GESTOK, GESTAPU & G30S/PKI, Mana Yang Hoaks? - strategi.id
Nusantara

GESTOK, GESTAPU & G30S/PKI, Mana Yang Hoaks?

GESTOK, GESTAPU & G30S/PKI, Mana Yang Hoaks?
Strategi.id- AH Nasution, Soekarno, Soeharto (foto : is)

Strategi.id – Tragedi berdarah tahun 1965 telah lama berlalu, atau tepatnya telah 52 tahun  yang lalu berlalu. Namun masih ada saja sekelompok orang yang terus-menerus dan berusaha mengorek-ngorek luka bangsa tersebut.

Berbagai versi cerita mereka munculkan dan bermacam cara mereka lakukan tapi dengan satu tujuan yaitu ingin memutar balikan fakta peristiwa dan ini membenarkah istilah Bahwa “Sejarah adalah untuk para Pemeneng” .

Yang boleh bilang “What is in a name?” tampaknya hanyalah Shakespeare yang memang hidup di abad 16. Kita yang hidup di era pencitraan harus tahu betul bahwa jejak sejarah atau digital adalah segalanya.

Baca Juga : Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto: Ancaman PKI Sudah Tak Ada

Itulah sebabnya, dalam persoalan gerakan 30 September 1965 pun ada berbagai jejak sejarah. Para pemrakarsa dan pendukung gerakan penculikan atas sejumlah jenderal di dini hari buta itu menamakan gerakan mereka Gerakan 30 September.

Nama gerakan ini menurut transkrip sidang Mahmillub yang mengadili Supono Marsudidjojo dan Dekrit no 1 tentang Pembentukan Dewan Revolusi Indonesia (keduanya disimpan di Kahin Center, AS-red), pertama kali disebut 29 September 1965 dalam suatu pertemuan yang merancang dan melakukan kudeta, dan kemudian digunakan dalam pengumuman pertama gerakan tersebut.

Berdasarkan kesaksian jenderal AH Nasution yang merupakan satu-satunya saksi korban yang berhasil selamat, serta kesaksian inspektur Polisi Sukiman yang berada ditempat peristiwa pembunuhan,  ingin mencoba arah memenagkan dari fakta sejarah yang ada , Apakah  PKI  adalah korban dalam peristiwa tersebut atau Apakah PKI adalah Pelaku dari kejadian 30 September 1965, lalu mana kah yang hoax/hoaks ?

Ada 3 istilah yang beredar untuk penyebutan Tragedi berdarah ditahun 1965, yaitu GESTOK, GESTAPU dan G30S/PKI. Mari mengenal 3 istilah tersebut:

GESTOK (Gerakan Satu Oktober)

Bung Karno menyebut peristiwa berdarah tersebut dengan sebutan GESTOK (Gerakan Satu Oktober),  karena peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 1 Oktober. Gestok pertama kali diucapkan  dalam pidato Presiden Sukarno. Ia mengajukan penamaan menurut versinya sendiri, yakni “Gerakan Satu Oktober” atau “Gestok.” Menurutnya, Gestok jauh lebih tepat menggambarkan peristiwanya karena kejadian penculikan para jenderal dilakukan lewat tengah malam 30 September yang artinya sudah memasuki tanggal 1 Oktober dini hari.

Tidak ada yg salah dalam penyebutan GESTOK karena peristiwa tersebut memang terjadi pada tanggal 1 Oktober dini hari. Namun Bung Karno seolah mengabaikan kalau pada tanggal yang sama  gerakan berhasil “ditumpas dan dilumpuhkan”. Mungkin saja Soekarno memiliki pemikiran lain tentang yang terjadi di bulan september sampai dengan bulan Oktober 1965.

Baca Juga : Moeldoko Tanggapi Nobar Film G30S/PKI

Sejarah mencatat kalau Bung karno memang dikenal suka membuat singkatan-singkatan dan menjadikannya sebagai sebuah kata yang baru dan lebih progresif, seperti berdikari (Berdiri Diatas Kaki Sendiri), Jasmerah (Jangan Sekali-sekali meninggalkan Sejarah), Nekolim (Neo Kolonialisme) dll.

GESTAPU (Gerakan September Tiga Puluh)

Jenderal Nasution menyebut peristiwa berdarah tersebut dengan istilah GESTAPU (Gerakan September Tiga Puluh). Karena kejadian tersebut adalah rentetan dari peristiwa yg terjadi dibulan September 1965 dan berakhir  pada tanggal 1 Oktober 1965.

Jenderal Nasution seolah ingin menunjukan bila bulan Oktober adalah bulan kemenangan bangsa Indonesia atas orang-orang yang melakukan langkah kudeta ini.

Tidaklah mungkin kita memperingati 2 peristiwa yg sama namun berbeda makna dalam satu tanggal. Itu sebabnya kita mengingat tanggal 30 September sebagai hari berkabung nasional dan tanggal 1 Oktober sebagai hari kemenangan atas kegagalan kudeta.

Ketika itu terjadi persaingan dua istilah. Pertama, Gestok yang diucapkan dalam pidato-pidato Presiden Sukarno, singkatan dari Gerakan Satu Oktober. Alasannya, peristiwa itu terjadi dini hari tanggal 1 Oktober. Sebaliknya pers militer menyebutnya Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh).

Istilah ini memang menyalahi kaidah bahasa Indonesia, namun sengaja dipakai untuk mengasosiasikannya dengan Gestapo, polisi rahasia Nazi Jerman yang kejam itu.

Mereka member gambaran tentang pembantaian massal orang-orang yg terindikasi terlibat PKI yg terjadi pasca tragedi di Lubang Buaya dengan pembantaian yang dilakukan oleh GESTAPO di Eropa pada masa perang dunia ke II.

Ini terasa sangat menyakitkan karena istilah GESTAPU digunakan oleh Jenderal Nasution yang notabene merupakan satu-satunya korban yg berhasil selamat dari maut tragedi 1965.

G30S/PKI (Gerakan Tiga Puluh September/PKI)

Jenderal Suharto menyebut peristiwa berdarah tersebut dengan istilah G30S dengan tambahan kata PKI dibelakangnya.

Suharto sengaja menyematkan kata PKI dibelakang kata G30S dengan tujuan menimpakan semua kesalahan pada PKI.

Suharto tidak ingin rakyat Indonesia memiliki persepsi yang liar bila menggunakan istilah yg lain. Istilah G30S mengambil istilah yang digunakan oleh Jenderal Nasution yaitu GESTAPU.

Penggunaan istilah G30S/PKI juga untuk meredakan ketegangan antara Jenderal Nasution dengan Sukarno yang tetap menolak istilah GESTOK yang digunakan Bung Karno.

Baca Juga : Kontroversi Pelarangan Film G30S/PKI di Masyarakat

Pada tanggal 16 Oktober 1965, Sukarno melantik Mayjen Suharto menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat di Istana Negara. Berikut kutipan amanat presiden Sukarno kepada Suharto pada saat Suharto disumpah:

Saya perintahkan kepada Jenderal Mayor Soeharto, sekarang Angkatan Darat pimpinannya saya berikan kepadamu, buatlah Angkatan Darat ini satu Angkatan daripada Republik Indonesia, Angkatan Bersenjata daripada Republik Indonesia yang sama sekali menjalankan Panca Azimat Revolusi, yang sama sekali berdiri di atas Trisakti, yang sama sekali berdiri di atas Nasakom, yang sama sekali berdiri di atas prinsip Berdikari, yang sama sekali berdiri atas prinsip Manipol-USDEK.
Manipol-USDEK telah ditentukan oleh lembaga kita yang tertinggi sebagai haluan negara Republik Indonesia. Dan oleh karena Manipol-USDEK ini adalah haluan daripada negara Republik Indonesia, maka dia harus dijunjung tinggi, dijalankan, dipupuk oleh semua kita. Oleh Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, Angkatan Kepolisian Negara. Hanya jikalau kita berdiri benar-benar di atas Panca Azimat ini, kita semuanya, maka barulah revousi kita bisa jaya.
Soeharto, sebagai panglima Angkatan Darat, dan sebagai Menteri dalam kabinetku, saya perintahkan engkau, kerjakan apa yang kuperintahkan kepadamu dengan sebaik-baiknya. Saya doakan Tuhan selalu beserta kita dan beserta engkau!

Beragam penyebutan itu berdasarkan waktu terjadinya peristiwa tersebut dan perspektif orang/kelompok yang menamakannya.

Yang paling obyektif tentu saja menamakan peristiwa sebagaimana pelaku gerakan itu menyebut diri mereka yaitu Gerakan 30 September. Itu yang tertulis secara nyata dalam dokumen-dokumen yang dikeluarkan Letnan Kolonel Untung tanggal 1 Oktober 1965 mengenai “Pembentukan Dewan Revolusi” serta “Penurunan dan Penaikan Pangkat”. Bahwasanya kemudian muncul penafsiran tentang dalang peristiwa itu yang berbeda-beda tentu sah saja (PKI, AD, CIA, Sukarno, Soeharto, “kudeta merangkak MPRS”, dst).

Seandainya Suharto tidak mengambil sikap dan mengambil sepenuhnya istilah GESTOK yang digunakan Bung Karno atau bila Suharto menggunakan istilah GESTAPU tentu opini ataupun persepsi rakyat Indonesia akan berkembang secara liar dalam mencari siapa dalang dibalik peristiwa tersebut.

Suharto setelah 1966 sampai dengan masa pemeruntahannya mengasosisikan dan meyebarkan istilah G30S/PKI agar menjadi pemahaman bahwa PKI lah yang harus bertanggung jawab atas peristiwa kelam tersebut.

Walaupun sampa sekarang masih sangat kabur tentang siapakah yang bersalah, siapakah yang kudeta, siapakah yang menyuruh Untung, apakahkah ada peran negara lain dalam kudeta tersebut?

Masih banyak sekali takbir yang harus diungkap, apalagi belum lama ini tiga lembaga Amerika National Security Archive (NSA), National Declassification Center (NDC), dan National Archives and Records Administration (NARA) membuka catatan dokumen peristiwa 1965 dan keterlibatan Amerika dalam kejadian itu.

Sekarang anda mau menggunakan istilah yang mana?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top