Isu Keamanan Pangan Pada Aplikasi Nanoteknologi - strategi.id
Corong

Isu Keamanan Pangan Pada Aplikasi Nanoteknologi

Strategi.id - Isu Keamanan Pangan Pada Aplikasi Nanoteknologi

Strategi.id – Artikel ini membahas mengenai keamanan pangan pada aplikasi nanoteknologi
Saat ini banyak sejumlah isu terkait keamanan produk nanoteknologi.

Persepsi masyarakat saat ini umumnya khawatir tentang produk pangan dengan nanoteknologi dapat membahayakan kesehatan karena material pangan yang diperkecil sampai berukuran nanometer dimasukkan ke dalam produk pangan dan akhirnya masuk ke dalam tubuh manusia dinilai masyarakat awam dapat membahayakan.

Lalu bagaimana fakta sebenarnya nanoteknologi tehadap keamanan produk pangan? Apakah benar pengolahan pangan dengan nanoteknologi dapat membahayakan kesehatan tubuh?

Pengertian Nanoteknologi
Nanoteknologi merupakan ilmu yang mempelajari mengenai proses dan karakterisasi suatu bahan atau struktur yang berukuran lebih kecil dari 100 nanometer, selain itu juga mengkaji fenomena unik dan sifat fungsional baru yang timbul.

Ukuran partikel yang kecil menghasilkan sifat fisikokimia baru, misalnya luas permukaan, reaktivitas dan warna yang sangat berbeda dibandingkan dengan material sama pada ukuran konvensional atau lebih besar.

Sederhananya, ukuran yang lebih kecil menghasilkan luas permukaan yang lebih besar sehingga memiliki potensi untuk mengkatkan kelarutan, penyerapan, dan ketersediaan biologis (bioavailabiliitas) senyawa aktif yang bermanfaat bagi tubuh.

Risiko Keamanan Pangan Produk Nanoteknologi
Menurut pakar ahli nanoteknologi dan beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, yaitu dalam jurnal penelitian (Hoerudin & Irawan 2015) risiko keamanan pangan produk nanoteknologi dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu :

1. Risiko rendah, dimana produk pangan / kemasan pangan mengandung nanopartikel / nanostruktur secara alami yang dapat tercerna dan tidak bersifat biopersisten atau terakumulasi di dalam tubuh.

2. Risiko sedang, dimana produk pangan / kemasan pangan mengandung bahan aktif / tambahan pangan yang disalut penghantar berukuran nano yang dapat menembus saluran pencernaan serta meningkatkan penyerapan dan bioavaliablitas.

Dalam hal ini bahan penghantar atau penyalut merupakan bahan tambahan pangan yang bersifat carrier serta aman, misalnya dekstrin yang terbuat dari pati, dll. Bahan penyalut sebagai bahan tambahan pangan dalam hal ini bisa bersifat memberikan manfaat kesehatan ataupun tidak memberikan manfaat kesehatan, namun tidak memiliki efek negatif terhadap kesehatan sehingga aman dikonsumsi.

3. Risiko tinggi, dimana produk pangan / kemasan pangan mengandung nano partikel tidak terlarut, tidak tercerna dan berpotensi biopersistent, seperti nanopartikel logam dan logam oksida. Pada kelompok risiko tinggi tersebut, konsumen atau lingkungan sangat berpotensi terpapar nanopartikel yang sifat toksisitasnya hingga saat ini belum banyak diketahui.

Kurangnya pengetahuan mengenai hal tersebut akan menimbulkan kesulitan dalam menilai tingkat asupan pangan yang aman.

Fakta Menarik Bahan Pangan Berukuran Nanometer

Fakta menarik bahwa secara alami banyak komponen bahan pangan yang berukuran nanometer terdapat dalam pangan secara alami dan tidak sama sekali berbahaya. Contohnya adalah protein sebagai -laktoglobulin yang terdapat secara alami dalam susu sapi memiliki ukuran sekitar 3,6 nm.

Proses denaturalisasi dapat menyebabkan protein tersebut membentuk struktur yang lebih besar sehingga membentuk jejaring gel (Cushen et al., 2012). Yogurt merupakan salah satu contoh produk akhir dari proses tersebut dan merupakan contoh pangan produk nanoteknologi yang aman dikonsumsi (Pérez-Esteve et al., 2013).

Kita tidak perlu khawatir tentang penerapan nanoteknologi, saat ini pengembangan nanoteknologi memiliki potensi manfaat yang sangat luas. Beberapa manfaat di bidang teknologi pascapanen diantaranya untuk mengendalikan proses pematangan buah, mempertahankan kesegaran dan keamanan daging, deteksikontaminan/pathogen pangan, dan deteksi kadaluarsa pangan.

Contohnya pada penelitian (Hoerudin & Irawan 2015) di Balitbangtan telah dikembangkan kemasan aktif antimikroba yang disisipi enkapsulat ekstrak bawang putih atau nanopartikelzinc oxides serta kemasan ramah lingkungan yang diperkuat nano-serat selulosa.

Dibidang pengolahan pangan, nanoteknologi dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan sifat baru, memperbaiki sifat fisik, kimia, dan keamanan pangannya, seperti tekstur, rasa, warna, kelarutan, stabilitas, umur simpan, kandungan gizi (fortifikasi mikronutrien), penyerapan dan ketersediaan biologis (bioavailabilitas) zat gizi / senyawa bioaktif.

Dalam bidang pangan fungsional misalnya, nanoteknologi dikembangkan untuk meningkatkan kualitas pangan fungsional.

Permasalahan sebelum adanya nanoteknologi adalah mutu sensori mudah menurun dan senyawa bioaktif sebagian besar memiliki sifat lipofilik (larut dalam lemak) dan kelarutannya dalam air rendah, sehingga mengakibatkan penyerapan di usus pencernaan juga rendah, akibatnya ketersediaan senyawa bioaktif yang bermanfaat dalam tubuh juga rendah (Joye et al 2014).

Solusinya dengan nanoteknologi adalah dengan melakukan enkapsulasi senyawa bioaktif yang bermanfaat untuk tubuh dengan bahan larut air dan mengatur pelepasannya dalam sistem pencernaan (Silva et al 2012).

Pada aplikasi nanoteknologi di bidang pengolahan pangan contohnya dalam penelitian (Chaudhry & Castle 2011) ada mayonnaise, spread (olesan) cocoa butter dengan kadar lemak yang rendah, akan tetapi memiliki tekstur creamy mirip seperti produk dengan kadar lemak yang tinggi.

Selain itu nanoteknologi juga bisa menghasilkan nanoemulsi yang telah diaplikasikan untuk membuat produk es krim rendah lemak tanpa merubah cita rasanya sehingga akan lebih sehat dan nikmat. Penggunaan lemak kakao dalam bentuk nanoemulsi dapat menghasilkan spread rendah lemak (reduced fat spread) sehingga akan lebih menyehatkan.

Contoh lainnya pengembangan nanoemulsi dan nanoenkapsulat vitamin A untuk bahan fortifikasi atau pengayaan gizi pangan (Yuliani,et al., 2014) dan nanoemulsi minyak sawit merah yang diperkaya -karoten sebagai ingredien pangan fungsional (Yuliasari, et al., 2014).

Penelitian pengembangan nanoteknologi di bidang teknologi pascapanen maupun pengolahan pangan terbukti memiliki banyak manfaat. Nanoteknologi harus terus dioptimasikan untuk dapat menghasilkan produk yang berdaya saing tinggi.

Di negara maju maupun berkembang seperti USA, Inggris, Australia, Korea, China, Thailand, Malaysia, dan Vietnam penelitian dan pengembangan aplikasi nanoteknologi di bidang pertanian sudah banyak. Di Indonesia masih dalam tahap pengembangan, meskipun demikian Indonesia memiliki potensi kekayaan alam pangan lokal yang melimpah, namun nilai tambah belum banyak dikembangkan.

Peran nanoteknologi untuk bidang pangan dapat meningkatkan nilai tambah dan berdaya saing tinggi serta dapat mendukung program pemerindah dalam diversifikasi pangan.

Penulis: Nurmalia Ningsih
(Mahawiswa Pascasarjana Teknologi Pangan IPB University).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top