Dialektika

Hoaks, Bahasa Menunjukkan Bangsa

Strategi.id – Bahasa menunjukkan bangsa, apakah sebuah bangsa itu beradab ataukah biadab. Bahasa adalah tengara dari peradaban sebuah bangsa. Dari bahasalah akan tampak seberadab apa sebuah bangsa.

Bahasa merupakan resultante dari perpaduan antara bagaimana bekerjanya proses kecerdasan nalar yang berkolaborasi dengan proses kecerdasan nurani dalam satu kesatuan gerak kesemestaan antara budi nurani dengan nalar pekerti yang seimbang (balance) dan setimbang (equilubrium).

Satu saja dari keduanya tidak berfungsi akan berpotensi memicu terjadinya disparitas antara makna dari pesan dengan maksud dalam rangkaian kalimat yang tersampaikan.

Semakin banyak distorsi dan bias atas ketepatan makna dari sebuah maksud yang tersampaikan, akan semakin besar pula potensi terjadinya falasia (fallacia) bahasa, sesat pikir berbahasa.

Masalahnya, gerak kesemestaan antara budi nurani dengan nalar pekerti sangat ditentukan oleh kadar kecerdasan nurani dan kadar kecerdasan nalar yang dibentuk oleh lingkungan sejak dari lahir dalam interaksi antar individu baik secara personal maupun komunal, juga oleh interaksi antara individu manusia dengan lingkungan alam dimana ia hidup tinggal di dalamnya.

Terjadinya penurunan dan tidak berkembangnya kecerdasan nurani kemanusiaan akan mendorong setiap individu bergerak menyimpang keluar dari fitrah, sifat asal dan naturnya sebagai manusia.

Akibatnya, interaksi antar individu yang terjadi baik secara personal maupun komunal akhirnya juga menyimpang keluar dari fitrah, sifat asal dan naturnya sebagai manusia.

Derajat, harkat dan martabat dari hubungan antar manusia akhirnya jatuh pada titik nadir terendah yang hanya berkenaan pada hal hal pragmatis bersifat materi sebatas pada pemenuhan untuk memuaskan kesenangan dirinya dengan ukuran yang dangkal dan sempit, untung atau rugi.

Naluri pertalian antar manusia sekadar bersifat mekanis sebatas keuntungan demi kepentingan pribadi.

Hal ini tentunya juga berpengaruh kuat pada interaksi antara individu manusia dengan lingkungan alam dimana ia hidup tinggal di dalamnya.

Manusia semakin berjarak dari alam bahkan tidak lagi menjadikan dirinya bagian dari alam. Alam tidak lebih hanya menjadi budak dari manusia yang boleh diperlakukan sesukahati untuk sebesar besarnya pemuasan nafsu dirinya, anthroposentris.

Celakanya, penyimpangan tersebut di atas memicu terjadinya proses penurunan kecerdasan nalar dimana berbagai potensi kecerdasan nurani kemanusiaan yang semestinya ada di dalam diri manusia kehilangan dayanya untuk menjadi stimulus dalam tumbuh kembangnya kecerdasan nalar.

Akibatnya, kemampuan berpikir logis, holistik, analitik komprehensif, obyektif dan rasional juga mengalami kemunduran yang sangat pesat dan berada di titik nadir.

Paparan di atas tidak lebih hanya sekelumit dongeng untuk memudahkan dalam memahami berkembangnya berbagai hoaks/hoax yang saat ini tumbuh subur, marak beredar dan berkembang luas secara viral memenuhi berbagai media massa dan media sosial.

Bagi bangsa ini, hoaks hanyalah anggukan kepala dari apa yang sesungguhnya dimaksud dengan kalimat, “Bahasa menunjukkan bangsa.”

Jika bahasanya hoax, bisa jadi bangsanya juga cuma hoax.

Berikan Komentar

Berikan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 + nine =

Atas