Buka Dulu Topengmu - strategi.id
Corong

Buka Dulu Topengmu

Strategi.id - Buka Dulu Topengmu

Strategi.id – Kemanusiaan. Menjadi manusia saja, bukanlah kualitas terbaik. Itu hanyalah kualitas dasar.

Profesi medis, advokat, ekonom, aparat keamanan, politisi dan pemangku jabatan strategis lainnya. Dimulai sebagai upaya melayani dan menyelamatkan manusia.

Akan tetapi, dunia terlanjur dibentuk berorientasi pada kekuasaan dan uang. Hingga hari ini, tugas dan tanggung jawab mulia dalam menjalankan pengabdian untuk sesama, semakin tenggelam ke ujung dasar kehinaan. Pelayanan hanya bisa dinikmati orang berpunya. Urusan kepentingan dan Keselamatan hanya mungkin bisa dijangkau oleh orang-orang kaya. Bukan hanya sekedar dalam menikmati fasilitas pendidikan dan kesehatan,
bahkan kelayakan hidup menjadi sulit dijangkau bagi si miskin.

Kemanusiaan semakin terdegradasi, seiring berlomba-lombanya pemimpin dan pelayan publik mengejar materi dalam kompetisi yang bebas tanpa aturan, tanpa harga diri, tanpa kehormatan. Semua demi mengejar keuntungan dan kenyamanan pribadi. Tidak ada toleransi, tidak ada kepedulian, apalagi saling membantu. Pekerjaan dan tanggungjawab hanya dapat berjalan dari seberapa besar imbalan yang didapat. Sepanjang itu, hukum dapat dibeli dan harga kemanusiaan begitu murahnya. Tidak ada makan siang yang gratis, sepertinya sudah menjadi hukum yang tak tertulis.

Politik telah ditempatkan hanya sebagai strategi melindungi kepentingan bisnis, kesejahteraan kelompok dan kelangsungan ekonomi keluarga penguasa semata. Penyelenggara negara sepertinya terus abai dan membiarkan proses kerusakan kemanusiaan pada tahap yang akut.

Pemimpin pemerintahan lebih fokus pada pembangunan negara menara gading. Berbagai proyek mercusuar dan prestisius menjadi keharusan dan tidak boleh kalah oleh sesuatu yang lain. Itupun selalu disusupi dengan hasrat makelar mengejar fee proyek. Demi mengejar modernitas, rezim kekuasaan menjadi gelap mata dan hati dalam mengurus kebutuhan masyarakat yang lebih urghens dan fundamental. keselamatan dan kehidupan yang layak bagi rakyatnya tidak lebih penting dari sekedar gengsi dan gaya hidup elit kekuasaan.

Menangani Masalah Dengan Kosmetik dan Basa-Basi

Wabah pandemi (Covid19) yang mengglobal. Semakin menunjukkan wajah asli kepemimpinan pemerintahan suatu negara, baik dalam pencegahan dan penanganan maupun dalam hal menentukan skala prioritas keselamatan rakyatnya.

Berlarut-larutnya pengambilan keputusan dalam penanganan Covid-19, semakin membuktikan kelemahan kepemimpinan, menejemen yang amburadul, dan mirisnya masih banyak irisan kekuasaan yang mengambil keuntungan dari situasi darurat dan krisis itu.

Dari menjaga jarak sosial hingga pembatasan sosial berskala besar (bukan lockdown dan disebut kebijakan banci), pendataan warga penerima hingga distribusi bantuan sosial justru menimbulkan masalah baru diluar wabah tersebut. Tumpang-tindih dan masih banyaknya warga yang belum menerima bantuan, beresiko bukan hanya kehilangan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, tapi juga berpotensi menimbulkan kerusuhan sosial.

Banyaknya sektor jalur pendistribusian sembako yang harusnya berpusat pada pelayanan satu pintu, ikut berkontribusi pada kisruhnya pendataan dan pembagian sembako. Belum lagi anggaran besar yang dialokasikan melalui bansos Covid-19 rawan distorsi. Tak kurang beberapa institusi seperti BNPB, Polri, TNI, BIN dll., ikut terlibat dalam pendistribusian bantuan. Idealnya Kemensos yang harus menjadi leading sektor pendataan dan penyaluran bansos Covid-19 dengan melibatkan organisasi sosial dibawah payung kelembagaannya seperti PSM, TKSK, Tagana dan PKH dengan diperkuat data terpadu yang sudah diversifikasi dan validasi bersama BPS.

Seandainya pemimpin dan aparatur pemerintahannya bersungguh menangani wabah pandemik global ini, tidaklah perlu membangun eksistensi, apalagi sekedar menampilkan kosmetik dan berbasa-basi. Serahkan saja pada orang dan lembaga yang kompeten, kapabel dan akuntabel. Tidak semua pihak harus tampil dan menunjukkan seolah-olah peduli menjadi pahlawan. Bukan dengan cara itu membangun gotong royong. Gotong royong harus dihidupkan dari proses “bottom up” dan berbasis masyarakat, pemerintah menguatkan dengan regulasinya, dengan UU pro rakyat.

Rasanya juga tidak ada urghensinya, level seorang presiden harus membagikan sembako sembari menaiki mobilnya di jalan raya dan turun jalan kaki menyusuri gorong-gorong pemukiman. Kalau pun bisa, justru stafsus milenial yang tajir itu yang turun membagikan sembako. Ini bukan lagi masa kampanye atau untuk sekedar menampilkan pencitraan. Ini tidak relevan lagi untuk blusukan, ini waktunya pembuktian. Dia sudah seorang presiden tak ada lagi citra terbaiknya selain menderita dan berkorban buat keselamatan rakyatnya.

Kalau ingin menunjukkan simpati dan empati kepada rakyat, maka bekerjalah dengan keras dan cerdas, melahirkan kebijakan yang berdampak pada kemudahan rakyatnya, gunakan seluruh kewenangannya untuk melayani sebaik-baiknya kebutuhan rakyat, perkuat konstitusi untuk melindungi dan menyelamatkan rakyatnya. Turunkan BBM, turunkan harga sembako, subsidi diperluas, hentikan semua proyek mercusuar dsb. Itu baru seorang pemimpin. Melayani dan membantu masyarakat, hendaklah jangan merendahkan masyarakat itu sendiri. Karena sesungguhnyalah dari uang rakyat dikembalikan ke rakyat.

Sudah sewajarnya pemerintah dan masyarakat juga bisa merasakan program bansos Covid-19 bisa dilakukan secara efisien dan efektif, mampu menekan pembiayaan negara yang jauh lebih besar, serta mampu melakukan monitoring dan evaluasi penggunaan anggaran ratusan trilyunan, dapat dipertanggungjawabkan dan benar-benar manusiawi pelaksanaannya.

Semoga pemimpin dan pejabat di negeri ini, bisa kembali ke jalan yang benar dan bisa membawa negara ini keluar dari wabah pandemi (Covid-19) dan bangkit dari krisis multifimensi yang menyertainya.

Penulis: Yusuf Blegur (Pemerhati Sosial)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top