Dialektika

Indonesia Ibarat Kapal Tua Yang Tak Tau Arah Berlayar

Strategi.id - Kapal Tua Indonesia
Indonesia Ibarat Kapal Tua Yang Tak Tau Arah Berlayar

Strategi.id – Indonesia salah satu Negara di Asia Tenggara yang mendapatkan kemerdekaan melalui perjuangan rakyatnya. Saat ini Indonesia sudah 73 tahun merdeka dan jika kita ibaratkan Indonesia adalah sebuah kapal tua yang tak tau arah ingin kemana hanya mengikuti arah angin, Kapal ini diisi oleh penumpang yang beragam dan kapal ini sudah berganti nahkoda sebanyak 7 kali, nahkoda pertama sang founding father.

Nahkoda pertama telah berhasil menyatukan dan membuat kapal ini berlayar pertama kali menuju samudera luas dengan segala macam ombak dan badai kapal ini berhasil melaluinya di era ini kapal ini disebut orde lama. Namun sayang sang founding father dijatuhkan oleh salah satu Jendral Besar dan founding father menutup usia dalam kondisi yang mengenaskan. Setelah sang founding father munculah sang Jendral Besar menjadi nahkoda kedua untuk kapal ini ditangan dinginya inilah kapal ini mulai berbenah dengan melakukan banyak renovasi untuk kapal ini agar mampu bersaing dengan kapal-kapal lain seiring berjalanya waktu kapal ini terus mengarungi samudera namun harus disayangkan tangan dingin sang Jendral dalam mengendarai kapal ini mulai banyak protes dari para penumpang sampai puncaknya kapal yang sudah di bangun sedemikian rupa oleh sang Jendral harus mengalami kerusakan yang sangat parah dan akhirnya sang Jendral harus mundur secara terpaksa dari kursi nahkoda yang sudah di dudukinya selama 32 tahun.

Baca Juga : Bamsoet : Perkembangan Ekonomi Indonesia Menunjukan Tren Positif dan Stabil

Sang Jendral digantikan oleh seorang cendekiawan yang dihargai di kapal biru, sang Cendekiawan memegang kendali kapal ini dengan tujuan mampu meredam emosi para penumpang tetapi pada kenyataanya sang cendekiawan tidak begitu pintar untuk memegang kendali kapal ini, ditangan sang cendekiawan salah satu lambung kapal ini mengalami kerusakan dang akhirnya terlepas dari kapal utama, setelah kejadian itu sang cendekiawan harus digantikan oleh seorang agamais.

Ditangan seorang agamais lah para penumpang berharap kapal ini dapat menemukan tujuanya, dengan banyak problematika yang ada dan kesabaran yang dipunya sang agamais kapal inipun tidak begitu mampu mengarungi samudra luas, sang agamais mendapatkan banyak permasalahan alih-alih mampu membawa kapal ini sang agamais malah terlibat ketegangan dengan anak buah kapalnya yang menyebabkan sang agamais harus turun dari kursi kendali kapal ini. Setelah 4 orang pria nahkoda ke-5 kapal ini adalah seorang wanita bertahi lalat salah satu keturunan sang proklamator. Para penumang menaruh banyak harapan kepada sang anak proklamator untuk mampu membawa kapal ini mengarungi samudra luas, lagi dan lagi ditangan sang anak proklamator inilah banyak harta karun kapal ini yang dijual ke kapal lain salah satunya adalah antenna pemancar yang dijual ke kapal tetangga.

Baca Juga : Cara Beragama Kita Menentukan Masa Depan Bangsa Indonesia

Dengan banyaknya harta karun kapal yang dijual ke kapal lain memancing kemarahan para penumpang, sang anak proklamator harus digantikan oleh seorang ayah yang biasa disebut “pipo” oleh anaknya. Pipo muncul dengan sosok sebagai ayah yang lemah lembut dan penuh kasih sayang, untuk kesekian kalinya para penumpang mencoba menaruh harapan banyak kepada nahkoda baru, alih-alih membawa perubahan untuk kapal ini, kapal ini malah tertimpa masalah yang cukup berat yaitu kemasukan tikus yang berhasil mencuri harta karun kapal ini dalam jumlah cukup banyak. Pipo tak bisa berbuat banyak karena pipo terlalu sibuk dengan membuat lagu, para penumpang mulai geram dengan tingkah laku pipo karena terlalu sibuk membuat lagu dibandingkan melihat kompas untuk kapal ini mau dibawa kemana, pipo nyaman di kursi kendali nahkoda namun pipo harus digantikan oleh seorang tukang kayu, tukang kayu ini muncul dengan sosok rendah hati dan tidak sombong sang tukang kayu muncul dengan alih-alih cinta damai, sang tukang kayu juga pecinta musik dan masih berjiwa muda. Di awal tukang kayu memegang kendali nahkoda dia menyampaikan kepada para penumpang satu kata yaitu “NAWACITA”, para penumpang bertanya-tanya apa itu nawacita yang disebut oleh seorang tukang kayu. Ternyata nawacita adalah janji si tukang kayu untuk menyelesaikan masalah yang ada di kapal ini, seiring berjalanya waktu nawacita tak kunjung ter-realisasikan para penumpang mulai resah dan gundah tentang nawacita alih-alih nawacita muncul kapal ini diterpa badai perpecahan yang sangat kuat, si tukang kayu terlihat sudah mulai berkeringat padahal angin bertiup kencang ditengah samudra. Di tangan tukang kayu kapal ini banyak diterpa badai perpecahan dan perbedaan.

Kursi nahkoda si tukang kayu coba digantikan oleh seorang mantan Jendral berbadan gempal, babak perebutan kursi nahkoda masih berlangsung antara tukang kayu dan Mantan Jendral berbadan gempal. Para penumpang masih menantikan siapa yang akan menduduki kursi nahkoda kapal tua ini, kapal ini akan terus mengarungi samudra luas dan kapal ini harus segera membenahi lubang-lubang di lambung kapal agar kapal ini tidak tenggelam ditengah samudra luas. Dan kapal ini harus secepatnya menemukan nahkoda yang mampu membawa kapal tua ini menuju arah yang benar dan sesuai dengan kompas. Jangan sampai badai perbedaan dan perpecahan mampu membuat kapal ini tenggelam, kita sebagai penumpang kapal tua ini harus bersama-sama menjaga kapal tua ini agar tetap mampu mengarungi samudra luas. Siapapun nahkoda kapal ini kalau kita sebagai penumpang tidak mau bersatu dan mudah dipecah belah kapal tua ini cepat atau lambat akan tenggelam ditengah samudra luas ini.

 

Berikan Komentar

Berikan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

11 + three =

Atas