Episode Panjang “Piala Dunia” Imperialisme dan Kolonialisme Modern (Bagian 2) – strategi.id
Dialektika

Episode Panjang “Piala Dunia” Imperialisme dan Kolonialisme Modern (Bagian 2)

strategi.id Kemerdekaan (foto : Mahendra Uttunggadewa /is)

Sambungan dari Episode Panjang “Piala Dunia” Imperialisme dan Kolonialisme Modern (Bagian 1)

Bagian 2

PILPRES 2019 dan Transisi Ke-Indonesiaan

Strategi.id – Dari tahun ke tahun, dari pemilu ke pemilu. Ada adagium politik yang kental mewarnai pemerintahan dan proses demokrasi di Indonesia. Bagaimanapun pemerintahannya dan siapapun presidennya dari hasil pemilu, tidak ada masalah. Tak peduli berapapun mahalnya ongkos demokrasi itu. Selama hasil dari pemilu itu tidak mengusik dan merongrong keamanan investasi dan penguasaan sumber daya-sumber daya potensial dan strategi yang sudah berlangsung lebih dari setengah abad.

Maka hasil pemilu dianggap sukses oleh paduan suara konsorsium kapital internasional utamanya Amerika. Ironisna, kalau diperlukan, Amerika juga memelihara, merias dan menyiapkan panggung istana bagi sosok atau tokoh di tanah air yang dianggap  “orang dalam”. Salah satunya, figur yang menapuk jabatan presiden 2 periode, SBY secara publish menyatakan “Amerika seperti negara kedua bagi saya setelah Indonesia”. Menilik dari visi dan gaya kepemimpinannya, sangat wajar publik menilai, SBY merupakan generasi penerus Soeharto.

Seiring waktu, peta perpolitikan di Indonesia juga mengalami pergeseran dan perubahan yang signifikan. Mainstream dominasi Amerika dan sekutunya yang menjadi induk semang dan menopang struktur politik dan ekonomi nasional selama beberapa dekade.  Perlahan, dengan kezumudan terhadap stagnasi pembangunan nasional akibat merebaknya korupsi dan menjamurnya sindikat dan mafia ekonomi dan politik.

Selain itu, tumbuhnya kesadaran akan nasionalisme dan tuntutan perbaikan negara dari beberapa komunitas dan entitas politik muncul  terus menerus melakukan pemberdayaan dan pola partisipatif masyarakat luas. Kegagalan substansi reformasi juga turut berkontribusi pada upaya dan gerakan penyelamatan negara yang nyaris gagal.

Begitupun dengan  pilpres 2019, kali ini ada yang menarik dan boleh jadi merupakan babak baru kepemimpinan nasional dan bloking politik baru. Baik saat mengelola urusan  dalam negeri maupun dalam menghadapi konstelasi dan gejolak internasional. Meskipun demikian, tidaklah mudah bagi pemerintahan sekarang yang sedang ghiroh dan optimisme membangun kedaulatan bangsa  sambil melakukan konsolidasi internal kenegaraan. Tekanan bertubi dan silih berganti datang bergelombang dari Amerika.

Mesin-Mesin kapitalisme gusar, menyikapi kebijakan jokowi yang tidak ramah lagi pada investasi dan kepentingan strategis lainnya milik blok barat. Membuat seorang yang menggulirkan revolusi mental itu,  juga terancam dijungkalkan seperti Soekarno. Amerika bereaksi keras kepada Jokowi yang dianggap berkiblat ke Tiongkok. Amerika mulai menyusun “blue print” kejatuhan Jokowi, sama halnya dengan rencana lain yang disusun diberbagai  negara di dunia, seperti yang dilansir John Perkins dalam bukunya “Confession of an Economic Hit Man”.

John Perkins sebagai perusak ekonomi, memaparkan Amerika secara telanjang, sebagai negara dengan sistem politik ambisius dan superior yang dapat mengangkat sekaligus menjatuhkan pemimpin kekuasaan suatu negara. Untuk mengikuti kemauan Amerika, pemimpin suatu negara dirayu dengan   cara halus  sampai dengan yang ekstrim. Mulai dari  persekongkolan dan  manuver  para komparador dan agen kapitalis  yang bercokol di tanah air. Nyarus saja beberapa percobaan makar/ kudeta berhasil dilakukan terhadap pemerintahan Jokowi. Antek-Antek asing yang sering berubah wujud dan berwajah seribu, selalu bergerilya dan menyusup dalam birokrasi dan sistem politik yang ada.

Mereka bisa tampil dimana-mana, di setiap waktu dan tempat di negeri ini. Konspirasi dan agenda jahat terselubung selalu mematahkan upaya pelurusan rel perjalanan bangsa yang berbasis ideologi Panca Sila dan cita-cita proklamasi. Sementara mesin politik ORBA masih dominan mewarnai dan mempengaruhi kebijakan pemerintahan Jokowi. ORBA seiring jaman telah bermutasi dan terus masuk dalam struktur kekuasaan  negara. Golkar berdampingan dengan kekuatan militer khususnya angkatan darat yang menjadi mesin politik utama ORBA, telah berkembang biak melahirkan instrumen-instrumen baru politik dan alat kekuasaan lainnya.

Dalam partai politik, media massa, birokrasi, dan beragam jabatan politik strategis lainnya, secara substansi sesungguhnya merupakan representasi kelihaian dan kepiawaian Golkar yang bukan cuma sekedar partai politik. Kita bisa melihat keberadaan  peserta pemilu 2019, hanya dua atau tiga partai yang mewariskan karakter dan nilai idiologi atau agama dari partai sebelumnya. PDIP yang menjadi turunan dari PNI, PPP dan PKB yang berbasis Islam serta PKS yang dianggap partai impor.

Selebihnya disinyalir merupakan “anak menyusui” dari partai Golkar. Bisa dirasionalkan dari struktur kepemimpinan dan visi partainya. Materialisme dan pragmatisme kekuasaan. menjadi kasat mata dari tampilan pengurusnya yang mayoritas pengusaha  yang besar di jaman ORBA dan para purnawirawan jendral. Semuanya bersatu padu bagaikan harmoni paduan suara  dibawah  sang konduktor nekolim.

Kepemimpinan Asia Dalam Pentas Dunia

(Jokowi, Tiongkok, dan Amerika)

Sungguh berat dan menjadi tantangan yang luar biasa bagi era kepemimpinan Jokowi. Di dalam negerinya, ia harus berhadapan langsung dengan kepanjangan tangan kekuatan nekolim dalam bentuk birokrasi dan politisi yang menjadi anak kandung ORBA. Bahkan segelitir kekuatan militer yang termakan doktrin dan menjadi produk pendidikian Amerika yang terlibat menjatuhkan Soekarno.  Lebih dari sekedar keberanian,  tetapi mutlak diperlukan sinergi dan  penggalangan kekuatan berkapasitas internasional, setidaknya pada negara-negara yang memiliki karakter, visi, komitmen yang sama.

Negara dengan platform anti kolonialisme dan imperialisme. Negara yang tidak tunduk pada hegemoni dan dominasi kapitalisme. Soekarno pernah melakukan itu, membangun dan menggalang kekuatan bangsa-bangsa Asia-Afrika, menyerukan perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme internasional. Mengobarkan semangat lahirnya kekuatan baru (NEFOS), membangun kerja sama dengan Uni Sovyet,  hingga membentuk jejaring Poros Jakarta Peking. Mungkinkah siklus sejarah terulang lagi dalam mozaik Indonesia?, seperti transisi kekuasaan Jepang dari Belanda dan sekutu sebelum berakhirnya perang dunia kedua yang mendorong kemerdekaan Indonesia.

Atau mungkin juga polarisasi perang dingin yang menyeret Kebijakan politik dalam dan luar negeri Soekarno,  khususnya kedekatan Soekarno dengan Uni Sovyet dan RRC jelang kejatuhannya?. Entahlah, yang jelas selain perlawanan terhadap kekuatan nekolim pada saat itu, semangat kebangsaan era itu selaras dengan gerakan kebangkitan Asia Afrika, utamanya China sebagai saudara tua Asia yang akan menyelamatkan Indonesia dari pengaruh hegemoni dan dominasi barat. lebih dari setengah abad kini, negara Indonesia berusaha melepaskan  cengkeraman dan belenggu kekuasaan ekonimi dan politik nekolim yang dipimpin Amerika dan blok barat.

Pada akhirnya hanya rakyat Indonesialah yang dapat menentukan sikap politiknya dalam pilpres 2019. Seorang Jokowi berada dalam pusaran gejolak dunia dan cita-cita membangun bangsa serta membawa rakyat dan negaranya lebih bermartabat dan tidak tertinggal dari bangsa lain.  Dalam pilpres 2019, Jokowi adalah seorang yang unik dan dia tidak berkompetisi. Dengan landasan ideologi, Sosok  Jokowi adalah “to be or not to be” dan “point no return. Karena dia berhadapan dengan nekolim yang pernah dilawan dan sekarang menguasai bangsanya.

oleh Yusuf Blegur-Aktivis 98 dan sekarang aktif sebagai Pekerja Sosial Masyarakat.

Sambungan dari Episode Panjang “Piala Dunia” Imperialisme dan Kolonialisme Modern (Bagian 1)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top