Dongeng Sebuah Negeri - strategi.id
Corong

Dongeng Sebuah Negeri

Strategi.id - Dongeng Sebuah Negeri

Strateg.id – Alkisah, ada suatu negari yang rakyatnya selalu hidup dalam kegelisahan. Terkadang dicekam rasa ketakutan. Sesamanya saling curiga, saling memandang sebelah mata. Meski tanah airnya bergelimpahan kekayaan, namun langitnya tak kunjung hilang dari mendung dan kabut hitam yang berkepanjangan. Benih-benih tanaman pangan tak pernah mengalami masa panen yang cukup. Walau rakyat tidak pernah merasakan kelaparan, rakyat juga tak pernah merasa kenyang.

Sebagian rakyatnya merasa telah meraih kebahagiaan namun tidak pernah merasakan kepuasan. Sebagian lainnya yang masih merasakan penderitaan, terus berusaha dengan berbagai cara meninggalkan kenyataan pahit itu, atau pasrah menjalaninya.

Seharusnya rakyat negeri itu bisa hidup nakmur dan sejahtera. Akan tetapi, yang terjadi rakyat seperti hidup dalam belantara, memperebutkan makanan agar bisa bertahan hidup. Ada hukum rimba dimana yang kuat yang berkuasa, yang lemah menjadi mangsa. Tak ada ada aturan main tak ada wasit yang menengahi. Akibatnya, rasa permusuhan dan kebencian, konflik dan dendam, serta hasrat menguasai, menjadi tujuan utama.

Ketika kebenaran dan kebathilan sudah tercampur larut dalam hitam dan pekat. Keduanya semakin sulit dikenali, semakin sulit dibedakan. Rakyat hanya bisa meraba-raba, merasakan dengan keraguan, memilih berjudi dan karena kebutuhan yang terpaksa. Sesuatu yang benar tak bisa dilakukan karena memang sulit dan berat untuk diraihnya. Kesewenang-wenangan menjadi pemandangan rutin, karena begitu mudah dan jadi serba boleh.

Tak ada hukum yang berkeadilan, tak ada pemimpin yang amanah dan mencintai rakyatnya. Keprihatinan, tangis dan kepiluan menjadi konsumsi hari-hari dari pertunjukan kekuasaan. Sesekali rakyat dibuat tertawa oleh dagelan, karena rakyat sudah kehabisan air mata. Persaudaraan terluka hanya karena kata-kata. Kemanusiaan dikhianati oleh materi. khalayak dipertontonkan oleh kebanyakan orang yang menunjukkan watak aslinya atau begitu lama memakai topengnya

Dalam tingkatan yang berbeda, sepertinya mulai banyak orang yang bunuh diri kelas dan mulai menikmati masyarakat tanpa agama, masyarakat tanpa negara. Begitulah keadaan negeri itu, rakyatnya terlalu banyak dijejali nilai-nilai, terlalu banyak asupan agama, terlalu banyak makanan ideologi. Tapi sayangnya, sedikit yang berTuhan dan menjadi manusia. Sebuah negeri dongeng, yang memilukan.

Penulis: Yusuf Blegur ( Pemerhati Sosial).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top