Guruku Sayang Guruku Malang, Belajar Bersama Pandemi Covid-19 - strategi.id
Dialektika

Guruku Sayang Guruku Malang, Belajar Bersama Pandemi Covid-19

Strategi.id - Guruku Sayang Guruku Malang, Belajar Bersama Pandemi Covid-19

Strategi.id – Beberapa tahun belakangan, profesi guru menghadapi situasi yang paling krusial dan penuh tantangan. Terutama saat ini, pasalnya fase penerimaan siswa baru berlangsung ketika suasana diselimuti pandemi Covid-19. Selain ancaman keselamatan jiwa pada umumnya, guru masih terus bergelut dengan carut marutnya sistem pendidikan.

Bagaimana tidak?, saban tahun sistem penerimaan siswa baru (PPDB) yang berbasis on line kerap menimbulkan gejolak sosial bagi masyarakat, terlebih orang tua yang anaknya tidak bisa diterima di sekolah negeri. Bukan cuma soal ekonomi, tapi juga rasa keadilan dan kesetaraan (justice and equal). Tidak sedikit anak yang tidak bisa mengenyam dunia sekolah karena gagalnya sistem pendidikan yang semakin liberal dan kapitalistik. Ketika satu saja seorang anak putus sekolah, apalagi karena persoalan biaya dan ukuran kepandaian normatif, maka secara umum negara bisa dianggap telah gagal dalam penyelenggaraan pendidikan nasional. Memang pendidikan tak ubahnya seperti obat yang bisa mengangkat nilai manusia, namun dilain sisi bisa menjadi virus yang ganas yang membunuh mimpi dan harapan anak menatap masa depannya.

Terutama ditengah pandemi Covid-19 yang juga berdampak pada pendidikan dan psikis anak. Keberadaan guru jadi semakin terasa dan sangat dibutuhkan. Tapi sayangnya, tak ada effort yang sungguh-sungguh dari negara untuk memberi perhatian pada guru, bahkan sekedar pengakuan saja. Rasanya, bukan hal yang sulit seorang menteri pendidikan mengatakan, betapa susahnya menjadi seorang guru. Profesi yang menghabiskan waktu sepanjang hidupnya demi mencerdaskan bangsa. Saat kinerja guru terus disorot seiring kurangnya adab, etika dan penghargaan terhadap mereka. Mirisnya, kadang-kadang tidak sedikit guru dikriminalisasi.

Seiring itu pula, orang tua dirumah kebingungan dan penuh kecemasan sembari menutupi fakta betapa sulitnya memberikan pengajaran limu dan pengetahuan umum kepada anaknya. Terutama mengatasi masalah psikologi betapa sekolah telah menjadi Habit dan “life style” tersendiri bagi anak saat sekolah diliburkan panjang, selain pendidikan yang didapat dari keluarga di rumah. Kalau kata lagu Bang H. Rhoma Irama, “kalau sudah tiada baru terasa, sungguh kehadirannya sangat berharga”, begitulah ilustrasi senandungnya seakan menyoal guru.

Tak terbantahkan, pandemi Covid-19 memang banyak memberi pelajaran soal rakyat, bangsa dan negara. Wabah ini juga juga memberi hikmah pada banyak orang tentang memaknai kehidupan dan kematian. Namun tidak kalah penting dari itu, menjadi pedoman bagi semua orang tua, tentang betapa fundamennya pendidikan bagi kemanusiaan itu sendiri.

Sepertinya, dengan beratnya beban mengurus keluarganya sendiri. Guru tetap semangat dan antusias menjalankan fungsi pendidikan dan pengajaran bagi tunas-tunas dan masa depan negara bangsa. Tetap teguh berjuang melahirkan manusia-manusia yang cerdas dan berkarakter mengisi peran intelektual, agamawan, birokrat, politisi, militer, seniman-budayawan bahkan para pemimpin-pemimpin besar yang terus mewarnai peradaban manusia.

Namun guru, tetaplah dipuja dan dicerca. Disanjung meski tetap murung terkurung. Guru cenderung menjadi korban dari gonta-gantinya sistem pendidikan. Program kurikulum yang tidak ajeg, sering menimbulkan bukan hanya pada anak didik, tapi guru juga menjadi korban dari kelinci percobaan sistem pendidikan yang terus dikangkangi politik dan tidak prioritasnya pendidikan bagi negara.

Tapi guru tetaplah sang bijaksana, ada sumringah ditengah lara. Ada bahagia bercampur gelisah, memikirkan asa bagi masa depan anak-anak tercinta. Bagai penganut “altruisme” , begitulah keadaan Guruku kini. Guruku sayang Guruku Malang. Maaf, kami yang pernah menjadi anak didikmu, belum bisa membalas kebaikan dan memberi kebahagiaan pada guru kami, seperti tekad dan perjuangan kami membahagiakan orang tua kami sendiri.

Semoga keberadaan guru kedepan menjadi lebih baik, karena itu merupakan kebaikan bagi dunia pendidikan dan terlebih bagi negara.

Penulis: Yusuf Blegur (Pemerhati Sosial).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top