Eksponen 98 Dalam Pusaran Moral dan Gerakan Politik – strategi.id
Dialektika

Eksponen 98 Dalam Pusaran Moral dan Gerakan Politik

Eksponen 98

Strategi.id – Eksponen 98 Dalam Pusaran Moral dan Gerakan Politik, Mari Bung rebut kembali kehormatan yang hilang!

Peristiwa transisi kekuasaan pemerintahan yang diwarnai gerakan mahasiswa di era 1998 silam itu, lambat laun seiring waktu telah menuai hijrahnya aktifis pelaku sejarah itu ke dalam panggung politik, kekuasaan yang dulunya adalah tempat refleksi gugatan moral di samping pengembaraan pencarian ilmu dan pertumbuhan daya kritis. Sekarang sudah berubah.

Kala itu, kampus tak henti-hentinya seperti mata elang yang tajam menyorot setiap nadi rezim kekuasaan. Kini, seakan siklus sejarah berputar. Kiprah sejarah gerakan mahasiswa yang terjuluki eksponen 98, itu menyeruak dengan susah payah dan tertatih-tatih ikut terlibat dalam pengambil kebijakan dan pemangku jabatan.

Tidak sedikit eksponen 98 yang terdistribusi dalam lingkar kekuasaan baik dalam jajaran eksekutif maupun legislatif. Kebiasaan sebagai demonstran kini beralih fungsi merumuskan dan melahirkan kebijakan yang menentukan hajat hidup banyak orang.

Kekuatan moral itu telah bermetamorfosis, dari penggugat kini menjadi yang digugat. Gelombang tuntutan peran dan kinerja yang dulunya disuarakan ke rezim pengusa, tanpa bertele-tele kini menerpa mereka.

Beratnya pertarungan yang dihadapi pada dunia nyata mengjaruskan mereka menentukan dan memutuskan setiap masalah negara dan persoalan kebangsaan.

Apakah mereka Gagal? Kenyataannya, tokoh aktifis 98, belum ada yang menjadi Presiden atau kekuasaan strategis lainnya. Meminjam istilah seorang kawan, jebolan aktifis 98 paling banter sekedar irisan dan serpihan kue-kue kecil kekuasaan, kalau tidak disebut sebagai sekrup-sekrup kapitalisme-karena negara dalam mainstream kapitalisme internasional

Kegamangan dan kebuntuan gerakan sering melanda alumni 98 meski telah menjadi bagian elit politik. Di atas masih menggantung dibawah tidak berpijak, seperti menjadi makanan empuk dinasti dan imperium partai politik.

Seakan tidak pernah berhenti dari gerakan 20 tahun yang lalu, elit aktifis 98 itu masih terbelit pada persoalan mencari “positioning”, seperti masih merasa berada di luar kekuasaan dan menjadi marginal.

Kini mereka ada yang terjebak pada formalitas dan normatif birokrasi. Belum mampu melahirkan dan membebaskan Undang-Undang yang secara substansial sebagai konstitusi yang tercerahkan dari rakyat yang progessif revolusioner.

Pertarungan sesunguhnya sudah dimulai. Imperalisme dan Kolonialisme sudah ber- metamorfosa pada kehidup keseharian para aktivis. Banyak sekali peraoalan yang muncul dari Persoalan Keamanan Regional seperti terorisme, persoalan hutang negara , stagnasi ekonomi ‘kolaps’.banjirnya investasi dan ketergantungan pada asing dan masih banyak lagi persoalan yang mengilustrasikan potensi kemunduran dan keterpurukan bangsa.

Setelah para aktivis kumpul. Apakah yang harus dilakukan selanjutnya? Pemikiran dan gerak yang paling fundamental sekalipun haruslah dijalankan.

Bukankah mereka kini sudah ada sebagian di lembaga yang punya otoritas terhormat itu? Manfaatkan kewenangan itu, tunaikan amanah itu buktikan kalau eksponen 98 progressif reformis, jangan kembali ke jalanan Bung!

Mari Bung rebut kembali kehormatan yang hilang!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top