan yang makin njelimet dan berlapispun demikian. Ia dapat membebani perceived affirdance dan simulasi pikir.

Kini, teknologi telah menggantikan peran manusia dan petunjuk fisik lainnya dalam memandu dan memicu perilaku tertentu (termasuk perilaku adopsi teknologi buku besar digital).

Meredupnya kehadiran fisik manusia dan konteks fisik lainnya berimplikasi pada bertumbuh suburnya aplikasi yang tentunya tak mudah untuk ditelusuri dan dinavigasi.

Lagi pula 1,7 milyar penduduk yang belum bankable tadi, kamu, begitu pun saya, belum tentu punya atensi dan ketertarikan yang sama besarnya terhadap suatu hal tertentu (kendatipun itu penting dan mungkin relevan loh ya).

Bayangkan, brandwatch.com dalam laporannya per tanggal 30 Desember 2019, mengungkapkan bahwa tiap penduduk dunia rata-rata memiliki 7,6 akun sosial media.

Dalam setiap harinya Facebook messenger dan whatsapp menangani sekitar 60 milyar pesan. Sementara 3,2 milyar gambar dishare via platform digital setiap harinya. Setiap hari pula, FB menambahkan 500.000 pengguna baru. Selain itu, diperkirakan ada sekitar 270 juta profile palsu di FB.

Pada sisi lain, catatan juga mengungkapkan bahwa terdapat sekitar 500 juta twit di twitter setiap harinya atau kira-kira 6.000 tweet setiap detiknya!

Sementara 500 jam konten di upload via youtube dalam setiap menit.

Pada sisi lain, tiap-tiap orang memiliki response saliency yang berbeda-beda pula. Sehingga kita cenderung bisa memberi atensi yang berbeda dari suatu konteks yang sama.

Dalam hal McDonald BTS meal misalnya bisa sangat peduli dengan nilai uang yang didulang. Sebagian yang lain mungkin hanya memperhatikan design kemasannya. Yang lain mungkin lebih memperhatikan efek euforianya. Sementara sebagian yang lainnya bisa saja lebih menaruh perhatian antrian panjang ojol di gerai-gerai McD.

Dengan begitu banyaknya aplikasi dan minimnya interaksi fisik, maka atensi dapat menjadi semakin minim dan terpecah-pecah.

Dalam kondisi seperti ini, apa yang sesungguhnya penting dan sangat dibutuhkan pun bisa jadi luput untuk diberi atensi. Mencoba sesuatu yang belum dikenali dan belum jadi kebiasaan, juga tak mudah untuk dilakukan.

Sebagai akibatnya, kamu bisa saja lebih banyak menghabiskan waktu di social media secara tanpa sadar, ketimbang mungkin menggunakan, menciptakan dan mengupload konten yang berdampak bagi diri sendiri dan orang lain.

Kita bisa jadi lebih sering memberi komentar negatif di sosial media ketimbang mengkonfigurasi diri agar jadi lebih baik dan berdampak.

Ketidaktahuan, kurangnya pemahaman dan rendahnya ketrampilan bisa meredupkan motivasi untuk menggunakan teknologi yang relevan dan berdampak.

Untuk itu kemudahan dalam penggunaan, daya tarik emosional, kehadiran pada momen yang tepat (saat dibutuhkan), narasi yang relevan dan keterkaitannya dalam membangun rasa percaya dan identitas merupakan tantangan desain perilaku adopsi teknologi yang harus dipertimbangkan dengan seksama.

Aturan pun kini bisa diterjemahkan dalam bentuk kode (law as code) yang berperan sebagai salah satu pembingkai teknlogi buku besar.

Sebagian dari sejarah hidup kita kini telah menjelma jadi catatan dalam buku besar perilaku digital yang terbentang luas dalam dunia maya.

Dalam hal ini, perilaku membentuk konteks, sekaligus dibentuk oleh konteks.

Perilaku oleh karenanya dapat dibukukan dalam kategori “harta”, “hutang” atau kekayaan bersih (aset minus hutang) di buku besar digital yang kemudian dapat dipertukarkan dalam proses penciptaan nilai secara kolaboratif dan berkelanjutan.

Nah lalu bagaimana dengan buku besar kamu dan saya?

Apa yang ada dalam buku besar kamu itu sebagian besar terdiri dari menonton dan membeli produk-produk BTS, berkomentar julid di media sosial, berprasangka buruk atas sesuatu yang belum terbukti kebenarannya atau ada hal-hal yang lain?

Jadi apakah buku besar yang sudah kita catat dalam hidup sudah jadi ‘value creator’ atau ‘value destructor’ bagi diri sendiri dan orang lain?

Apakah juga kamu dan saya telah meramunya sehingga menjadi buku besar kehidupan yang merepresentasikan muatan nilai yang lebih bermakna dengan jejak perilaku yang lebih relevan dan berdampak?

Penulis Oleh: Novianta Hutagalung (Pemerhati Ekonomi Management).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top