Golkar Memanas,Ada Apa Dibalik Pencabutan Dukungan Golkar DKI Jelang Munas? – strategi.id
Nusantara

Golkar Memanas,Ada Apa Dibalik Pencabutan Dukungan Golkar DKI Jelang Munas?

Strategi.id - Golkar Memanas,Ada Apa Dibalik Pencabutan Dukungan Golkar DKI Jelang Munas?

Strategi.id – Partai Golkar bersiap untuk berbenah di internal. Partai berlambang beringin itu bakal menggelar musyawarah nasional (munas) 2019 ini.

Manuver dukung-mendukung pemilik suara pada nama bakal kandidatpun mulai muncul ke permukaan.

Belum lama ini, Ketua DPD II Golkar Jakarta Selatan Muhammad Ikhsan Ingatubun bersama Ketua DPD II se DKI Jakarta memberikan dukungan pada Bambang Soesatyo. Kami mendukung Ketua DPR RI itu menjadi Ketum Golkar. Adapun Dukungan tersebut adalah aspirasi murni dari kesepakatan kami bersama selaku stakeholder

Baca Juga : Bamsoet Mendapat Dukungan Dari Daerah Untuk Menjadi Caketum Golkar

Akan tetapi, manuver dukungan yang diberikan oleh Ikhsan dkk sudah mulai membuat ‘gerah’ pihak lain. Akrobatik politik elit Gokar lainnya mulai tampil memanasi atmosfir jelang munas.

Para Ketua DPD II DKI Jakarta yang sebelumnya berkomitmen mendukung pencalonan Bamsoet, tiba-tiba mencabut pernyataan tersebut.

“Perlu kami sampaikan pertemuan tersebut berdasarkan hasil kesepakatan dari 6 ketua wilayah berdasarkan undangan silaturahmi dari pihak pak Bamsoet,” kata Plt Ketua DPD Golkar tingkat kota Jakarta Pusat, Basri Baco saat konferensi pers di kantor DPD Golkar, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (29/6/19).

Basri mengungkap pertemuan dengan Bamsoet pagi tadi (sebelumnya), tanpa persetujuan dan izin dari Ketum Golkar dan Plt Ketua Golkar DKI. Basri juga menjelaskan dukungan untuk Bamsoet juga belum berkoordinasi dengan para pimpinan partai.

Hal ini mengundang reaksi dari kader Golkar lainnya. H Devi Andita, mantan wasekjen era kepemimpinan Abu Rizal Bakri, yang ikut pada pertemuan silaturahmi para ketua DPD II dari DKI tersebut.

“Mereka hadir bersilaturahmi dan memberikan dukungan kepada Mas Bambang Soesatyo di kediamannya itu bukan karena Mas Bambang yang undang. Tapi mereka datang karena kesadaran inisiasi mereka sendiri. Murni kesepakatan aspirasi dan atas kesadaran mereka sendiri ,” ungkap Devi, Minggu, (30/6/19).

Apa yang diungkap Devi diamini oleh Ikhsan dan Taufik
“Iya, betul. Itu berdasarkan kesepakatan dan kesadaran kami para ketua,” Jelasn Ikhsan.

Jika kemudian mereka mencabut kembali dukungannya, Devi justru menduga akan membuat pihak lain jadi bertanya-tanya ada apa dibalik pencabutan tersebut. Menurutnya, tentu ada pemicu di belakangnya.

“Pagi mendukung, eh malamnya dicabut lagi. Ada apa ini?,” tanya Devi.

Devi mensinyalir ada upaya praktik tangan besi kepada kader DKI Jakarta. Menurutnya, tak mungkin teman-teman DKI tiba tiba mencabut dukungan yang diberikan sebelumnya jika tidak ada tekanan dari pimpinan di atasnya saat ini.

“Belum pemilihan, para kader baru memberikan dukungan saja sudah ditekan-tekan. Ini tanda kepemimpinan di partai saat ini tak suka riak demokrasi di internal partai. Padahal, partai Golkar adalah partai yang terbuka, demokratis dan sangat menghargai pendapat para kadernya,” ujar Devi.

Bahkan, Devi juga menilai peristiwa tersebut (pencabutan dukungan) sebagai bentuk tirani dari kepemimpinan partai hari ini di tengah keterpurukan partai. Keterpurukan tersebut, menurut Devi, ditandai oleh penurunan jumlah kursi Di DPR RI.

Baca Juga : Alasan MK Menolak Gugatan Pelanggaran Pilpres

Dalam konteks tersebut, menurut Devi, seharusnya DPP segera menggelar Rapimnas untuk mengevaluasi kinerja partai paska pileg dan pilpres. Jangan hanya memikirkan mempertahankan kekuasaan saja . Praktik tersebut tentu bertolak belakang dari ruh partai sejak berbenah paska kepemimpinan Orde Baru.

“Saya kira biarlah para kader bebas menyatakan ekspresinya, termasuk dukung-mendukung menyikapi munas. Dengan begitu, justru akan membuka pintu peluang bagi para kader terbaik partai untuk ikut berkompetisi. Dan ini akan menguntungkan partai itu sendiri,” lanjutnya.

Devi berharap, Partai Golkar ke depannya perlu pemimpin yang demokratis, tidak birokratis dan mau mendengar serta memahami para anggotanya. Devi menilai hal itu ada pada Bambang Soesatyo, seorang kader yang terlahir dari masyarakat biasa pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top