Kebijakan Meliburkan Sekolah dan Buah Simalakama! – strategi.id
Dialektika

Kebijakan Meliburkan Sekolah dan Buah Simalakama!

Kebijakan Meliburkan Sekolah dan Buah Simalakama!
Strategi.id - Kebijakan Meliburkan Sekolah dan Buah Simalakama!

Strategi.id – Rencana kebijakan Pemprov DKI Jakarta meliburkan 70 sekolah jenjang SD, SMP, dan SMA/SMK selama 9 hari selama gelaran Asian Games, lantaran sekolah-sekolah itu terletak di dekat venue atau berada di rute para atlet menuju venue yang berpotensi menimbulkan kemacetan jika tidak diliburkan, memang dilatari kesemrawutan masalah multisektor yang sangat pelik dan telah berurat-berakar dalam kurun waktu panjang, yang gagal disolusikan secara tepat dan beradab oleh para pembuat kebijakan selama ini.

Bukankah masalah kemacetan di Ibukota yang menjadi santapan sehari-hari warga Jakarta disebabkan, diantaranya, oleh kelambanan membangun transformasi massal yang nyaman di satu sisi, dan ketidakberhasilan membudayakan penggunaan transformasi massal pada sebanyak-banyaknya masyarakat?

Selain juga disebabkan karena kebijakan pemerintah terkait kepemilikan mobil dan sepeda motor yang condong melihat sisi pemasukan pajaknya saja tanpa mempertimbangkan daya dukung jalan dan pertumbuhan jalan yang stagnan di dalam kota.

Sehingga dengan begitu kebijakan meliburkan sekolah selama event Asian Games, untuk sementara ini sebaiknya memang tidak dipandang sebagai kebijakan layaknya makan buah simalakama. Dalam artian tidak disederhanakan menjadi: jika tidak diliburkan akan menimbulkan kemacetan yang mengganggu para atlet mancanegara yang akan berlaga, sehingga memalukan kita sebagai tuan rumah di mata dunia. Dan jika diliburkan akan menelantarkan proses pembelajaran para siswa tersebut.

Taruhlah, benar bahwa sekolah-sekolah itu memang diliburkan, maka pertanyaannya apakah proses pembelajaran yang efektif terhadap para siswa itu juga harus terhenti selama liburan? Jika jawabannya ya, maka itulah kesalahan besar dari pembuat kebijakan tersebut yang layak mendapat kecaman sekeras-kerasnya karena tidak memuliakan pendidikan.

Namun jika jawabannya tidak, maka pertanyaaan berikutnya adalah bagaimana caranya agar proses pembelajaran yang efektif dapat terus berlangsung terhadap para siswa itu meskipun sekolah diliburkan sementara?

Sejauh ini yang muncul diantaranya adalah pernyataan Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Pemprov DKI Jakarta Bowo Irianto, bahwa para pelajar yang sekolahnya diliburkan akan diberi tugas secara daring (online), dan gurunya akan tetap masuk untuk menerima tugas dari para siswa.

Tugasnya tergantung dari mata pelajaran yang diterimanya di sekolah dikaitkan dengan segala hal yang terkait Asian Games. Misalnya untuk pelajaran olahraga, para siswa ditugaskan meliput negara tertentu yang ikut dalam Sea Games, baik itu prestasinya dan sebagainya. Kalau pelajaran geografi, tugasnya membuat tulisan dari sisi geografi negara tersebut, jumlah penduduknya, luas negaranya, berapa jumlah penduduk, dan sebagainya.

Jika memang itu yang cara yang akan digunakan untuk tetap melangsungkan proses pembelajaran para siswa yang sekolahnya diliburkan, maka pertanyaan berikutnya adalah apakah tugas itu berlaku untuk semua siswa dari jenjang SD, SMP, hingga SMA/SMK? Dengan kata lain, apakah pelajar kelas 1 atau 2 atau 3 SD akan mendapatkan tugas seperti itu?

Apakah yakin semua sekolah dan semua siswa akan tetap melangsungkan proses pembelajaran lewat cara penugasan seperti itu saat sekolah diliburkan? Dimanakah letaknya sentuhan bimbingan seorang guru selama sekolah diliburkan? Seperti apa koordinasi yang hendak dan sudah terbangun antara guru dan para orangtua siswa, yang mana ini salah satu fungsi Direktorat Pendidikan Keluarga Kemendikbud untuk menjembataninya, dalam memastikan proses pembelajaran tetap berlangsung meski sekolah diliburkan sementara?

Selain penugasan semacam itu, tidak adakah cara lain yang lebih kreatif yang bisa lebih menjamin tetap berjalannya proses pembelajaran para siswa meski sekolah diliburkan, bahkan dapat memunculkan efek kuantum?

Menurut saya, perhelatan besar seperti Asian Games ini amat disayangkan jika tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Kemendikbud dan Pemprov DKI Jakarta, dalam hal inI Dinas Pendidikan maupun pihak sekolah. Sesungguhnya event akbar Asian Games ini bisa menjadi momentum yang baik dalam merangsang dan melejitkan minat dan beragam kecerdasan majemuk para siswa secara lebih baik lagi, terlebih siswa yang sekolahnya diliburkan, ketika para siswa itu bisa dilibatkan langsung terkait hal-hal yang berhubungan dengan even tersebut.

Kemendikbud atau Dinas Pendidikan DKI Jakarta harus memfasilitasi para siswa dan guru yang sekolahnya diliburkan tersebut dengan menggelar kegiatan yang bersifat menyenangkan dan edukatif. Diantaranya kegiatan:

– Bincang dan temu atlit nasional maupun atlit mancanegara negara dari beragam cabang olahraga yang dilombakan secara bergiliran dan dilakukan di luar sesi pertandingan.

– Mengunjungi tempat latihan atlit secara bergilir selama event berlangsung dan mengikuti coaching clinic singkat dari para atlit yang berlaga dari dalam negeri maupun luar negeri.

– Kunjungan ke kedutaan besar negara-negara yang ikut di Asian Games dan menggali tentang segala aspek sosial, budaya, ekonomi, teknologi, olahraga, dan sebagainya.

Selain difasilitasi Kemendikbud atau Dinas Pendidikan, semua kegiatan itu tentunya harus dirancang sedemikian rupa sehingga bisa memungkinkan pelaksanaanya. Selain harus menyenangkan dan edukatif, juga akan membekas di dalam struktur pengalaman para siswa. Beragam inspirasi dan kehendak akan bermunculan di pikiran para siswa karena mereka mengalaminya secara langsung.

Dan kegiatan-kegiatan itu pun tentu bisa diringi dengan tugas pembuatan laporan yang relevan dan disesuaikan dengan mata pelajaran maupun jenjang sekolah para siswa, atau bisa pula dalam bentuk menceritakan kembali hal-hal yang diperoleh para siswa dalam kegiatan tersebut.

Saya pikir jika kegiatan-kegiatan itu bisa dilakukan dan difasilitasi, maka proses pembelajaran saat sekolah diliburkan akan berjalan lebih efektif dan memunculkan efek kuantum ketimbang sekedar memberi tugas secara online seperti disampaikan Plt Kepala Dinas Pendidikan Pemprov DKI Jakarta Bowo Irianto.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top