Dari Malala, Emma, Greta, Hingga ‘Egg Boy’: Kenapa Remaja Kita Tak Se-kritis Mereka? - strategi.id
Dialektika

Dari Malala, Emma, Greta, Hingga ‘Egg Boy’: Kenapa Remaja Kita Tak Se-kritis Mereka?

Strategi.id - reta Thunberg (YouTube/European Economic and Social Committee)

Strategi.id – Malala Yousafzai pernah mengkritik keras kelompok Taliban hingga nyaris tewas demi menyuarakan hak pendidikan. Emma Gonzalez, siswi sekolah Amerika, memimpin long march ratusan ribu anak sekolahan dalam aksi March for Our Lives. Aksi tersebut mengkritik lemahnya kontrol senjata api di Amerika.

Sementara itu, Greta Thunberg, remaja 16 tahun asal Swedia yang sejak 2018 memulai protes di depan gedung parlemen, menuntut Pemerintah Swedia lebih serius menangani masalah perubahan iklim. Baru-baru ini, banyak media melansir aksi Youth Climate Strikes di berbagai negara. Aksi protes berupa mbolos sekolah setiap Jum’at tersebut merupakan buntut dari aksi Greta.

Kini, Greta diajukan untuk masuk dalam daftar calon peraih Nobel Perdamaian. Kalau terpilih, ia akan menjadi peraih Nobel termuda sepanjang sejarah. Sebelumnya ada Malala Yousafzai yang mendapatkan Nobel saat berusia 17 tahun.

Baca juga : Demokrasi Memang Penting, tapi Persatuan adalah Lebih Penting

Di tempat lain, Will Connolly alias si ‘Egg Boy’, remaja 17 tahun yang viral karena aksi protesnya yang ‘unik’ dan amat berani; menimpuk kepala senator Australia dengan telur. Aksi ini sebagai wujud protes atas sikap sang senator yang menuduh imigran muslim dibalik penembakan di Christchurch, Selandia Baru.

Di Indonesia, ada juga aksi oleh remaja, yaitu aksi tolak Hari Valentine setiap 14 Februari. Duh… Dulu, waktu kisruh full day school, remaja-remaja kita yang menjadi sasaran kebijakan justru kalem-kalem aja.

Mungkin, sebetulnya banyak remaja kritis di Indonesia, tapi suaranya tertimbun, kalah dengan Atta Halilintar dan Ria Ricis.

Misalnya, Kirana MS, remaja yang baru berusia 17 tahun ini sempat membuat surat untuk Jokowi tentang Kendeng. Ia menyuarakan perampasan lahan oleh korporasi semen.

Baca juga : Melawan Politik Ketakutan

Sewaktu remaja, saya pun tak mampu berpikir sekritis Kirana. Saya hanya remaja yang terseret arus tren budaya pop lewat akses teknologi, sekalipun anak kampung. Selain karena kapasitas berpikir yang kurang, tentu terdapat faktor sosial yang membuat saya semakin tak berkembang secara pemikiran.

Begitupun hari ini, mengapa remaja-remaja Indonesia belum mampu sekritis remaja-remaja di negara lain? Ada beragam faktor yang turut mempengaruhi. Berikut ini sedikit di antaranya.

Pertama, gerakan hijrah akun-akunan. Amat banyak dan berlipat ganda. Tapi, kita bisa mengulik satu saja yang lagi ngetren, Indonesia Tanpa Pacaran (ITP). Dari jumlah followers-nya, bisa dibayangkan seberapa besar gelombang jama’ahnya.

Baca juga : Generasi Tua Harus Berikan Kesempatan pada Pemuda

Bukannya mencerdaskan kehidupan remaja, gerakan ini justru bisa mematikan potensi nalar kritis para remaja. Logika ITP terlalu fokus pada pertumbuhan sisi hormonal individu remaja, lupa dengan potensi akal dan perkembangan daya pikir anak muda.

Seandainya memang berniat ingin melihat remaja Indonesia yang nggak doyan cinta-cintaan melulu, banyak sekali pilihan solusinya. Bukan dengan propaganda supaya anak muda buru-buru menikah.

Pendiri ITP, La Ode Munafar bisa membuat komunitas baca-tulis di daerahnya dan mengenalkan tokoh-tokoh muda revolusioner era Hindia Belanda. Bisa mengelola sanggar seni, menjadi guru TPA, menjadi PNS pun nggak masalah untuk menyalurkan ambisi melihat masyarakat yang cerdas di masa depan. Apapun deh, apapun. Asalkan… jangan membuat inkubator wirausaha yang mengajari bagaimana membangun bisnis lewat komodifikasi dalil agama.

Monmaap, tapi jangan berbangga hati besar-besar, antum itu hanya menolak pacaran. Tokoh-tokoh yang memperjuangkan negeri ini banyak yang nggak pacaran, tapi B aja. Tan Malaka malah sampai nggak sempat jatuh cinta lantaran saking sayangnya sama perjuangan. Antum kuat nge-jomblo seumur hidup seperti belio?

Baca juga : Pasang Surut Politik Kaum Muda

Masalah terberat Indonesia bukan pacaran, Akhi, tapi pengangguran, kemiskinan strutural, ketimpangan, akses ilmu yang belum merata, politik dinasti, korupsi. Seandainya tercapai cita-cita antum melihat Indonesia tanpa pacaran, apakah sederet masalah tersebut bisa ikut teratasi?

Kedua, gerakan baper akun-akunan. Saya nggak munafik, saya pun salah satu di antara yang mengikuti gelombang masa ini. Kutipan-kutipan membleeh memeable soal rindu, cinta, sayang, gebetan, dan selingkuhan memang memanjakan perasaan banget.

Belum lagi semakin banyaknya buku-buku patah hati yang ditulis demikian syahdu. Film-film ala FTV juga selalu ada sebagai pilihan nonton. Memang yang demikian nggak bisa ditolak adanya, tapi hambok jangan keterlaluan juga produksinya. Saya yang mendekati usia quarter ini saja mabok dibuatnya, apalagi remaja yang kinyis-kinyis?

Dulu, Mohammad Hatta simpel banget berjodohnya. Bikin ikrar hanya mau menikah setelah Indonesia merdeka. Remaja hari ini, baru mau pacaran sudah banyak drama pengorbanan.

Duhai hati, mampus kau dikoyak-koyak industri seni.

Ketiga, generasi ini didorong memandang kesuksesan secara personal. Paling nggak, sukses bisa dicirikan dengan kemampuan beli rumah, beli mobil, meminang calon istri dan punya investasi yang cukup. Itu sukses versi lawas. Sukses versi 2.0 adalah jadi co-founder yang onlen-onlen itu.

Baca juga : Makna Sumpah Pemuda Di Generasi Milenial

Waktu saya remaja, murid-murid giat belajar agar masuk jurusan IPA, lalu lebih giat lagi di bimbel-bimbel demi masuk STAN atau kampus bergengsi. Apalagi kalau bukan demi masa depan gemilang? Sekarang, ambisi besar Indonesia 4.0 memprovokasi anak-anak muda cerdas berkumpul mencari ide mambangun start up. Padahal, nantinya bertuan investor jua supaya bisa berkembang.

Skema kesuksesan yang sama dengan gimmick berbeda. Skema sukses seperti itu sering kali bikin saya nggak tahu apa yang sepatutnya diperjuangkan untuk hidup sendiri, bahkan sering kali lupa akan jati diri.

Rasanya sulit membayangkan remaja Indonesia memajang poster Tirto Adhi Soerjo di dinding kamarnya, memperbincangkan karya Pram sebagaimana memperbincangkan drama Korea. Bukannya mereka enggan, lingkungan membentuknya demikian.

Seorang teman dari Philadelphia bercerita bahwa ia membaca karya klasik Karl Marx saat SMA. Memasuki usia 20 tahun, ia mengenal karya pemikir-pemikir Islam revolusioner hingga memutuskan untuk meyakini Islam sebagai ideologi hidup pada usia 22. Keluarga pun menghargai keputusannya.

Saya jadi ingat Afi Nihaya, waktu ia menuang pikiran reflektifnya soal agama, masih saja ada pihak yang menceramahi habis-habisan karena ia dianggap bocah berpikiran liberal.

Beberapa pihak juga masih suka sinis melihat mahasiswa tingkat S1 yang lagi seneng-senengnya gembar-gembor revolusi dan ikut aksi. Saya dulu juga begitu. Tapi, bukankah itu wajar? Karena kami yang kurang beruntung ini, baru mengenal khasanah pemikiran kritis dan sejarah pergerakan bangsa saat duduk di bangku kuliah.

Ah, seandainya kami membaca karya-karya itu sejak remaja dahulu.

Sumber : voxpop.id / By Dewi Setya

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top