Episode Panjang “Piala Dunia” Imperialisme dan Kolonialisme Modern (Bagian 1) – strategi.id
Dialektika

Episode Panjang “Piala Dunia” Imperialisme dan Kolonialisme Modern (Bagian 1)

strategi.id Kemerdekaan (foto : Mahendra Uttunggadewa /is)

Episode Panjang “Piala Dunia” Imperialisme dan Kolonialisme Modern (Bagian 1)

 “Laga Amerika dan Tiongkok di Lapangan Hijau Indonesia”

Setelah kejatuhan Soekarno yang diawali peristiwa Gerakan 1 Oktober 1965. Keberadaan Indonesia benar-benar mengalami perubahan yang sangat drastis dan fundamen. Pergolakan politik paling berpengaruh dan mengguncang dalam sejarah republik pasca kemerdekaan.  Gestok, Soekarno menyebutnya. Bukan hanya skenario konspirasi yang mendongkelnya dari kursi kepresidenan dan kepemimpinan nasional.

Lebih dari itu, bak Kapal besar dan mewah di jamannya,  yang berlayar mengarungi  samudera menghadapi ombak dan badai. Seketika pelayaran berbalik arah, memutar haluan jalan pulang, seakan takut bahaya dan cari selamat. Karakter orang pelaut yang gagah berani warisan neneng moyang, jiwanya tenggelam dan hilang seiring gemuruh dan ditelan lautan. Sejak itu, fase kepemimpinan yang gandrung menggelorakan semangat kemerdekaan adalah hak suatu bangsa dan kesetaraan dalam tata pergaulan dunia.

Berangsur-angsur meredup, tak berkobar lagi, apinya padam. Kiblat negara bergeser. Embrio yang lahir dan dituntun oleh keinginan luhur terbentuknya suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan  untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa  dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Seperti apa yang  tertuang dalam cita-cita   proklamasi dan menjadi amanat  UUD 1945. Nilai-Nilai itu juga mati dan ikut terkubur bersama sejarah panjang perjuangan pergerakan kemerdekaan dan mimpi-mimpi pendiri bangsa.

Bahaya Laten ORDE BARU

Layaknya menyediakan karpet merah menyambut pesohor dan selebritis dunia yang menjadi tamu agung. Kekuasaan transisi yang kontroversi, manipulatif dan sarat tragedi itu. Serta-merta, dengan cepat dan tangan besi menempatkan negara tak ubahnya menjadi “barang dagangan yang diobral murah”. Demi hasrat lama ingin menjadi kaya dan hidup bergelimpahan (materialiasme), mencari keuntungan yang sebesar-besarnya untuk pribadi, keluarga dan golongan.

Segelintir penghianat dan opportunis yang menjadi antek-antek  negara borjuis, telah menjadikan kepentingan mereka sebagai  dasar dan orientasi mengelola negara. Rezim ORBA yang kapitalistik dan militeristik itu secara terbuka menegaskan, pemerintahannya telah menjadi perpanjangan tangan dari konsorsium negara-negara pemilik modal besar, yang memang telah lama mengincar dan ingin menguasai Indonesia. Semua potensi dan sumber daya yang dimiliki bangsa ini, tanpa tedeng aling-aling semuanya digadaikan dan dijual  kepada dunia internasional yang kuat dan kokoh menganut sistem imperialisme dan kolonialisme.

Meninggalkan warisan masalah dan penderitaan nasional yang berkepanjangan bagi anak-cucu dan seluruh rakyat Indonesia. Kesepakatan “tukar guling kekuasaan” menjadi titik awal pemerintahan rezim Soeharto. Sebagai bagian perjanjian dan konsekuensi kerjasama. Seharto  yang berlatar belakang Angkatan Darat dan kroni bertugas menjatuhkan Soekarno sekaligus menjalankan agenda-agenda dan kepentingan internasional di dalam negeri yang dikenal waktu itu dengan nama pengamanan  ‘ipoleksosbudhankam”. Sebagai imbalannya, Soeharto dan kroni diberikan keleluasaan menyelenggarakan dan mengelola pemerintahan negara.

Amerika dan sekutu memiliki kepentingan yang sakral bagi dan sepanjang rezim Soeharto berkuasa. Alhasil, gaya kepemimpinan yang diktator, otoriter dan repressif menguasi wajah pemerintahan rezim ORBA hanya untuk mengamankan ekonomi kapitalistik internasional, sembari merampok dan menjarah uang rakyat. Lewat jargon ORBA, sesungguhnya Kekuasaan Soeharto membangun sistem lama dan usang yang sepanjang peradaban dunia tumbuh subur sebagai sistem yang mengeksploitasi bangsa atas bangsa dan penghisapan manusia atas manusia.

Ordenya baru, nilainya lama dan usang. Manis untuk bangsa asing,  bengis pada pada bangsanya sendiri. Begitu digjayanya sistem kapitalis menggurita, dengan atas nama  investasi dan pelbagai kepentingan besar dan strategis lainnya. Untuk menopang dan menjaga kesinambungannya, diperlukan pemerintahan yang kuat, mengutamakan stabilitas, sentalistik dan tentu saja loyal kepada amerika dan blok barat lainnya. Mengkooptasi negara juga harus diikuti dengan mengatur konstitusi sebagai alat-alat manipulasi kekuasan penyelenggaraan negara.  Dimulai dengan UU penanaman modal asing tahun 1967, dimana suasana masih diliputi bau amis darah dan kengerian  tragedi kemanusiaan tahun1965.

Disitulah, Indonesia telah kehilangan sebagian besar kadaulatan negara atas berpindahnya hak dan kewenangan pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang menjadi modal dasar dan utama pembangunan negara bangsa. Apa yang kemudiaan digagas dan dimanifestaikan baik secara nasional maupun internasional oleh Soekarno dan tokoh-tokoh bangsa lain sebelumnya, runtuh dan porak poranda oleh Soeharto dan kroni yang dikenal sebagai “kacungnya” Amerka. Tidak ada lagi nasionalisme, tidak ada lagi ‘nation and caracter building’, dunia tidak lagi berjalan seperti ungkapan Soekarno ‘ to build the world a new’.

Disepanjang ORBA,  Politik mercusuar suram, Politik dalam negeri seperti bangsa kuli. Hingga sekarang lebih dari 50 tahun, salah satunya dampak dari PMA tahun 1967 yang “memiskinkan bangsa” masih terasa keriuhan dan kegaduhanya FREEPORT di PAPUA.

KeIndonesiaan kita sekarang, meski telah melewati masa reformasi. Masih terbilang belum paripurna melahirkan nilai-nilai baru yang bukan saja sulit menjadikan Indonesia seperti yang dicita-citakan. Bahkan untuk melepaskan diri dari cengkeraman dan belenggu liberalisasi dan kepentingan dunia internasional, kita sulit dan kerap kali terseok-seok kena imbasnya. Kemerdekaan Indonesia seperti di atas secarik kertas berlakunya.

Kedaulatan sebagai negara dan sebagai bangsa seolah-olah hanya mendapat “pengakuan de yure bukan de facto”. Semua sendi kehidupan rakyat sering mengalami ‘turbulensi dan gempa” akibat pergeseran dan naik turunnya politik dan ekonomi dunia. Dari soal beras, sawit, perbankan, minyak dan gas, hingga dollar Amerika, imbasnya selalu menunjukkan kerapuhan fundamental  Indonesia. Realitas kondisi kenegaraan dan kebangsaan kita memang belum bisa mewujudkan kedaulatan politik, kemandirian ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Tentu saja, faktor utamanya karena semenjak ORBA,  negara ini sudah terlalu lama menjadi sub koordinat negara-negara kapitalis. Indonesia masih berpijak di bumi dan beratap  langitnya infiltrasi dan aneksasi populisme dan hedonisme. Insrtumen-instrumen efektif dari globalisasi dunia.

Polarisasi Perang Dingin di jaman milineal

Seperti Piala Dunia 2018 yang menyajikan partai final Kroasia melawan Prancis. Dunia seakan memberikan sinyal dan menggambarkan konstelasi dan pertarungan sebenarnya di luar sepak bola. Perhelatan perebutan gengsi dan pengakuan internasional akan kehebatan kesebelasan kebanggaan tim nasional. Di sisi lain kroasia dan prancis seolah merepresentasikan dua negara dari blok berbeda. Kroasia negara kecil dengan sedikit penduduk yang berasal dari pecahan negara sosialis Yugoslavia, berhadapan “head to head” dengan Prancis, negara besar yang mewakili kemapanan blok barat yang kapitalis juga chauvanist.

Meski era perang dingin yang mengakhiri perang dunia ke dua telah lama usai, ditambah lagi dengan bubarnya Uni Sovyet. Namun struktur kerangka dan jejaring ideologi yang tak pernah mati itu, tetap menyeruak dalam sistem-sistem sosial dan kebijakan negara-negara di era postmo ini. Seperti halnya Tiongkok (RRC), yang dulunya seperti menjadi aksentuasi dari Uni Sovyet ketika berhadapan dengan Amerika dan sekutunya.

Kini telah menjadi kekuatan baru dunia, linear dan equivalen dengan Amerika bahkan bangsa Yahudi. Belum lama ini, ketika dunia internasional dalam ketegangan konflik Korea Selatan dan Korea Utara mengenai semenanjung Korea sampai pada persoalan denuklirisasi, Tiongkok mengambil peran penting dan berpengaruh selain konfigurasi dua kutub berlawanan antara Rusia dan Amerika. Tiongkok telah menjelma menjadi kekuatan adidaya baru yang memperluas akseptabilitas dan internalisasi pengaruh serta intervensinya hampir di seluruh belahan dunia.

Lihat saja, dari mulai investasi, teknologi enginering,  outomotif dan persenjataan, perbankan dan lembaga keuangan internasional, serta masih banyak lagi industri dan sektor-sektor kebutuhan publik dan massal yang menerobos dan eksis di mancanegara. Kewibawaan dan kedaulatan  Tiongkok  dipertontonkan dengan jelas dihadapan dunia ketika perang tarif dagang dengan Amerika. Pun, disinyalir Tiongkok sebagai negara besar sosialis yang mengadop sistem kapitalis dalam tatanan ekonomi dan politik. Tiongkok tetaplah ancaman penting dan strategis bagi dominasi Amerika.

bersambung ke Episode Panjang “Piala Dunia” Imperialisme dan Kolonialisme Modern (Bagian 2)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top