Etika Politik Komunikasi dalam Kasus Jenderal Kardus vs 500 M – strategi.id
Dialektika

Etika Politik Komunikasi dalam Kasus Jenderal Kardus vs 500 M

Strategi.id Merilis Hasil Jejak Pendapat Calon Presiden dan Wakil Presiden 2019
Strategi.id - Ilustrasi Jokowi dan Prabowo dalam Pertarungan Pilpres 2019

Strategi.id – Menurut Andi Arief, terkait pernyataannya ihwal Sandiaga akan memberikan sejumlah uang kepada Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) sampai dengan kasus “jenderal kardus” bukanlah hal yang mengada-ngada.

“Apa yang saya sampaikan itulah yang sebenernya, bukan mengada- ada,” kicau Andi Arief dalam Twitternya, Minggu (12/8/18).

Andi Arief mengatakan bahwa Sandiaga telah mengakui uang yang akan diberikan kepada PKS dan PAN untuk biaya kampanye. Bahkan ia melampirkan salah satu pemberitaan di media massa dengan judul ‘Sandi Sebut Mahar Rp1 Triliun untuk Kampanye’ sebagai penguat pernyataannya.

“Soal Mahar entah dalam bentuk penaklukan atau kampanye sudah diakui Sandi Uno,” ujar Andi.

Karena itu, Andi mengatakan, kepada pihak yang sebelumnya menghujatnya tidak perlu meminta maaf. Namun ia meminta kepada penghujat untuk mengintropeksi diri.

“Pimpinan PAN dan PKS yang telah menghujat saya tak perlu minta maaf pada saya, tapi saya anjurkan lihat muka di cermin,” ujar Andi Arief.

Melihat persoalan yang muncul dan menjadi viral di Ranah Media sosial dalam bahasa komunikasi kita mengenal elemen komunimasi yaitu Source, Message,Channel dan Receiver, yang kalau salah satu elemen tidak ada maka tidak akan terjadi komunikasi.

Selain itu dalam komunikasi pula kita mengenal apa yang dikenal dengan Isi Pesan,Informasi dan Berita.Isi pesan adalah segala hal yang kita tangkap dengan pancaindra yang kemudian kita simpan sebagai tambahan pengetahuan atau frame of reference bagi kita.

Sedangkan informasi adalah ketika isi pesan itu yang disampaikan kepada orang lain,disinilah seorang nara sumber atau source diukur tingkat kredibilitasnya dan kapabilitasnya. Apakah benar isi pesan yang disampaikan sebagai informasi itu atau kah hanya rekaan belaka, sehingga informasi tidak dapat diukur sebagai kebenaran.

Berbeda dengan Berita, Berita dapat disederhanakan maknanya yaitu ketika informasi itu diyakini kebenarannya dan disampaikan melalui media massa periodik. Disinilah kekuatan sebuah berita yang bersumber dari informasi tadi.

Artinya ketika sudah menjadi berita maka sudah tidak diragukan lagi kebenarannya,dan yang paling penting sebuah berita bisa menjadi dasar dalam perkara hukum karena mengandung nilai kebenaran. Dalam berita ada Fakta,ada data yang bisa dibuktikan.

Jadi ketika ada Berita tentang kasus mahar Pilpres yang menimpa Cawapres Sandiaga Uno ,maka bisa dipastikan memiliki nilai kebenaran, dan aparat penegak hukum sudah bisa mengusut kasus tersebut. Begitu sebaliknya bila ternyata dalam kasus tersebut terbukti tidak ditemukan hal yang dinyatakan atau ternyata adalah kabar bohong maka dapat ditindak secara hukum pula.

Dalam kasus hukum yang berlaku di Indonesia tidak dikenal permintaan maaf saja, permintaan maaf bisa dilakukan namun hukum tetap berjalan sesuai dengan Undang Undang yang berlaku dan pembuktiannya hanya ada dalam proses peradilan.

Sudahkah Etika Politik dalam Komunikasi sudah dijalankan ?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top