Garuda Ambil Alih Sriwijaya Air Kuasai 51 % Pangsa Pasar Domestik – strategi.id
BUMN

Garuda Ambil Alih Sriwijaya Air Kuasai 51 % Pangsa Pasar Domestik

Strategi.id- Harga saham maskapai penerbangan pelat merah yakni PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) melesat hingga sempat menyentuh 23% pada perdagangan saham Kamis (15/11/18) ke level Rp 246/saham. Transaksi atas saham GIAA berlangsung sangat ramai. Hingga berita ini diturunkan, saham GIAA ditransaksikan sebanyak 75,3 juta unit, jauh mengalahkan rata-rata volume transaksi harian yang sebesar 2,9 juta unit.

Pada awal perdagangan saham, saham PT Garuda Indonesia Tbk dibuka menguat tipis 2 poin ke posisi 202 dari penutupan perdagangan kemarin Rp 200 per saham. Saham PT Garuda Indonesia Tbk pun sempat berada di level tertinggi Rp 246 dan terendah Rp 200.

Baca Juga : RUPSLB Garuda Indonesia Menetapkan I Gusti Ngurah Askhara Danadiputera Sebagai Dirut

Saham GIAA melesat pasca perusahaan melalui anak usahanya yakni PT Citilink Indonesia mengambil alih pengelolaan operasional Sriwijaya Air Group yang terdiri dari maskapai Sriwijaya Air dan NAM Air.

KSO itu ditandatangani pada 9 November 2018. Keseluruhan operasional grup Sriwijaya termasuk keuangan akan berada di bawah pengelolaan dari KSO itu.

“Kerja sama operasi ini ditujukan untuk membantu Sriwijaya Air group memperbaiki kinerja operasi dan kinerja keuangan termasuk membantu Sriwijaya Air dalam memenuhi komitmen – komitmen atau kewajiban mereka terhadap pihak ketiga yang diantaranya ada pada lingkungan Garuda Indonesia Group,” kata Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Ari Askhara di Jakarta (14/11/18).

Ari menambahkan bagi grup Garuda Indonesia, kerja sama joint operation ini, dapat memberikan dampak yang positif di antaranya Citilink Indonesia dapat mensinergikan dan memperluas segmen pasar, jaringan, kapasitas dan kapabilitasnya, serta mempercepat restrukturisasi penyelesaian kewajiban grup Sriwijaya pada salah satu anak Perusahaan Garuda Indonesia.

Baca Juga : Pemerintah Bentuk Satgas Atasi Masalah Garuda Indonesia

Langkah strategis itu juga membantu sinergi grup Garuda Indonesia dan Sriwijaya dalam mengelola pangsa pasar penumpang angkutan udara hingga 51 persen.
Kerjasama ini berpotensi membawa angin segar bagi GIAA yang saat ini sedang mencoba membalikkan performa keuangannya. Sepanjang 9 bulan pertama tahun ini, GIAA membukukan kerugian sebesar US$ 114,1 juta, jauh lebih kecil dibandingkan kerugian periode yang sama tahun 2017 sebesar US$ 222 juta.

Perlu diketahui, di Indonesia ada 5 pemain besar yang melayani rute penerbangan domestik yakni Lion Air, Garuda Indonesia, Citilink, Batik Air, dan Sriwijaya Air. Mengutip laporan keuangan GIAA tahun 2017, perusahaan menguasai PT Citilink Indonesia sebanyak 99%. Sementara itu, Batik Air merupakan anak usaha dari Lion Air.

Melansir data Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, pangsa pasar Lion Air pada tahun 2017 adalah sebesar 34%, diikuti Garuda Indonesia (20%), Citilink (13%), Batik Air (10%), dan Sriwijaya Air (10%).

Aksi ambil alih Sriwijaya Air Group oleh Garuda Indonesia Group ini dapat berkembang menjadi sebuah win-win solution bagi industri penerbangan yang tengah tertekan kenaikan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah.

Baca Juga : PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk telah menggelar RUPSLB Mengangkat Direksi Baru

Garuda Indonesia Group dan Sriwijaya Group yang bersatu untuk mengendalikan 4 maskapai (Garuda, Citilink, Sriwijaya, NAM Air) kini memiliki jaringan penerbangan lebih luas yang menyasar segmen pasar lengkap dari low cost carrier hingga full service. Karena itu, Garuda dan Sriwijaya Group bisa saja menaikkan tarif tentunya diikuti dengan pelayanan yang lebih baik, misalnya menawarkan konektivitas penerbangan dan sebagainya.

Di sisi lain, Lion Air Group (Lion Air, Batik Air, Wings Air) juga dapat ikut menaikkan tarif penerbangan, tentu jika melihat kompetitor menaikkan harga tiket. Bagi Lion Air dan Batik Air, menaikkan harga jual tiket menjadi sesuatu yang sangat mungkin dilakukan apalagi di saat menjelang musim liburan, dimana permintaan atas transportasi udara akan menjadi sangat tinggi.

Jika maskapai-maskapai itu menaikkan tarif, pangsa pasar kemungkinan tidak berubah, namun di sisi lain profitabilitas maskapai akan terkerek naik.

Jadi, pengambilalihan operasional Sriwijaya Air oleh GIAA berpotensi menjadi win-win solutionbagi keduanya, bahkan mungkin industri penerbangan nasional.

Yang jelas, profitabilitas dari Garuda Indonesia Group dan Sriwijaya Air Group bisa dikerek naik. Respons investor atas saham GIAA menunjukkan bahwa mereka mengapresiasi potensi terkereknya profitabilitas perusahaan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top