Cara Beragama Kita Menentukan Masa Depan Bangsa Indonesia - strategi.id
Nusantara

Cara Beragama Kita Menentukan Masa Depan Bangsa Indonesia

Strategi.id- Cara Beragama Kita Menentukan Masa Depan Indonesia

Strategi.id- Indonesia merupakan negara yang berdasarkan Pancasila. Sila pertama dari Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini menjadi penegasan bahwa agama menjadi faktor yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Tapi, perlu dicatat bahwa agama tidak menentukan masa depan Indonesia, yang sangat menentukan adalah bagaimana cara beragama kita. Cara bergama yang toleran, damai, elegan, bermartabat, dan berkemajuan akan menjadikan Indonesia sebagai negara yang patut menjadi contoh di antara negara-negara lain yang berpenduduk Muslim.

Demikian salah satu poin penting yang disampaikan para pembicara dalam ‘Halaqoh Kebangsaan Menuju Indonesia Berkemajuan’, Rabu – Jumat, 21-23 November 2018 di Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerjasama dengan UMY. Hadir sebagai pembicara antara lain Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan HAM Jenderal Purn Wiranto, Rektor UMY Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surakarta Prof Dr Abdul Munir Mulkhan, dan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) yang diwakili Asisten Perencanaan dan Anggaran Irjen Pol Dr. Gatot Eddy Pramono, MSi.

Baca Juga : Presiden Jokowi Ajak GP Ansor Pelihara Keberagaman

Tenaga ahli utama Kantor Staf Presiden, Abd Rohim Ghazali yang ikut hadir dalam halaqoh merasa optimistis bahwa Indonesia ke depan akan lebih baik karena dipenuhi orang-orang yang berpikiran maju dan terbuka seperti tokoh-tokoh yang hadir dan berbicara dalam halaqoh.

Rohim menjelaskan, keutuhan Indonesia harus dijaga, dan salah satu caranya adalah dengan mengembangkan wacana yang positif dan konstruktif, termasuk dalam mengembangkan wacana beragama seperti yang dipaparkan dalam forum halaqoh kebangsaan.

Sementara itu, Abdul Munir Mulkhan menekankan, cara beragama yang toleran perlu dikembangkan karena Indonesia merupakan negara dengan tingkat keberagaman yang tinggi termasuk dalam hal beragama.
“Yang menentukan kita masuk surga atau tidak bukan agama, tapi bagaimana cara beragama kita,” demikian tegas Abdul Munir Mulkhan. Menurut Munir, dalam beragama, umat Islam di Indonesia harus toleran dan inklusif baik dalam pemikiran maupun tindakan.
Munir mencontohkan, Muhammadiyah, meskipun dikenal sebagai organisasio Islam, tapi dalam menjalankan amal usahanya di bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial sangat terbuka, tidak membeda-bedakan suku, agama, ras maupun golongan. Siapa pun boleh masuk sekolah-sekolah Muhammadiyah. Dan, pendidikan Muhammadiyah tidak akan mengubah agama siapa pun yang menimba ilmu di lembaga pendidikan Muhammadiyah.
“Yang Kristen akan tetap Kristen, yang Katolik akan tetap Katolik, yang Hindu tetap Hindu, yang Budha tetap Budha, bahkan yang NU pun tidak harus menjadi Muhammadiyah,” papar Munir.

Baca Juga : Wonosobo Jawa Tengah Keberagaman Indonesia Sebenarnya

Selain toleran, yang harus dikembangkan adalah cara beragama yang damai. Umat Islam harus menonjolkan sisi kedamaian agamanya karena Islam itu sendiri artinya damai. Islam diturunkan untuk membawa rahmat, bukan laknat. Islam juga hadir untuk menjaga perdamaian dan keharmonisan, bukan permusuhan. Berpeda pendapat boleh saja, berbeda pilihan politik silahkan, tapi jangan perbedaan itu membuat kita terpecah-pecah. Umat Islam Indonesia harus menampilkan Islam yang elegan, bermartabat, dan berkemajuan.

Umumnya pembicara merisaukan tentang kondisi Indonesia saat ini, terutama dalam menghadapi tahun politik yang mudah sekali membuat berselisih disebabkan karena perbedaan pilihan politik, terutama di sosial media. Dalam menyikapi perbedaan ini, agama juga ikut dibawa-bawa, seolah-olah kalau memilih capres bisa menentukan seseorang masuk surga atau tidak. “Padahal tidak ada hubungannya,” tandas Munir. Tapi, menurutnya, kalau kita salah memilih pemimpin nasional, mungkin saja Indonesia akan terpecah-pecah. “Jadi memilih pemimpin nasional yang tepat juga penting sebagai bagian dari upaya menjaga keutuhan bangsa.”

Mewakili Jenderal Pol Tito Karnavian, Irjen Pol Gatot Eddy Pramono, mengatakan bahwa ada banyak sekali faktor-faktor yang dapat merusak persatuan dan kesatuan bangasa Indonesia, ada faktor internal dan eksternal. Persoalan-persoalan tersebut dapat diselesaikan dengan cara mengidentifikasi tidak hanya persamaan-persamaan dalam masyarakat melainkan juga perbedaan-perdaannya. Lalu dari hasil identifikasi tersebut harus lebih banyak ditonjolkan persamaannya.

Baca Juga : 90 Tahun Sumpah Pemuda, Ajak Generasi Muda Rawat Keberagaman

Menurut Gatot, perbedaan-perbedaan yang ada dalam masyarakat memang sangat berpotensi menjadi penyebab perpecahan. Di negara-negara Timur Tengah yang saat ini terjadi perang saudara masyarakatnya hanya terdiri, paling tidak tujuh suku, mereka bisa konflik. Apalagi di Indonesia yang suku-sukunya lebihnya, jadi potensinya lebih. Hal yang paling memungkinkan untuk meredam konflik dalam masyarakat bisa diminimalisir apabila semua kalangan ikut mengkampanyekan, terutama tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh cukup besar dalam suatu kelompok masyarakat.
Untuk tetap menjaga keutuhan Indonesia sebagai bangsa besar yang majemuk, selain harus memilih pemimpin nasional yang tepat seperti disampaikan Munir Mulkhan, Wiranto meminta semua pihak, terutama mahasiswa, untuk menjaga persatuan dan kesatuan yang menjadi sumber kedaulatan dan kemerdekaan.
Menurut Wiranto, persatuan tidak lahir sendiri di masyarakat, melainkan lewat perencanaan dan harus diperhitungkan dengan baik. Hal inilah yang ditempuh oleh para pendiri bangsa.

Baca Juga : Caleg PDIP Gelar Doa Bersama Lintas Agama dan Pembekalan Tim

Menko Polhukam menjelaskan, tiga kunci menjaga persatuan.“Pertama kesadaran untuk bersatu. Kedua, harus ada pengorbanan untuk mencapai kesatuan. Terakhir, terus menghadirkan sikap toleransi terhadap semua perbedaan,” katanya.

Menurutnya, tiga modal ini sebenarnya dimiliki bangsa ini sejak dulu. Namun sekarang ada beberapa pihak atau kelompok yang ingin merusaknya.

“Sekarang saya bertanya pada mereka yang berusaha merusak persatuan bangsa ini, apa yang sudah mereka lakukan untuk bangsa ini?” ujarnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top