Buruh dan Pendidikan Industrial - strategi.id
Corong

Buruh dan Pendidikan Industrial

Strategi.id - Buruh dan Pendidikan Industrial

Strategi.id – Merayakan Hari Buruh Sedunia dan Hari Pendidikan Nasional Dengan Perasaan Terjajah. Dua hari mengawali bulan Mei, dunia dan bangsa Indonesia tidak pernah lepas perhatiannya dari tema klasik yang masih menyisakan diskursus panjang hingga hari ini dan masa-masa mendatang. Pertama, soal buruh yang dirayakan sedunia dan dikenal sebagai “May Day” yang jatuh pada tanggal 1 Mei. Sehari setelahnya, tepatnya tanggal 2 Mei, negara kita memperingati hari pendidikan nasional.

Ada apa dengan persoalan buruh dan masalah Pendidikan ditilik dari aspek yang lebih luas lagi?. Secara momentum, melihat dengan kasat mata, peringatan hari buruh sedunia dan hari pendidikan nasional yang berdekatan, mungkin hanya kebetulan saja waktunya. Namun demikian, kalau dipelajari secara aspek historis maupun struktur kelembagaan dan pertumbuhannya. Persoalan buruh dan masalah pendidikan memiliki korelasi yang dalam dan mata rantai yang tak terpisahkan.

Setelah isu-isu global yang mengangkat tuntutan kemerdekaan nasional dan cita-cita kemakmuran. Hampir semua negara dibelahan dunia terutama memasuki abad 20, tak bisa menghindari konsekuensi perubahan jaman yang diwarnai oleh pembahasan seputar kebebasan dan demokratisasi, HAM dan Lingkungan hidup dan pelbagai hasil kebijakan dari konvensi internasional yang menghilangkan batas-batas negara baik secara sosial ekonomi, sosial politik maupun sosial pertahanan dan keamanan dalam trend globalisasi.

Pun demikian, pergeseran dunia dari pergerakan politik dan ekonomi yang dimanifestasikan dalam bentuk kolonialisasi dengan penciptaan konflik, peperangan dan penguasaan fisik ke arah yang lebih “soft and silence” dalam wujud investasi dan dengan metode liberalisasi. Dunia masih terus dan harus berhadapan dengan masalah substansi dari politik dan ekonomi global itu sendiri. Masalahnya adalah keadilan, dimana keadilan menjadi sesuatu yang utopis saat semua sektor kehidupan digerakkan oleh kapital.

Buruh dan Pendidikan dalam belenggu industri

Baik buruh maupun pendidikan, keduanya sama-sama mengalami nasib yang terkatung-katung dari tidak tuntasnya peradaban manusia merumuskan konsep pendidikan yang ideal yang bisa memanusiakan manusia. Bahwa ada asumsi pendidikan didesain untuk memenuhi lapangan kerja, menghindari orang dari pekerjaan kasar pada akhirnya menjadikan sasaran pendidikan untuk menjadikan orang belajar berdagang dan menjadi kaya. Sejatinya, pendidikan harus bisa membawa orang dalam pikiran dan kesadaran untuk mencapai satu titik, dimana semua orang hidup seperti layaknya manusia. Dimana pendidikan dapat menjadi bagian dari peradaban yang mampu membawa semua manusia dapat hidup berdampingan, saling mengisi dan terus dalam kebaikan. Sudah sejak lama para pemikir dan praktisi pendidikan masih terjebak dari perdebatan dan pergumulan panjang terhadap mana yang lebih tepat konsep pendidikan yang berlandaskan pragmatisme dan positivisme atau dengan marxisme?. Pendidikan tradisional atau pendidikan liberal?.

Begitu juga dengan fenomena buruh khususnya di Indonesia. Selain sudah dikangkangi oleh UU No 13 Tahun 2003, secara historis dan empiris buruh memang diciptakan hanya untuk memenuhi kebutuhan industrialisasi serta peningkatan kemampuan produksi saja, tidak dengan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan kemanusiaannya. Tanpa harus berkembang kecerdasannya, kemampuan intelektualnya dan semua potensi yang mampu menstimulus upayanya pada peningkatan kesejahteraannya, apalagi bicara kesetaraan. Begitulah nasib buruh, ia selamanya akan menjadi subkoordinat paling rendah dan paling lemah dalam industrialisasi. Buruh tak ubahnya seperti robot yang menyantap hidangan manusia.

Dari situ kita bisa menemukan mata rantai dari hubungan pendidikan dan buruh yang sesungguhnya menjadi salah satu produk dari distorsi sistem pendidikan itu sendiri. Seperti sekolah, buruh tak ubahnya tidak lebih menjadi skrup-skrup kapitalisme, ia menjadi remah-remah dari industri global. Gurita sistem yang hanya ingin memenuhi hasrat untuk meraih kepuasan material yang tak pernah terpuaskan.

Salam untuk semua buruh, salam untuk setiap sekolah. Semoga dapat menjadi alat pembebasan, menjadi alat keadilan dan menghidupkan kembali kemanusiaan.

Penulis oleh: Yusuf Blegur (Pemerhati Sosial).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top