Buru, Antara Lumbung Pangan dan Lumbung Racun. – strategi.id
Corong

Buru, Antara Lumbung Pangan dan Lumbung Racun.

Buru, Antara Lumbung Pangan dan Lumbung Racun
Buru, Antara Lumbung Pangan dan Lumbung Racun

Strategi.id – Komitmen pemerintah daerah dalam menjadikan Kabupaten Buru sebagai lumbung pangan Nasional dikawasan timur Indonesia mulai menggebu pasca kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengikuti panen raya pada maret 2006 yang lalu.

Saat itu pembangunan bidang pertanian mengalami proses peningkatan dan percepatan. Sawah-sawah baru terus dicetak, bendungan dan irigasi terus dibangun, balai pertanian terus dioptimalkan fungsinya dan pertanian organik terus dijajaki.

Dengan semangat yang bergelora pemerintah daerah mampu mempertahankan dan memposisikan sektor pertanian sebagai salah satu sektor yang menjadi pemantik atas kedatangan Presiden Joko Widodo pada (7/5/2017) lalu untuk melakukan penanaman perdana di kecamatan waiapo Kabupaten Buru.

Tak tanggung-tanggung pada kesempatan berpidatonya di hadapan jajaran pemerintah daerah, petani dan warga masyarakat Kab. Buru, Presiden Jokowi berjanji akan membantu memperluas lahan sawah rakyat dari 4, 702 Ha menjadi 10, 000 Ha.

Terlepas dari pada itu bantuan yang bersumber dari APBN guna menggenjot pembangunan sektor pertanian terus dikucurkan oleh pemerintah pusat ke masyarakat Kabupaten Buru terus dilakukan.

Ambigu Lumbung Pangan

Akan tetapi, tekad Presiden Jokowi untuk menjadikan kabupaten Buru sebagai pengeskpor beras terbesar untuk Maluku dan kawasan timur Indonesia seakan menjadi harapan tampa makna, pasalnya setiap upaya dan agregasi peningkatan pembangunan sektor pertanian sama berimbang dengan biasnya sistim manajemen pengelolaan tambang emas gunung botak yang justru menjadi bomerang bagi pembangunan pertanian di Kabupaten Buru itu sendiri.

Penemuan tambang emas gunung botak yang muncul ke permukaan publik pada november 2011 lalu menjadi magnet bagi masyarakat, baik yang ada di dalam daerah maupun berbagai daerah lainya. Dengan sistem kerja yang relatif cepat kemudian didukung dengan hasil yang besar menjadikan profesi penambang emas menggiurkan bagi setiap orang.

Banyak warga masyarakat Kabupaten Buru mulai meninggalkan profesi awalnya untuk berbondong-bondong menjadi penambang. Tak ketinggalan, para petani padi sawah yang notabenenya bertahan hidup dengan cara bercocok tanam ikut beramai-ramai beralih profesi menjadi penambang. Hal ini tentunya bukan menjadi sesuatu yang tidak aneh, apalagi secara geografis posisi tambang gunung botak berada tepat dilembah waiapo sehingga akses jalan bagi para petani sawah untuk menuju kesana terbilang cepat.

Tragedi yang terjadi akibat dampak pertambangan liar gunung botak menjadi kemelut beberapa tahun terakhir. Nestapa pun melanda segala sub sektor pembangunan, apalagi dari sektor pertanian yang konon menjadi komoditi unggulan kabupaten Buru. Eksodus besar-besaran para petani menjadi penambang beberapa tahun lalu mengakibatkan banyak lahan pertanian ditelantarkan, tanaman menjadi kering tak terurus, gagal panen dan mengalami penurunan produktifitas.

Suburnya Lumbung Racun

Terlepas dari dari dampak eksodus petani yang kini semakin membaik, produksi pertanian di dataran waiapo masih dalam bayang-bayang kehancuran. Penyebaran bahan berbahaya dan beracun (B3) yaitu mercuri dan sianida yang digunakan untuk pengolahan emas, diduga masih tak terbendung dilancarkan oleh para mavia dan penambang-penambang emas ilegal disekitar kawasan gunung botak.

Bahan mercuri dan sianida ini digunakan disekitar aliran sungai yang selama ini menjadi sumber air pertanian.
Maraknya pemberitaan terkait suburnya penyebaran (B3) di berbagai media local maupun Nasional dan dugaan kuat dampak-dampak matinya hewan-hewan ternak warga dibeberapa titik sekitar areal pertambangan, hal ini akan memberikan dampak langsung bagi nilai jual produk-produk peternakan, perikanan bahkan pertanian sendiri. Masyarakat baik yang didalam maupun diluar

Kabupaten Buru akan timbul rasa angsi untuk membeli dan mengkonsumsi hasil-hasil alam yang bersumber dan dikelola di Kabupaten Buru.
Kabupaten Buru sebagai kawasan lumbung panganpun kemungkinan besar akan menjadi mimpi dan harapan yang pupus. suburnya penyebaran dan penggunaan sianida dan mercuri seakan-akan menggatikan visi-misi Negri ini sebagai lumbung pangan menjadi lumbung racun. Ancaman akan terjadinya flash-back tragedi minamata di Kab. Buru menjadi nyanyian yang sudah tak asing ditelingan warga.

Mencari Pengkhianat Intruksi Presiden

Tidak bermaksud menunjukan sikap pesimis akan masa depan Negri ini, namu jika seandainya setiap komponen yang berhubungan langsung dengan kejadian suburnya lumbung racun di Kab. Buru ini memiliki kesadaran akan setiap kebijakan dan peraturan perundang-undangan dan keprihatinan akan masa depan masyarakat, tentunya tidak akan ada bayangan-banyangan ketakutan seperti yang sekarang terus menghantui.

Syahwat mencari untung secara pribadi sangat kental dan jelas terlihat dalam fenomena ini. Tak heran instruksi seorang Presiden untuk segera menutup pertambangan ilegal itu saat melakukan kunjunganya ke Kabupaten Buru terkesan dikhianati. Lantas siapakah yang harus dituduh menjadi dalang dalam cerita gamelang suburnya lumbung racun di negri Bupolo.

Mencari sang aktor penghianat intruksi Presiden ini diibaratkan sama dengan mencari jarum di dalam tumpukan jeram. Kejahatan ini terkesan sangat terstruktur masif dan sistematis, kita tak mampu membedakan siapa yang berperan sebagai malaikat dan siapa yang berperan menjadi iblis.

Kejahatan ini jika benar adanya terlaksan dengan terstrukstur masif dan sistematis, maka hanya keajaiban tuhan yang dapat menyelamatkan masyarakat dan masa depan anak – cucu negri ini. Dan jika tuhanpun tidak menunjukan keajaibanya maka sudah barang tentu masa depan Negri ini sudah ditakdirkan sebagai sebuah cerminan kehancuran tragedi minamata.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top