Deputi Jianri: Semangat Kebangsaan Dihimpit Globalisasi dan Radikalisme – strategi.id
Nusantara

Deputi Jianri: Semangat Kebangsaan Dihimpit Globalisasi dan Radikalisme

Strategi.id - Deputi Jianri: Semangat Kebangsaan Dihimpit Globalisasi dan Radikalisme

Strategi.id – Deputi Bidang Pengkajian dan Materi (Jianri) BPIP, FX Adji Samekto menjadi salah satu Narasumber dalam Dialog Guru PPKn se-Provinsi DKI Jakarta dengan tema “Bedah RUU Haluan Ideologi Pancasila”.

Narasumber lain yang juga turut hadir dalam dialog itu adalah Anggota Badan Legislative (Baleg) DPR RI, Andreas Susetyo. Dipandu oleh moderator Satriawan Salim dari Litbang MGMP PPKn Provinsi DKI Jakarta.

Dialog dibuka oleh Kasi. Kurikulum dan Penilaian Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Ali Mukodas. Dalam pidato pembukaannya Ali mengungapkan bahwa guru adalah garda terdepan dalam memberikan informasi terkait dengan haluan ideologi Pancasila.

Ali menegaskan, “penting sebagai (sebuah) bangsa kita memegang ideologi Pancasila sebagai karakter bangsa kita”.

Setelah pembukaan, Dialog Guru PPKn se-Provinsi DKI Jakarta masuk ke paparan materi yang dipandu oleh moderator. Moderator menginformasikan bahwa awal mulanya dialog ini hanya akan melibatkan guru PPKn se-Provinsi DKI Jakarta, tetapi animo guru PPKn dari daerah lain juga tinggi untuk ikut serta.

Jumlah peserta sekitar 200-an lebih, ikut dalam dialog yang digelar secara daring melalui aplikasi meeting online zoom. Setelah menyampaikan informasi singkat, moderator langsung memberikan waktu untuk Deputi Bidang Jianri untuk menyampaikan paparannya.

Adji memilih tema, “Kebangsaan dalam Pusara Globalisasi dan Radikalisme” untuk disampaikan kepada para peserta dialog. Tema ini menjadi penting untuk diangkat, karena semangat kebangsaan mulai luntur Pascareformasi 1998.

Adji menerangkan, “ini (kelunturan semangat kebangsaan) yang kemudian saya sebut sebagai akses reformasi, reformasi itu sendiri tidak salah, yang harus kita benahi akses (dampak)nya”.

“Melunturnya paham kebangsaan, berdampak kepada generasi yang lahir pada 1990-an dan pascareformasi kemudian tidak mengenal Pancasila sebagai pandangan hidup bangsanya, tidak kenal dengan Pancasila”, terang Adji.

Tidak mengenal Pancasila dan globalisasilah yang kemudian membuka peluang kepada ideologi transnasional serta ideologi begitu mudah di terima oleh generasi muda sebagai suatu kebenaran, padahal belum tentu benar.

Menurut Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Diponogoro, Semarang itu, globalisasi menimbulkan kecenderungan untuk meninggalkan ideologi. Globalisasi yang merupakan agenda dari Barat, hanya mengenal ideologi loberalisme dan komunisme. Padahal di dunia Timur, ada juga ideologi-ideologi dan pandangan hidup lain.

Dia memaparkan, ideologi dan pandangan hidup itu terbentuk dari kebudayaan, yang bersumber dari interaksi antara manusia dengan alam atau ekosistem tempat dia hidup/dengan cosmosnya. Sama halnya dengan Pancasila, yang digali dari kebudayaan Indonesia.

“Oleh karena itu, rasa kebangsaan yang juga terbentuk dari kebudayaan untuk hidup bersama antar sesame manusia di Indonesia, harus kembali ditumbuhkan. Rasa kebangsaan inilah yang menjadi comment denominator atau titik temu sesame anak-anak Bangsa Indonesia yang beragam”, ujarnya.

Dua kutub yaitu globalisasi dan radikalisme menghimpit semangat kebangsaan kita. Radikalisme yang dimaksudkan Adji adalah pemikiran yang tertutup, menutup diri serta eksclusivisme yang menumbulkan sikap intoleran. Ini jelas menimbulkan pertentangan dengan semangat kebangsaan yang menjadi titik temu sesame anak-anak bangsa dari latar belakang suku, ras dan agama yang berbeda-beda.

Paparan yang disampaikan Deputi Bidang Jianri itu diikuti dengan seksama oleh seluruh peserta. Respon positif diutarakan oleh para peserta, dan para guru PPKn se-Indonesia itu menitipkan amanat ke BPIP untuk memperjuangkan dimasukannya kembali atau berdiri sendiri (lepas dari mata pelajaran kewarganegaraan) mata pelajaran Pancasila dalam kurikulum nasional di Indonesia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top