Fatherless Country Jadi Bahasan Dalam Pendidikan Keayahbundaan di RPTRA Anoa – strategi.id
Nusantara

Fatherless Country Jadi Bahasan Dalam Pendidikan Keayahbundaan di RPTRA Anoa

Strategi.id - Fatherless Country Jari Bahasan Dalam Pendidikan Keayahbundaan di RPTRA Anoa
Strategi.id - Fatherless Country Jari Bahasan Dalam Pendidikan Keayahbundaan di RPTRA Anoa

Strategi.id – Setiap ayah dan bunda harus terus membekali diri dengan seperangkat pemahaman dan keterampilan yang baik dan utuh tentang bagaimana merawat dan mendidik anak yang meluhurkan di dalam sebuah keluarga.

Sehingga anak bisa berada dalam lintasan proses tumbuh-kembang menuju kedewasaan yang sesuai harapan dan fitrah dambaan banyak orang tua dan anak itu sendiri.

Selain itu, seperangkat “persenjataan” berupa metode-metode tepat guna yang dapat diandalkan untuk menanamkan (menginstal) pikiran dan perilaku mulia pun harus dimiliki dan dipraktikkan para ayah dan bunda secara kolaboratif, bahkan sejak masa konsepsi, masa kehamilan, masa bayi .

Sebab jika itu tidak dimiliki para ayah dan bunda, maka orang lain, lingkungan sekitar, bahkan perangkat digital, justru berpeluang mengambil alih proses penginstalan pikiran dan perilaku anaknya itu, yang dikhawatirkan bisa saja menyesatkan anak. Dan mampu membentuk perilaku buruk anak di dalam proses tumbuh-kembangnya menuju kedewasaan.

Benang merah pikiran-pikiran itu mengemuka di acara Diskusi Buku Tematis bertema Pendidikan Keayahbundaan untuk Siapkan Anak Masuki Masa Jelang dan Pasca Pubertas (Akil Baligh), Acara yang digelar di RPTRA Anoa Jakarta Utara yang dihadiri puluhan kader PKK Kelurahan Sukapura Kecamatan Cilincing itu merupakan kerjasama antara Sudin Pusip Jakarta Utara dan Jaringan Anak Nasional (JARANAN), Sabtu (4/5/2019).

Baca Juga : Workshop Zero Waste Menginspirasi Pengelola RPTRA Jakut

Acara berlangsung interaktif, saling menginspirasi, saling berbagi pengalaman, serta membahas penanganan kasus-kasus yang kerap muncul dalam hubungan anak dan orangtua ketika anak memasuki masa pubertas.

Narasumber pemantik diskusi buku tematis yang berfokus pada khazanah literatur ilmu keayahbundaan dan kesehatan reproduksi itu, berasal dari para fungsionaris JARANAN yang sudah melang-melindang di dunia pendidikan keluarga dan pemberdayaan komunitas.

Mereka adalah Nanang Djamaludin, Harida Bakrie, Rialdo Rezeky M.L Toruan dengan moderator jurnalis Budhi Firmansyah Surapati. Muhammad Ridwan, seorang remaja mantan Ketua Forum Anak DKI Jakarta yang juga relawan JARANAN pun memberi testimoni tentang bagaimana ia tumbuh dan berkembang melalui masa-masa ketika jelang dan pasca akil baligh.

Lurah Sukapura Abdul Rahman Hakim yang membuka acara pun menyambut positif kegiatan itu. Ia berharap semakin banyak kegiatan dari SKPD-UKPD yang bersentuhan dengan tujuan pembangunan RPTRA, bisa menyentuh kebutuhan-kebutuhan ril peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang ada di kelurahan. Sehingga masyarakat di tingkat bawah bisa semakin tercerahkan.

Terus berlangsungnya Fatherless country

Pada kesempatan itu Direktur Eksekutif JARANAN Nanang Djamaludin menyayangkan terus berlangsungnya fenomena fatherless country atau kecenderungan tidak hadirnya sosok seorang ayah, visi ayah, dan upaya-upaya yang utuh dan relevan dari seorang ayah, dalam banyak aspek proses pengasuhan dan pendidikan anak dalam banyak keluarga di tengah masyarakat.

Padahal lewat fenomena fatherless country itu membuka peluang lebih lebar bagi masuknya program-program pikiran yang menyesatkan yang berasal dari luar visi keluarga yang hendak dibangun sejak awal oleh seorang ayah dan bunda.

“Tapi yang dikhawatirkan jangan-jangan, disadari atau tidak, fenomena umum fatherless country itu merupakan cerminan dari betapa minimnya para ayah dan bunda dalam sebuah keluarga di tengah masyarakat yang telah merumuskan bersama visi keluarga yang hendak dibangunnya ketika memutuskan berumah tangga”, cetusnya.

Lebih jauh ia mengatakan betapa pentingnya pendidikan keayahbundaan bagi banyak keluarga di tengah proses pengasuhan dan pendidikan anak yang cuma mengandalkan warisan praktik dari generasi-generasi sebelumnya.

Padahal boleh jadi banyak hal keliru yang harus dikoreksi dalam proses pengasuhan dan pendidikan anak berbasis warisan praktik itu.

Meski, lanjutnya, tentu saja ada praktik pengasuhan dan pendidikan abak berdasarkan warisan praktik dari generasi sebelumnya yang baik dan perlu dipertahankan.

Tinggal kemampuan kita meneropong mana saja dari hal itu yang ternyata ditopang oleh teori-teori ilmiahyang dapat diandalkan, dan mana saja yang ternyata berunsurkan mitos tak jelas juntrungannya.

“Di tengah tantangan besar saat ini dalam mengasuh dan mendidik anak, khususnya ketika anak masuki jelang dan pasca akil baligh, maka seperangkat senjata berupa metode mutakhir dan efektif, diantaranya hypnoparenting, harus dimiliki para ayah dan bunda. Dan lantaran terbatasnya waktu pertemuan kita ini, silahkan saja untuk bisa mengagendakan pertemuan spesifik berikutnya dengan waktu yang lebih lapang bersama kami,” tandas Nanang.

Sementara itu dosen ilmu Komunikasi Universitas Prof Dr Moestopo (Bearagama) Rialdo Rezeki menekankan pentingnya para orangtua membangun praktik komunikasi dengan pendekatan persoanal pada setiap anak.

Sebab, menurutnya setiap anak itu sesungguhnya unik, dengan sifat dan kecenderungan keinginan, minat, bakat. dan kemampuan yang berbeda-beda. Sehingga ketika anak kita lebih dari satu, misalnya, maka komunikasi yang dibangun oleh orangtua pada masing-masing anaknya harus bersifat persoanal.

“Sekali-kali deh dibiasakan dalam sebuah pola waktu tertentu, misalnya, para ayah dan bunda menawarkan menu makanan yang berbeda-beda pada setiap anaknya,” ujarnya.

Baca Juga : Anak-Anak di Tiga RPTRA Jakut Terpana dan Gembira dihibur Pendongeng

Harida Bakrie atau yang akrab disapa Lidya Bakrie meminta para orang tua agar tidak abai untuk memberi pemahaman tentang masalah kesehatan reproduksi kepada anak-anak sejak usia dini.

“Anak harus tahu fungsi-fungsi organ vital miliknya yang harus dijaga dan dirawat sebaik-baiknya. Dan seperti apa perkembangan organ vital anak itu berikut konsekwensi-konsekwensi tertentu atas perlakuan terhadap organ vitalnya itu ketika anak memasuki masa akil baligh,” ujarnya sambil menampilkan gambar-gambar presentasinya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top