Elite Cair, Harusnya Rakyat Ikut Cair – strategi.id
Corong

Elite Cair, Harusnya Rakyat Ikut Cair

strategi.id Meminjam istilah sejumlah pengamat politik, “politik kita (Indonesia) cair”. Koalisi antar partai bisa terbentuk dan bubar dalam waktu singkat. Sudah menjadi rahasia umum, partai membentuk koalisi bukan atas dasar pertimbangan ideologis, melainkan pragmatisme dan kepentingan politik praktis. Bahkan ada partai yang bermain dua kaki guna mencari simpati.

Politik yang cair ini, bukan hanya terjadi dalam koalisi partai saja, melainkan juga terajadi pada individu-individu kader partai. Phenomena “kutu loncat” dari partai satu ke yang lain pun, bukan hal yang baru dalam peta politik tanah air. Sejumlah elite pendiri partai yang lahir pascareformasi pun tadinya berasal dari satu partai yang sama. Sebut saja Partai Nasdem, Partai Gerindra dan Partai Hanura, para elitenya berasal dari Partai Golkar.

Namun phenomena yang sedikit unik terjadi jelang Pemilu 2019. Pendaftaran calon legislatif yang dibuka pada 4-17 Juli 2018 sontak menarik perhatian publik. Beberapa hal yang menarik perhatian publik antara lain: majunya sejumlah selebritis; elite partai yang berpindah kendaraan; menteri yang hendak menjadi caleg; tapi yang paling menarik perhatian adalah sejumlah tokoh dengan sikap politik kontra dengan parpol tertentu, kini menjadi caleg dari partai yang posisinya kontra dengan elite tersebut.

Contohnya saja pendiri PKS Yusuf Supendi dan Kapitra Ampera yang jadi caleg dari PDIP. Seperti yang kita ketahui, PKS dan PDIP sering sekali kontra dalam menanggapi kebijakan pemeriintahan, khususnya di era-Presiden Jokowi. Dalam berbagai pandangan pun kedua partai tersebut sering bersebrangan. Masyarakat secara umum mungkin merasa aneh kalau elite pendiri PKS lompat ke PDIP.

Sementara Kapitra Ampera yang merupakan pengacara Habib Rizik Sihab, sering kali melontarakan pernyataan yang sangat kontra dengan sikap PDIP. Bahkan beberapa kali klien Kapitra Ampera mengeluarkan ujaran-ujaran yang memojokan tokoh yang sangat dihormati oleh kader-kader PDIP. Sebagai contoh Habib Rizik pernah menghina Ideologi Pancasila versi Bung Karno, yang notabene adalah Salah Satu Pendiri Republik dan sangat dihormati PDIP.

Mungkin bagi sejumlah orang yang paham dan mengikuti sejumlah Pilkada Serentak, lompat-lompatnya kader partai bukan menjadi hal yang asing. Dalam Pilkada Serentak 2018 lalu saja, PDI dan sejumlah partai besar lain bisa berkoalisi dengan partai yang secara ideologi partai dan kepentingan sangat jauh berbeda. Seperti di Jawa Timur dan sejumlah daerah PDIP berkoalisi dengan PKS. Kembali lagi pada pernyataan sejumlah pengamat politik, politik di negeri kita sangat cair dan mudah berubah-ubah.

Kalau elitenya saja cair, kita semua berharap masyarakat di tataran akar rumput juga bisa cair dan jangan terlarut dalam permusuhan karena beda pandangan serta pilihan politik. Janganlah kita mengikuti perpecahan para elite, karena bisa saja perpecahan di antara elite itu sebuah kamuflase yang sengaja diciptakan. Di depan layar mereka seolah bermusuhan, tapi di balik layar mereka semua bersahabat karib.

Jahatnya, bisa jadi ada dari mereka yang menertawakan pembelahan yang terjadi di masyarakat. Sudah saatnya masyarakat sadar dan kembali bersatu. Jangan jadikan keragaman pilihan politik sebagai alasan kita untu saling bermusuhan. Tapi nikmatilah perbedaan sebagai keindahan. Kita saudara satu bangsa, persatuan sesama anak bangsa lebih mahal ketimbang permainan politik praktis!

Untuk para elite baiknya hentikan permainan isu politik identitas, SARA dan jual beli ideologi untuk kepentingan sesaat. Hentikan pemecah belahan rakyat karena keuntungan sesaat politik praktis. Saatnya kita bersatu untuk membangun bangsa ini menjadi lebih baik!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top