Imamah VS Khilafah, Musnahnya Sebuah Peradaban ( Bagian 1 ) – strategi.id
Corong

Imamah VS Khilafah, Musnahnya Sebuah Peradaban ( Bagian 1 )

strategi.id - Imamah VS Khilafah, Musnahnya Sebuah Peradaban

Startegi.id- Kisah kisah agama Samawi acapkali bercerita tentang catatan perjalanan para pencerah yang terlahir menjadi utusan bagi suatu kaum. Namun sungguh ironis di akhir kisah perjalanannya selalu saja menyisakan tragedi yang terus berulang dari waktu ke waktu.

Baca :  Imamah VS Khilafah, Musnahnya Sebuah Peradaban ( Bagian 2 )

Para pendukung, penggemar, penikmat sekaligus penyembah nafsu angkara murka seakan tidak pernah berhenti untuk berupaya melanggengkan kekuasaan dan mengukuhkan dominasinya dengan berkeras upaya menyingkirkan para utusan Tuhan berikut pewaris dan pelestari ajarannya.

Lihat saja apa yang dialami Ya’qub tatkala harus menghadapi kenyataan bahwa 12 anaknya terbelah menjadi dua golongan. Yusuf salah satu anaknya ternyata harus jadi korban aniaya dan percobaan pembunuhan dari 10 saudaranya yang iri dan dengki atas keterpilihan Yusuf sebagai anak yang terwarisi meski pada akhirnya proses waktu pula yang membuktikan dan mengukuhkan kemuliaan dirinya sebagai Perdana Menteri di Mesir di bawah pemerintahan Raja Amenemhat III.

Demikian pula dengan Daud yang di akhir perjalanannya harus diperhadapkan pada situasi pergantian kepemimpinan yang penuh intrik politik perebutan kekuasaan. Anak Daud dari ibu Hagit yang bernama Adonia berkoalisi dengan seorang panglima bernama Yoab dan imam besar Abyatar melakukan manuver politik dengan mengangkat dirinya menjadi Raja secara sepihak tanpa sepengetahuan Daud tentunya juga tanpa melibatkan sejumlah orang yang ditengarai sebagai lawan politik termasuk Sulaeman diantaranya.

Namun Tuhan punya agenda prerogatifnya sendiri yang tak bisa diveto oleh ciptaanNya yang manapun. Apapun jalan ceritanya, Sulaeman akhirnya tetap menjadi Raja yang sahih atas kehendakNya.

Selepas Daud, Sulaeman atau Salomo juga mengalami situasi yang setali tiga uang. Perseteruan antara Rehabeam anak Sulaeman yang didukung oleh anak suku bani Yusuf keturunan Ephraim dan suku Benyamin secara vis a vis berhadapan dengan Yerobeam yang bukan dari garis keturunan Daud tetapi terpilih secara “demokratis” dengan dukungan rakyat dari 10 suku yang berkoalisi dengan Hadad dari suku Edom dari garis Esau saudara Ya’qub.

Perseteruan ini akhirnya memecah kerajaan menjadi dua dan berujung pada peperangan yang berlangsung puluhan tahun, Yehuda yang beribukota di Yerusalem dan Israel yang beribukota di Samaria. Lagi lagi proses waktu yang berjalan akhirnya membuktikan siapa sesungguhnya Yerobeam sang Raja pilihan rakyat yang justru “sukses” mengembalikan penyembahan berhala di kerajaan Israel dengan membangun patung berhala berupa lembu jantan terbuat dari emas.

Di masa Isa, ajaran Musa telah terpecah menjadi 3 faksi agama Yudaisme yang dikenal sebagai kaum Saduki, Pharisi dan Essenes. Isa jelas menentang praktek ajaran Musa yang telah disimpangkan oleh kaum Saduki dan Pharisi, sementara faksi Essenes meski minoritas dibanding Saduki dan Pharisi masih bersetia untuk menjaga kemurnian ajaran Musa.

Maka tak heran jika ajaran Isa oleh kaum Essenes bisa diterima karena dianggap sebagai upaya pelurusan terhadap penyimpangan praktek ajaran Musa yang dilakukan oleh kaum Saduki dan Pharisi.

Baik ajaran Musa maupun ajaran Isa terdokumentasi secara baik oleh kaum Essenes dengan ditemukannya dokumen penting berupa gulungan kertas papyrus di dalam gua sekitar Qumran dimana kaum Essenes bermukim dekat Laut mati yang berbatasan dengan Yordania.

Dokumen yang kemudian dikenal sebagai Dead Sea Scrolls ditemukan sekitar akhir 1940an oleh seorang anak gembala .

Di penghujung perjalanan kenabian Isa, kaum Saduki dan Pharisi sepakat berkoalisi dengan Romawi untuk menghabisi Isa dan seluruh pengikutnya termasuk kaum Essenes yang telah distigma sebagai musuh bersama karena dituduh merongrong kemapanan dan kewibawaan mereka sebagai penguasa baik secara politik maupun agama.

Kaum Essenes yang menjadi korban pengejaran dan pembantaian harus melarikan diri dari Qumran dan hengkang ke Jazirah Arab melalui Yordan dan hidup melebur dengan suku Quraisy untuk bersembunyi dari kejaran tentara Romawi dengan terus tetap menjaga kemurnian ajaran yang mereka imani sekaligus menunggu datangnya utusan berikutnya yang bernama Ahmad seperti yang telah dinubuatkan oleh Isa.

Itu pula sebabnya tak heran jika di masa Jahiliyah Pra-Islam di antara kaum Quraisy juga dikenal kaum Hanif yang selain pandai berniaga juga tetap setia mengikuti ajaran Tauhid yang dibawa oleh Musa dan Isa serta menolak menyembah kepada yang selain Allah Ta’ala, Tuhan Yang Maha Esa. Dari kaum Hanif inilah nasab dari Siti Khadijah isteri pertama Muhammad berasal.

Apa yang tertulis di Al Quran dalam surat Ali Imran 3:52 dan As-Shaf 61:14 tentang kaum Al-Hawariyyun yang menjadi pengikut-pengikut setia Isa seolah menjadi anggukan kepala atas keberadaan kaum Essenes yang menjadi para pengikut setia Isa sebagai orang orang yang berserah diri menjadi penolong penolong ajaran Allah Ta’ala dengan menjadi pendukung utama Muhammad SAW di awal awal pergerakan syiarnya yang sebaliknya justru mendapat tentangan dari kaum Jahiliyah Quraisy.

Seiring merosotnya hegemoni kekuasaan Romawi, ajaran Isa secara clandestine menyebar luas hingga memicu berkobarnya semangat perlawanan dan pemberontakan terhadap Kekaisaran Romawi. Suka tidak suka, mau tidak mau, demi melanggengkan kekuasaannya, Imperium Romawi akhirnya harus berkompromi terhadap perkembangan situasi yang semakin memburuk dan mengancam kelangsungan kekuasaannya dengan cara mengakuisisi ajaran Isa sebagai basis legitimasi moral untuk mengkonsolidasikan kembali imperiumnya.

Adalah Kaisar Constantine I yang berhasil menginisiasi terselenggaranya konsili pertama yaitu suatu pertemuan yang dihadiri para pemuka dari pengikut ajaran Isa. Pertemuan ini kemudian dikenal sebagai Konsili Nicaea yang diselenggarakan di Nicaea, Bursa, Turki pada 20 Mei – 19 Juni 325 Masehi yang menjadi embrio dari kelahiran Vatican Romawi.

Inilah yang menjadi dasar pembeda untuk memisahkan dengan tegas antara kaum Al-Hawariyun dengan apa yang tersurat dan tersirat di Al Quran dalam Surat Al-Baqarah 2:120 tentang kaum Nashrani (jamak : Nashara).

Tulisan ini terdiri dari 2 Bagian , Baca Selanjutnya di Imamah VS Khilafah, Musnahnya Sebuah Peradaban ( Bagian 2 )

Kolumnis Oleh Mahendra Utunggadewa, Pengamat Sosial Budaya , Mantan Aktivis FKSMJ’98

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top