Gerilya dan Kudeta Merangkak Kaum LGBT - strategi.id
Dialektika

Gerilya dan Kudeta Merangkak Kaum LGBT

Strategi.id - Gerilya dan Kudeta Merangkak Kaum Barudak Gay, LGBT
Strategi.id - Gerilya dan Kudeta Merangkak Kaum Barudak Gay, LGBT

Strategi.id – Keberadaan grup Facebook Kumpulan Barudak Gay SMP/SMA Garut yang beranggotakan kalangan pelajar juga orang dewasa penyuka sesama jenis. Dan berjumlah sekitar 2600 orang, telah bikin heboh masyarakat. beberapa hari belakangan ini.

Masyarakat Garut khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya pun dibuat resah dan geram atas keberadaan grup yang kerap memposting obrolan dan gambar-gambar perilaku orientasi seks menyimpang itu.

Sebenarnya grup facebook tersebut cuma satu saja dari banyaknya grup di pelbagai platform medsos yang tetap eksis hingga saat ini. Baik itu grup tertutup maupun terbuka, yang menjadi wadah komunikasi dari berbagi info antar para pengamal dan penghayat orientasi seks menyimpang (LGBT). Mencari sasaran kencan, sekaligus perluasan jaringan, promosi dan propaganda terselubung mereka.

Banyak pihak heran, kok bisa sih perilaku dan orientasi seks menyimpang LGBT itu semakin banyak saja penganutnya pada saat ini, bahkan telah merambah pada banyak anak di bawah umur, termasuk yang tinggal di pelbagai pelosok daerah yang sebelumnya relatif nihil dari perilaku seks menyimpang?

Dalam konteks itu, sesungguhnya semakin banyaknya jumlah pengamal dan penghayat orientasi seks menyimpang LGBT sangat ditopang oleh beberapa realitas berikut:

Pertama, pesatnya penggunaan medsos dan gawai berbasis internet. Sekurangnya satu dekade terakhir ini telah turut memperbanyak dan memperluas cakupan rekruitmen dan proses kloning perilaku dan orientasi seks menyimpang di tengah masyarakat, tak terkecuali di kalangan anak-anak.

Lewat internet dan medsos yang dinikmati secara personal apalagi oleh anak. Yang belum diberikan pemahaman yang utuh tentang seks dan orientasi seks yang sehat dan kodrati. Maka lambat laun sebuah ide sesat dan visualisasi tentang orientasi seks menyimpang tersebut akhirnya lambat laun akan terbenam di sistim memori anak.

Lalu dalam perkembangannya amat potensial mengaktual menjadi perilaku yang akan turut dilakoninya jika tak segera ada koreksi atas pemahaman sesat yang telah membenam itu.

Kedua, banyaknya kasus dan korban aksi tindak pidana sodomi terhadap anak. Dalam rentang beberapa dekade terakhir ini di pelbagai daerah dalamy cakupan wilayah yang tersebar luas, baik yang terungkap maupun yang tidak terungkap polisi dan media.

Namun para korban itu ternyata banyak yang tidak dikonseling dan diterapi secara tuntas, sehingga hal itu pun dalam sebuah proses yang tak diharapkan justru potensial mengkloning para korban itu menjadi pengamal dan penghayat seks menyimpang.

Contoh atas kasus seperti ini amat banyak terjadi. Salah satu yang terkenal adalah Emon, penyodomi serial dari Sukabumi yang sebelumnya adalah korban sodomi.

Ketiga, LGBT sesungguhnya sejak sekitar tahun 1970-an telah tumbuh sebagai gerakan internasional yang solid.

Dengan pendanaan kuat, pengikut dan simpatisannya yang terus meluas, tak terkecuali dari kalangan selebritis, politisi dan ilmuwan. Secara agresif mempromosikan orientasi seks menyimpang secara luas ke pelbagai negara. Baik secara terang-terangan, maupun semi terang-terangan dan sembunyi-sembunyi.

Keempat, terus dilakukannya secara kontinyu upaya-upaya pembenaran perilaku dan orientasi seks menyimpang lewat jubah sains. Sehingga kebenaran yang dikatakan banyak orang terkait orientasi seks menyimpang seperti LGBT itu justru menurut mereka merupakan perilaku dan orientasi seks yang amat kodrati. Bukanlah penyakit atau sejenis gangguan kejiwaan.

Terlebih sejak tahun 1973 lewat strategi mereka melakukan desakan politik lewat demonstrasi besar-besaran di AS. Dan juga lewat infiltrasi ilmuwan LGBT ke dalam task force American Psychiatric Association (APA) yang menyusun revisi Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), kitabnya kalangan Psikiatri.

Maka pada tahun 1973, LGBT berhasil mereka keluarkan DSM dan dianggap bukan lagi gangguan Jiwa. Padahal pada DSM-DSM sebelumnya, LGBT selalu dimasukkan sebagai kategori gangguan jiwa.

Lewat keempat realitas menonjol itulah. Sesungguhnya ide dan praktik orientasi seks menyimpang sedang terus “bergerilya melakukan “kudeta merangkak” mencapai tujuan dambaan kaum LGBT dibanyak negara legalisasi perilaku dan orientasi seks menyimpang, serta legalisasi perkawinan sejenis”.

Kini persoalannya, apakah kita sebagai bangsa tergerak untuk kompak bersama merumuskan dan menjalankan agenda-agenda kebangsaan secara sungguh-sungguh. Yang menjadi antitesis atas keempat realitas menonjol yang berlangsung terkait perilaku dan orientasi seks menyimpang tersebut?

Dan yakinkan, bahwa perilaku dan orientasi seks menyimpang pada diri seseorang, sangatlah bisa untuk dikembalikan pada fitrahnya yang sejati.

*Nanang Djamaludin, Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Keayahbundaan dan Perlindungan Anak

Berikan Komentar

Berikan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

15 + 10 =

Atas