Dialektika

‘Getah Getih’, Karya Seni Ataukah Karya Politik?

Strategi.id- 'Getah Getih', Karya Seni Ataukah Karya Politik?
Strategi.id- 'Getah Getih', Karya Seni Ataukah Karya Politik? (Foto : Anies Baswedan/is)

Strategi.id – Luhurnya peradaban suatu bangsa ditentukan oleh kecerdasan budi pekertinya. Kecerdasan budi pekerti suatu bangsa salah satunya akan terlihat dari kemampuan daya cipta rasa karya seni yang terwujud dalam keindahan suatu karya .

Oleh sebab itu keindahan karya seni menjadi tidak bebas nilai, karena ia hanya resultante dati sejauh mana kadar kecerdasan budi pekerti yang melatarinya. Semakin rendah tingkat kecerdasan budi pekertinya akan semakin biadab dan barbar perilaku suatu bangsa.

Perbedaan kecerdasan budi pekerti tentu juga akan melahirkan keragaman karya seni yang setidaknya bisa dikelompokkan menjadi empat: street art, public art, commercial art dan fine art dimana keempatnya punya ceruk penikmatnya masing masing.

Wajar jika masing masing penikmat punya selera dengan versinya masing masing dalam mengapresiasi suatu karya seni, dan itu sah sah saja. Yang justru aneh adalah maraknya pro dan kontra di media massa dan media sosial terhadap karya seni bambu yang berjudul ‘Getah Getih’ buah karya dari Joko Avianto yang baru saja diresmikan oleh Gubernur Jakarta Anies Baswedan pada 16 Agustus 2018 yang lalu.

Nasib ‘Getah Getih’ sebagai sebuah karya menjadi berbeda dari karya seni lainnya. Ia ternyata tidak lagi diapresiasi sebagai sebuah karya seni dari seorang Joko Avianto, namun lebih sebagai karya politik dari Anies Baswedan.

Berbagai komentar penuh hinaan, makian dan hujatan yang berisi kebencian atas karya tersebut semata hanya memperlihatkan betapa rendahnya kecerdasan budi pekerti yang muncul terbaca oleh kelompok pembenci Anies Baswedan hanya karena karya seni tersebut dibangun oleh Anies Baswedan.

Rendahnya tingkat kecerdasan budi pekerti untuk bisa mengapresiasi keindahan karya seni sebagai perwujudan dari kemanusiaan yang adil dan beradab telah dibutakan oleh nafsu kebencian  politik yang membabi buta.

Masih ditambah lagi dengan model politik kebencian yang dikembangkan oleh demokrasi liberal yang anarkhis justru menjadi santapan rohani keseharian yang resonansinya terus diamplifikasi melalui media sosial.

Meski didanai sekitar Rp. 550-an (juta) oleh konsorsium 10 BUMD di bawah pemerintah daerah DKI Jakarta dengan gubernurnya Anies Baswedan, apapun itu, ‘Getah Getih’ tetap merupakan hasil karya seni dari Joko Avianto. Suka atau tidak suka terhadap hasil karyanya itu soal selera yang dibentuk oleh kecerdasan budi pekerti masing masing penikmatnya, dan sekali lagi itu sah sah saja. Dalam konteks berkesenian, jika rasa tidak suka ditampilkan dalam ekspresi kebencian yang bernada penuh hinaan, cemooh, makian dan hujatan; akhirnya itu semua cuma jadi penanda bahwa bangsa ini sedang mengalami darurat peradaban dimana perbedaan tidak lagi ditempatkan sebagai sebuah proses dialektika untuk menghasilkan sesuatu bagi masa depan yang lebih baik.

Peradaban negeri ini tengah menuju ke titik nadir terendah yang termanifestasi dalam kebiadaban barbarik dimana hanya akan menghasilkan saling negasi yang berujung pada kemusnahan dan kepunahan, zero sum game.

Penulis Mahendra Dandhi Utunggadewa mantan aktivis mahasiswa FKSMJ’98 sekarang aktif sebagai pengamat kebudayaan.

Berikan Komentar

Berikan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

15 − five =

Atas