Ini Bukan Politisasi Agama, Ini Sosialisasi Agama – strategi.id
Corong

Ini Bukan Politisasi Agama, Ini Sosialisasi Agama

Strategi.id - Ini Bukan Politisasi Agama, Ini Sosialisasi Agama

Strategi.id – Di negeri yang kemerdekaannya tertuang narasi diakui atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dituangkan dalam Piagam Jakarta dan Menjadi Pembukaan UUD 1945.

Pastilah Islam itu menjadi kekuatan yang membangun bagi Indonesia. Ia menghantar dan menjadikan, memelihara dan mewujudkan cita-cita kemaslahatan.

Ia bukan ancaman, bukan teror dan ia juga bukan alat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Islam bukan agama yang memusuhi keberagaman. Apalagi musuh kemanusiaan. Ia tidak sama sekali membahayakan keberadaan NKRI.

Hanya perilaku politik yang kotor yang membuat stigma, stereotif dan ekstrim terhadap Islam. Konspirasi kejahatan dunialah yang selama ini terancam kepentingan dan kekuasannya, menempatkan Islam sebagai kekuatan terbesar sekaligus musuh utamanya. Islam dianggap agama kemanusiaan yang berorientasi pada nilai kesetaraan, keadilan dan kesejahteraan serta menjunjung tinggi perdamaian dunia. Nilai-nilai yang selama ini menjadi bertentangan dan menjadi penghalang bagi praktek-praktek pemenuhan kepuasan materi, manusia dengan kebebasan tanpa batas dan menuhankan diri.

Islam begitu utuh dan detail menjelaskan dan menyelenggarakan sendi-sendi peradaban manusia beserta pendukung kehidupan lainnya seperti keberadaan hewan dan tumbuhan serta alam yang melingkupinya. Islam benar-benar menjadi panduan yang menuntun kehidupan manusia dari ketiadaan menuju keberadaan hingga kembali kepada ketiadaan.

Islam merupakan satu-satunya dienul (wahyu Allah) yang menempatkan derajat dan kemuliaan yang tinggi sekaligus derajat dan kemuliaan yang rendah bagi manusia dihadapan Sang Rabb. Islamlah yang menuangkan petunjuk dan pembeda (Minal Huda wal Furqon) bagi manusia memilih menjalankan yang baik dan buruk dalam kehidupannya. Manusia boleh memutuskan apa yang diambilnya diantara yang hak dan batil. Kemudian apapun yang dilakukannya kelak akan dipertanggungjawabkan dipengadilan yang hakiki dihadapan Tuhan Sang Pencipta.

Begitu indah dan sempurnanya Islam sebagai sebuah agama, ia tidak hanya sebatas mengandung penjelasan soal-soal sosial budaya, sosial ekonomi, sosial politik, sosial hukum dan sosial keamanan. Lebih dari itu, Islam menjadi jembatan bagi semua kepentingan dan kebutuhan, bagi semua perbedaan dan batas-batas yang bahkan tidak dapat dijangkau oleh kebanyakan manusia dalam kehidupannya. Islam begitu luar biasa menyelaraskan nilai-nilai yang bersumber kepada keimanan (keyakinan) dengan akal pikiran (logika). Keseimbangan hidup dengan menjalankan peran Kemanusiaannya dengan tetap menjunjung tinggi dan berorientasi pengabdian (taat dan taqwa) pada Illahi. Islam juga menjadi satu-satunya agama yang mengemban misi dan visi kehidupan manusia menuju pada Tuhan yang satu (Tauhid). Deskripsi kehidupan dunia dan akhirat menempatkan Islam sebagai agama yang menuntun manusia kembali kepada Allah Azza Wa Jalla.

Kehidupan dunia yang kemudian dipengaruhi dan didominasi oleh buah pikir manusia yang sangat rentan digeluti olen nafsu dan kesalahan melalui paham atau ideologi. Terbukti telah banyak merusak dan menghancurkan kehidupan manusia. Bahkan alam dan kehidupan habitat lain yang ada didalamnya, juga terus mengalami kemerosotan dan kepunahan. Dunia terus melahirkan konflik dan peperangan, Perebutan jabatan dan kekuasaan seakan menjadi kebutuhan utama. Sesama manusia saling membunuh, saling menguasai dan menunjukan kekuasaannya untuk memenuhi hasrat dan ambisinya. Upaya pemenuhan materi membuat hati dan pikian orang menjadi kering. Jiwa tidak lagi tersirami dan mendapat keteduhan dari agama.

Kehidupan manusia direkayasa secara sistematis terpisah dari struktur keIslamannya. Islam dianggap tidak perlu dilibatkan dalam kepribadian hidupnya. Islam harus dipisahkan dari soal-soal sosial politik, dari sosial ekonomi, dari sosial hukum dll. pada pribadinya dalam kehidupan negara. Dengan kata lain Islam harus dipisahkan dari pengaturan dan pengelolaan negara.

Dunia pada akhirnya telah membuktikan, betapapun paham atau idiologi yang bersumber dari eksplorasi pemikiran manusia yang terbatas, gagal membangun kehidupan yang harmonis, damai, berkeadilan dan menciptakan kemakmuran. Bahkan pemikiran dan paham yang besar yang bermuara pada ideologi Kapitalis dan komunis bahkan Illuminati-Freemason sekalipun, lebih banyak mendatangkan kemudharatan ketimbang kemaslahatan. Keduanya tidak lebih hanya sekedar melahirkan penghisapan manusia atas manusia dan penghisapan bangsa atas bangsa. Tak terkecuali Indonesia. Setidaknya abai dan menegasikan nilai-nilai Islam.

Ironi dan naif memang. Republik yang berasal dari rahim, dilahirkan dan dibesarkan oleh adagium Islam. Justru phobi bahkan menempatkan islam sebagai ancaman yang membahayakan negeri. Indonesia seperti menjadi Negara terbalik.

Apalagi menyimak perkembangan dunia kekinian dan fenomena pandemi Covid-19. Terlebih di Indonesia, pengaruh kapitalisme barat yang kuat kemudian datang krmbali cengkeraman China New Era akhir-akhir ini, ditambah wabah Corona. Membuat negara semakin mereduksi Islam. Ada upaya membuat tekanan yang membatasi Islam, bahkan gerakan pendangkalan aqidah umat Islam. Secara masif ada upaya memutus mata rantai sosial umat islam (jamaah) dan melonggarkan beberapa peribadatan syariat. Penjagaan jarak sosial dan PSBB disinyalir sangat tendensius. Penutupan masjid dan perkumpulan majelis taklim dilakukan seraya membuka pasar, restoran, mall dan tempat-tempat kerumunan sosial lainnya. Sangat diskriminatif dan eksploitatif. Terakhir di penghubung bulan ramadhan. 10 hari terakhir yang biasa negara memperingati Nuzurul Quran, ditiadakan dan digantikan dengan konser musik. Sebuah inkonsistensi kebijakan yang cenderung menunjukkan rasa tidak menghormati, tidak menghargai dan memunculkan kebencian terhadap umat Islam. Dari peristiwa itu sangat kentara ada upaya proses Deislamisasi oleh rejim kekuasaan di negeri ini. Seperti ada agenda terselubung dan terkait dengan eksistensi umat Islam di Indonesia.

Semoga kebuntuan dan keniscayaan atas cita-cita proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Menyadarkan kembali bangsa Indonesia pada khitahnya. Kembalinya sebuah negara bangsa pada keislamannya, seperti yang tertuang pada “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya” . Dst. Kita semua berharap rejim kekuasaan bisa menyadari ketidak adilan dan sikap permusuhan terhadap Islam selama ini.

Semoga Indonesia menemukan kesejatian diri dan hakekat kebangsaannya yang telah lama hilang. Semoga Islam menjadi solusi dari kegagalan kapitalisme dan komunisme serta Illuminati-Freemason yang terlanjur menestapa dunia. In shaaAllah Islam dapat memberikan cahaya bagi kegelapan Indonesia khususnya dan dunia umumnya selama ini. Karena Islam adalah Rahmatan Lil ‘Alamin.

Penulis: Yusuf Blegur ( Pemerhati Sosial).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top