Investasi Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi - strategi.id
BUMN

Investasi Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi

Investasi Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi
Investasi Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi

Strategi.id – Pertumbuhan ekonomi nasional tercatat naik hingga capai 5,17 persen pada 2018. Dari sejumlah strategi menumbuhkan ekonomi nasional, investasi digadang dapat menjadi kunci pertumbuhan ekonomi. 

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro menyatakan, pertumbuhan ekonomi nasional bisa dicapai dengan memastikan tingkat investasi selalu berada di atas tingkat konsumsi.

“Rumus sederhananya, tingkat investasi harus lebih besar dari tingkat konsumsi, maka ekonomi akan tumbuh sehat. Kalau investasi tinggi, maka tingkat kemiskinan dan pengangguran akan turun,” paparnya di acara Musyawarah Rencana Pembangunan RKPD Provinsi DKI Jakarta, Rabu (10/4/19).

Baca Juga : Indonesia akan jadi Tuan Rumah ABAC II 2019

Pemerintah menargetkan tingkat kemiskinan pada 2020 akan turun menjadi 8,5-9 persen, sementara tingkat pengangguran terbuka ditargetkan turun menjadi 4,8 – 5,1 persen.

Bambang menambahkan investasi akan menumbuhkan lapangan kerja yang dapat membantu mencapai target tersebut.

Meski begitu, pertumbuhan ekonomi tidak boleh kurang dari 5 persen. Khusus untuk DKI Jakarta, karena DKI Jakarta adalah salah satu pusat ekonomi di pulau Jawa. 

“Tingkat konsumsi juga dipengaruhi daya beli, oleh karenanya harus tetap dijaga, jangan sampai di bawah 5 persen,” ujar dia.

Sementara itu, permintaan domestik diyakini akan tetap kuat dalam jangka pendek. Ini karena meningkatnya lapangan kerja di sektor formal dan diperluasnya program bantuan sosial pemerintah.

Inflasi akan tetap rendah dan stabil sebesar 3,2 persen pada 2019 dan 3,3 persen pada 2020 sehingga bantu jaga momentum pertumbuhan belanja swasta.

Baca Juga : Kemenkeu, PT SMI dan Bloomberg Philanthropies Tandatangani MoU

Kuatnya permintaan domestik mendorong impor barang tahun lalu. Sedangkan pertumbuhan ekspor barang melambat.

Peningkatan ekspor jasa bersih dari kenaikan pendapatan pariwisata dan remitansi mampu sebagian mengimbangi turunnya neraca perdagangan sehingg menjadi defisit transaksi berjalan sebesar tiga persen dari produk domestik bruto (PDB) pada tahun lalu.

Defisit transaksi berjalan akan membaik ke 2,7 persen dari PDB 2019 dan 2020. Ini karena pertumbuhan barang impor dan ekspor yang melambat. Sedangkan pemasukan dari pendapatan pariwisata akan terus berlanjut.

Risiko terhadap proyeksi ekonomi Indonesia umumnya disebabkan faktor eksternal yang termasuk meningkatnya ketegangan perdagangan global dan volatilitas pasar keuangan internasional,serta kemungkinan terjadinya kekeringan akibat El Nino.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top