Buruknya Kemampuan Matematika Pelajar Kita dan Dekonstruksi Sistem Pendidikan – strategi.id
Dialektika

Buruknya Kemampuan Matematika Pelajar Kita dan Dekonstruksi Sistem Pendidikan

Strategi.id- Nanang Djamaludin, Jaranan

Strategi.id- Di banyak ajang kompetisi matematika dan sains internasional yang digelar memang kerap kita dengar prestasi cemerlang yang diiraih para pelajar negeri kita, setidaknya dalam rentang lebih dari satu dekade terakhir ini, Meski di ruang-ruang obrolan terbatas beberapa kalangan pegiat dan pengamat pendidikan yang saya dengar ternyata cukup meragukan hasil pencapaian itu, yang mana diragukan pula kredibilitas lembaga penyelenggara kompetisi-kompetisi itu.

Sayup-sayup terdengar capaian prestasi pelajar negeri kita di bidang matematika dan sains pada ajang internasional selama ini sebagai bertemunya kepentingan pragnatis penyelenggara kompetisi dari mancanegara dengan kebutuhan “pencitraan” tertentu sektor pendidikan negeri kita. Tentu keraguan itu amat mungkin untuk dikonfirmasi melalui sebuah penelitian investigatif atas pelbagai ajang kompetisi matematika dan sains yang mana para pelajar itu dinyatakan memperoleh prestasi gemilang.

Baca Juga : Orangtua, Wajib Waspada Gejala Anak Terkena Diabetes

Apalagi jika menelisik hasil-hasil survei internasional dan nasional tentang kemampuan pelajar Indonesia di bidang matematika, bahasa dan sains, masih terus saja jauh dari membanggakan, jika tak ingin disebut buruk, tanpa perbaikan signifikans dari waktu ke waktu. Sebagaimana ditunjukkan oleh PISA (program for Internasional Studinya Assesment) beberapa kali dan terakhir pa 2015, juga TIMSS (Trends in Mathematic and Science Study) 2015, INAP (Indonesia Nasional Assessment Program), dan Studi Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) Kemendikbud tahun 2016,
Mengapa kemampuan matematika para pelajar kita dari waktu ke waktu begitu rendahnya seakan seperti kutukan melekat tak terhindarkan dari waktu ke waktu?

Dalam kajian JARANAN, hasil buruk kemampuan matematika pelajar kita itu merupakan keniscayaan dari proses pembelajaran matematika yang keliru, yang diterapkan secara massal dari tahun ke tahun di banyak sekolah, bahkan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Proses pembelajaran keliru itu diantaranya:

Pertama, dengan menyamaratakan gaya belajar setiap anak sebagai sasaran gaya mengajar guru. Di sini gaya belajar anak diartikan sebagai cara yang paling asyik dan sesuai bagi seorang anak dalam menerima suatu ilmu dan pemahaman, yang mana cara itu terkait dengan kecenderungan dari jenis kecefdaaan majemuk yang menonjol secara aktual dalam diri anak. Dan gaya mengajar guru adalah cara seorang guru mentransfer suatu ilmu atau pemahaman kepada muridnya.

Ketika gaya belajar anak yang sesungguhnya berbeda-beda itu dipaksa mengikuti gaya mengajar guru maka yang akan segera muncul adalah rasa bosan dan sebal para murid kepada si guru. Pemahaman dan kemampuan matematika para mutid pun tak pernah bersemayam masuk ke dalam memori otalnya, apalagi memori jangka panjangnya.

Baca Juga : Sandi Hanya Bicara Emak-Emak, Jokowi Sudah Bekerja Untuk Ibu-Ibu Prasejahtera

Guru, sebagaii seniman perangsang bagi aktualnya kecerdasan majemuk yang spesifik dari para muridnya, harus sebaliknya: menyesuaikan gaya mengajarnya dengan gaya belajar tiap muridnya yang berbeda-beda itu. Di situlah akhirnya pentingnya peningkatan kapasitas dan keterampilan para guru lewat program pelatihan kontinyu, yang mengarah pada kreativitas guru dalam hal gaya mengajar dan membuat “lesson plan” yang disenangi para muridnya.

Kedua, banyak guru di pelbagai daerah belum dirangsang kemampuan dan keterampilannya soal bagaimana menjadikan jenis kecerdasan majemuk paling menonjol pada diri seorang muridnya untuk dijadikan “pintu masuk” dalam mengasah pemahaman dan kemampuan matematika muridnya itu.
Misalnya, ada murid yang menonjol kecerdasan kinestetiknya ditengah minat dan perhatiannya pada pelajaran matematika yang belum tumbuh. Lantas lesson plan apa yang akan diterapkan seorang guru ketika harus memanfaatkan kecerdasan kinestetik muridnya itu sebagai pintu masuk yang akan membawa murid untuk
lebih meminati, bahkan menjadi lebih suka matematika. Tentu terbentang luas pilihan lesson plan-nya, yang terlalu panjang diurai di ruang terbatas ini.

Ketiga, belum terdapat sistim penjelas yang lengkap, sederhana dan mudah dimengerti para mutid di tiap jenjang pendidikan tentang apa, bagaimana dan mengapa setiap materi yang ada dalan pelajaran matematika itu penting dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Padahal hal itu penting untuk diketahui murid agar ia terhubung dengan kemanfaatan yang lbisa langsung dirasakan dari materi pelajaran matematika yang dipelajarinya dengan kehidupan sehari-hari.

Semisal, untuk apa sih manfaatnya belajar sinus, kosinus, dan tangen dalam kehidupan sehari-hari? Apa gunanya sih mengerjakan soal persamaan kuadrat bagi kehidupan keseharian selain untuk sebuah nilai di buku raport?

Tentu saja ketiga hal yang disebutkan di atas akan bernilai produktif jika diiringi perspektif bersama dari civil society negeri ini untuk menaikkan level dari sekedar pembicaraan ilmiah biasa menuju langkah nyata berupa dekonstruksi-rekonstruksi sistim pendidikan negeri kita secara radikal dan menyeluruh. Baik itu di tatanan filosofi, metode dan praxis.

Baca Juga : Perluas Akses Pendidikan Lewat Teknologi

Sehingga tidak lagi setiap muncul hasil buruk kemampuan matematika para pelajar kita secara massif, otoritas pendidikan seakan berbenah dan berharap bahwa di waktu-waktu berikutnya hasilnya bisa lebih baik. Namun anehnya, harapan akan hasil yang lebih baik itu dengan tetap menyelenggarakan proses pembelajaran di sekolah dengan cara relatif sama. Sungguh keledai yang tidak tahu ia telah terperosok ke dalam sebuah jurang!

*Nanang Djamaludin, Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Keayahbundaan dan Perlindungan Anak

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top