Kebangsaan di Tengah Perang SOCMED – strategi.id
Dialektika

Kebangsaan di Tengah Perang SOCMED

Startegi.id - Kebangsaan di Tengah Perang SOCMED

Strategi.id – Dalam hal pemahaman nasionalisme (kebangsaan), mungkin saya berbeda dengan Benedict Anderson. Tetapi untuk beberapa hal, saya sependapat dengannya.

Ben Anderson bilang bahwa nasionalisme sesungguhnya lebih dimaknai sebagai “proyek bersama” (common project) untuk kini dan masa depan. Karenanya dia membutuhkan pengorbanan pribadi. Bukan malah mengorbankan orang lain. Suatu pemahaman yang tidak berbeda dengan apa yang dimaksud Soekarno sebagai gotong-royong. Dengan itu pula Soekarno mencoba membangun konsepsi negara gotong-royong.

Hal lain yang saya sependapat dengan Ben Anderson adalah soal perbedaan Bangsa dan Negara. Keduanya memang berbeda. Tetapi hubungan keduanya, istilah Ben, seperti hubungan suami istri yang bahagia. Meski dalam pengamatan saya, Negara kerap memanipulasi Bangsa. Seperti suami yang kadang tidak jujur terhadap istrinya.

Secara esensial, hubungan Bangsa dan Negara ini seperti hubungan antara pemilik proyek dan pelaksana proyek. Seperti suami menghidupi istri dan anaknya. Jika di Indonesiakan maka negara adalah pelaksana dari proyek cita-cita Proklamasi di seberang “Jembatan Emas” kemerdekaan Indonesia.

Pada event olah raga seperti Asian Games saat ini misalnya. Biasanya rasa kebangsaan itu mengemuka. Meski sebenarnya di balik itu juga terdapat pembicaraan hubungan antar negara Asia. Hubungan perdagangan, kerjasama ekonomi, pariwisata bahkan soal keamanan dan perdamaian di kawasan Asia. Semakin wajar jika kita menganggap Asian Games ini sebagai proyek bersama bangsa yang diselenggarakan oleh negara.

Sewaktu video Opening Ceremony Asian Games kemarin ditertawakan banyak netizen, saya sempat bertanya : apakah kita tidak sadar jika kita sedang mentertawakan diri sendiri? Apakah di mata kita penyelenggaraan Asian Games ini bukan proyek bersama bangsa Indonesia di mata bangsa-bangsa Asia?

Saya sadar, inilah perang Socmed (sosial media) yang sudah tak mengenal fatsun. Mudah dipahami. Mereka sudah tidak lagi mengenali Jokowi sebagai Presiden Republik Indonesia. Mereka hanya melihat Jokowi sebagai Cawapres 2019. Rival mereka. Mereka sudah tidak paham jika video itu ditujukan kepada negara tamu peserta Asian Games. Mereka tidak paham jika video itu mewakili dirinya sebagai bagian dari bangsa. Meski memang video itu tak bermutu, tidak logis, tidak teliti pada detail dan continuity yang membuka celah bahan tertawaan. Mereka hanya melihat video itu sebagai pencitraan Jokowi, Cawapres 2019. Rival mereka.

Perang Socmed yang semakin brutal ini akan membuat kita semakin dangkal dalam memahami kehidupan berbangsa dan bernegara. Pesan damai bangsa Korea pun luput dari perhatian kita.

Padahal dunia pun tahu bagaimana tajam seteru antara Korea Utara dan Korea Selatan. Di hadapan publik Indonesia mereka berdiri sebagai satu kontingen Asian Games dengan kedamaian sebuah bangsa. Sementara kita tengah terbakar api perseteruan dalam perang Socmed yang membabi-buta.

Sudah sebegitu keringkah rasa kebangsaan kita?

Penulis oleh Ismail Arief Ketua Team Kajian dan Analisa Indonesia Maju

.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top