Deklarasi 101 PTS Se- Jabodetabek Sebagai Reuni 98 Bersihkan Sisa Orba - strategi.id
alumni101pts

Deklarasi 101 PTS Se- Jabodetabek Sebagai Reuni 98 Bersihkan Sisa Orba

Strategi.id - Deklarasi 101 PTS Se- Jabodetabek Sebagai Reuni 98 Bersihkan Sisa Orba

Strategi.id – Ada yang beda pada Deklarasi 101 Perguruan Tinggi Swasta se Jabodetabek Dukung Jokowi-Maaruf Amin pada tanggal 22 Maret 2019. Deklarasi ini adalah deklarasi para pelaku sejarah reformasi pada tahum 1998 yang menumbangkan rejim Soeharto.

Pengagas acara Deklarasi Alumni 101 PTS se Jabodetabek adalah para dedengkot 98 yang dulunya sebagai Ketua Senat Perguruan Tinggi yang tergabung dalam Forum Komunikasi Senat Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ). Disini lah nilai tertinggi acara deklarasi ini.

20 tahun sudah berlalu, sekarang dengan kesibukan rutinitas mereka sehari-hari, sekitar 3.000 orang berkumpul mendeklarasikan diri untuk mendukung pasangan Capres 01.

Baca juga : Ribuan Alumni PTS Se-Jabodetabek , Siap Memenangkan Jokowi-Amin

Secara massa para aktivis 98 tidak semua menyempatkan diri untuk bisa hadir. Namun wajah-wajah aktivis masing-masing kampus yang dulu menduduki gedung DPR/MPR tanggal 20 – 21 Mei 1998 nampak hadir pada acara Deklarasi tersebut.

Dimana pada tahun 1998 sebuah sejarah besar tercatat dalam perjalanan Republik Indonesia. Sebuah gelombang besar datang dari mahasiswa menuntut REFORMASI. Sebuah gerakan menuntut perubahan pada sistem yang telah membuat sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara terjadi krisis multi dimensi di bawah pimpinan Jenderal Soeharto.

Soeharto selama 32 tahun menjadi Presiden RI menimbulkan ketimpangan sosial yang tinggi antara si-miskin dan si-kaya. Penguasaan kekayaan alam Indonesia oleh asing sangat dominan. Kebocoran uang negara dimana-dimana. Tanah rakyat dan ulayat adat diserobot oleh konglomerat-konglomerat dan pihak keluarga cendana. Utang luar negeri dikelola tidak produktif dan dikorup.

Baca juga : Alumni Institute Perbanas Jakarta #01 Siap Mengawal dan Memastikan Kemenangan Jokowi-Maruf Amin

Bukan itu saja, semasa Soeharo, negara seperti dalam keadaan darurat perang dimana militer sangat dominan mengelola roda pemerintahan. Intimidasi dan pembungkaman kebebasan masyarakat dalam berdemokrasi dilakukan secara militeristik. Gerak gerik rakyat dibatasi seperti ikan di akuarium.

Ketimpangan pembangunan di berbagai daerah sangat kontras. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia hanyalah sebuah kata indah belaka. Penguasa di istana seperti pongah membusungkan dadanya tak perduli dengan nasib rakyatnya. Rakyat seperti hidup sendiri-sendiri tanpa memiliki negara. Jaminan sosial (kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan) nyaris tak ada perhatian negara.

Korupsi, kolusi dan nepotisme sudah menjadi budaya. Pungli dan kekotoran birokrasi terjadi dimana-mana. Penegakan hukum tajam kebawah dan tumpul ke atas. Yang lemah makanan yang kuat. Berapa aktivis yang vokal mengkritisi kepongahan penguasa malah mengalami penculikan dan hilang malam. Sungguh sangat sadis kehidupan semasa Orde Baru.

Baca juga : Alumni 101 PTS se-Jabodetabek Akan Deklarasi Memilih dan Memenangkan Jokowi-Ma’ruf

Akhirnya pada tahun 1997 Indonesia mengalami krisis moneter. Ekonomi Indonesia ambruk. Berbagai perusahan dan perbankan banyak yang kolaps. Angka kemiskinan dan pengangguran mengalami peningkatan tajam. Keutuhan NKRI pun diambang perpecahan. Menyikapi kondisi tersebut, mahasiswa menuntut agar dilakukan reformasi. Mereka memulai melakukan mimbar bebas di kampusnya masing-masing lalu turun ke jalan melakukan aksi demontrasi besar-besaran.

Puncaknya pada bulan Mei 1998 ketika teman mereka mati ditembak oleh aparat di kampus Universitas Tri Sakti. Para mahasiswa perguruan tinggi se Jabodetabek dengan nekat mengambil keputusan mempertaruhkan nyawanya menduduki gedung DPR/MPR di Senayan tanggal 19 Mei 1998. Mengadu nasib, Soeharto yang menyerah atau mahasiswa bertaburan darah.

Setelah 2 hari dan 2 malam menduduki gedung DPR/MPR, akhirnya Soearto Pada 21 Mei 1998 menyatakan mundur sebagai presiden Indonesia. Dengan lengsernya Soeharto sekaligus sebagai tanda dimulainya reformasi di berbagai bidang dalam mewujudkan tatanan Indonesia maju dan berkeadilan.

Baca juga : Alumni Sriwijaya Bersatu Deklarasi Dukung Jokowi-Amin

20 tahun sudah perjalanan reformasi . Pada tanggal 22 Maret 2019, para alumni mahasiswa 98 berbagai perguruan tinggi se Jabodetabek tersebut kembali berkumpul. Mereka berkumpul bukan bertujuan menumbangkan presiden RI tetapi mereka berkumpul untuk memberikan dukungan kepada Presiden Jokowi pada Pemilu 2019.

Ini sebuah kejadian yang bertolak belakang. Dulu melengserkan presiden, sekarang mendukung presiden. Kenapa ini bisa terjadi Penyebabnya sederhana yaitu karena Capres pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno akan mengembalikan kondisi negara Indonesia persis seperti pada rezim Presiden Soeharto.

Hal itu sebenarnya tak aneh. Prabowo adalah sosok yang identitik dengan rejim Soeharto selain sebagai menantu. Prabowo adalah sosok mendapat nikmat besar atas kekuasaan Soeharto selama 32 tahun.

Baca juga : Jelang Pemilu, Pemkot Bekasi Gelar Deklarasi Anti Hoaks dan Radikalisme

Prabowo termasuk penikmat pengunaan kekuasaan dalam mendapatkan tanah-tanah rakyat secara tidak sehat. Mendapatkan fasilitas-fasilitas negara mengelola lahan-lahan hutan, tambamg, perkebunan dan berbagai sumber pencetak uang lainnya sehingga menjadi kaya-raya dengan mudah.

Prabowo adalah oang yang bertanggungjawab atas penculikan para aktivis yang sampai sekarang masih ada sebagian hilang tidak ketemu jasadnya. Disitulah, para alumni mahasiswa 98 se Jabodetabek berkumpul kembali. Mereka datang mencegah kebangkitan Orde Baru dan faham Soeharto-isme jangan sampai hidup kembali.

Mereka berkumpul bertekad untuk turun gunung kembali membersihkan sisa Orde Baru yang ingin berkuasa pada perebutan kekuasaan pada Pemilu 2019, tanggal 17 April nanti.

Baca juga :

Mereka mendeklarasikan diri mendukung dan mengajak masyarakat untuk memilih Jokowi-Maaruf Amin sebagai sosok capres dan Cawapres yang bersih dari catatan buruk masa lalu. Jokowi dinilai sebagai sosok presiden selama 4 tahun memimpin Indonesia telah berhasil mewujudkan cita-cita reformasi diperjuangkan para mahasiswa 20 tahun yang lalu.

Jokowi adalah anak kandung reformasi. Sosok yang lahir dari buah reformasi dan bersih dari lingkaran Soeharto.

Penulis adalah mantan aktivis 98 yang sekarang menjadi relawan Jokowi tergabung dalam Aliansi Poros Benhil.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top