Kim Vs Trump, Era Baru Perang Dingin – Perang Generasi V (Bagian2) – strategi.id
Dialektika

Kim Vs Trump, Era Baru Perang Dingin – Perang Generasi V (Bagian2)

perang generasi V

Strategi.id (Singapura) – meskipun menjadi anggota dari negara negara commonwealth (persemakmuran), dipilih sebagai tempat perundingan karena dianggap netral, tapi bagi poros Pyongyang-Peking-Moskow, Singapura juga dianggap sebagai bagian dari battle ground dalam perang kepentingan atas perebutan wilayah geopolitik dan ekonomi Asia Pasifik antara Amerika Serikat versus poros Pyongyang-Peking-Moskow.

Sejarah juga mencatat bagaimana sejak dahulu kala Selat Malaka memang berperan penting menjadi wilayah strategis Sea Line of Communication antar benua dengan sebutan Spice Road yang menghubungkan lintasan laut antara kawasan utara dan selatan, barat dan timur.

Carl von Clausewitz, seorang jendral kerajaan Prussia sekaligus juga seorang ahli strategi militer dalam bukunya “On War” menuliskan bahwa “Perang bukanlah suatu fenomena yang berdiri sendiri secara independen, melainkan adalah kelanjutan dari proses politik dengan cara yang berbeda.” Dalam konteks itu, berbagai manuver yang dilakukan oleh Kim Jong Un tentu bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri dan terpisah dari rangkaian apa yang terjadi semasa Perang Dingin meskipun sejarah juga mencatat terjadinya perubahan geopolitik kawasan dan terkait juga dengan perubahan penguasaan ekonomi dunia.

Berbagai manuver agresif dari Kim Jong Un tetap harus dilihat dalam konteks kepentingan besar dari aliansi strategis geopolitik kawasan yang disebut Soekarno sebagai poros Pyongyang-Peking-Moskow. Korea Utara yang berbatasan darat langsung dengan RRC di sebelah utara dan Korea Selatan di sebelah selatan, juga menghadap ke Laut Jepang berbatasan laut langsung dengan Jepang di sebelah timurnya, posisinya sangat strategis dengan bentang alamnya berfungsi sebagai benteng bagi kepentingan pertahanan RRC dari serangan pangkalan AS di Pyongtaek, Korea Selatan dan Okinawa, Jepang.

Dalam strategi perang modern Generasi V yang sudah tidak lagi memisahkan secara tegas antara perang dan politik juga antara kombatan dan penduduk sipil, maka setiap wilayah merupakan medan peperangan sekaligus juga ruang politik dimana penggunaan kekuatan militer dalam konteks kepentingan geopolitik kawasan merupakan pola pendekatan asimetrik yang dikombinasikan dengan kemampuan diplomasi di atas meja perundingan. Apa yang dimainkan oleh Korea Utara merupakan implementasi dari Perang Generasi V.

Secara ilustratif, pertemuan Kim vs Trump bisa digambarkan dalam permainan catur dengan Kim Jong Un berposisi sebagai Benteng Hitam yang sedang melakukan manuver langkah skakmat terhadap Trump sebagai Raja Putih sehingga memaksanya untuk berhadap hadapan dengan Kim di meja perundingan. Sekalipun telah berhadapan dengan Raja Putih, apa yang dilakukan oleh Benteng Hitam tetap dalam penjagaan Menteri dan Gajah yang perannya dimainkan oleh US dan RRC.

Maka mudah sekali disimpulkan bahwa pertemuan antara Kim dan Trump sesungguhnya menjadi bukti dari keunggulan posisi poros Pyongyang-Peking-Moskow atas Amerika Serikat dan sekutunya. Dengan penjagaan yang kuat dari US dan RRC, Kim Jong Un secara psikologis dalam posisi “nothing to lose” untuk menekan Trump habis habisan dengan penuh percaya diri memaksa Amerika Serikat agar segala tuntutannya dipenuhi. Jika pun tidak terjadi kesepakatan dalam pertemuan nanti, toh bagi Kim Jong Un dan poros Pyongyang-Peking-Moskow, pertemuan di Singapura tetaplah sebuah kemenangan moral.

Perundingan apapun yang dilakukan dalam upaya penyelesaian konflik tetap saja bersifat detente yang memiliki peluang keberhasilan dan kegagalan sama besarnya, bahkan yang terburuk sekalipun hasilnya dimana kedua belah pihak akhirnya memutuskan bersepakat untuk tidak sepakat. Artinya, terlepas apapun hasil kesepakatannya tidak akan menghilangkan fakta dan realita bahwa era baru Perang Dingin sedang dimulai.

Masalahnya, apakah era baru Perang Dingin bisa diselesaikan melalui meja perundingan seperti halnya yang dilakukan oleh Reagan dan Gorbachev, ataukah menjadi benar apa yang dikatakan Clausewtiz bahwa perang bukanlah suatu fenomena yang berdiri sendiri secara independen, melainkan adalah kelanjutan dari proses politik dengan cara yang berbeda.

Mari kita tunggu saja kelanjutannya…

Lihat bagian sebelumnya: Kim VS Trump, Era baru Perang Dingin – kilas Balik

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top