Dialektika

Kebohongan Itu Dibenarkan dalam politik?

Kebohongan Itu Dibenarkan dalam politik?

Kebohongan Itu Dibenarkan dalam politik?

strategi.id – Menurut Albert Einstein, teori itu disusun diawali oleh fakta dan diakhiri dengan fakta pula, teori apapun disusun di tengahnya. Teori, sesungguhnya adalah simplifikasi pola yang tetap. Orang mengenal itu sebagai rumus.

Sebuah rumus jika dipraktekan berkali-kali dengan cara yang sama pasti hasilnya sama. Karenanya, setiap benda jika dilempar ke udara, baik oleh seorang gembel, milyarder ataupun jenderal, hasilnya sama, jatuh ke bawah. Begitulah faktanya. Ilmu tak mengenal diskriminasi. Ilmu tak mengenal kebohongan. Dia konsisten. Tapi umumnya ini berlaku hanya pada materi. Jarang berlaku pada manusia.

Matematika punya kejujuran lain lagi. Dalam logika matematika, 2+3 pasti sama dengan 5. Itu berlaku di manapun, oleh siapapun. Tapi itu ternyata hanya kebenaran normative.

Karena dalam realitanya 2+3 belum tentu hasilnya 5. Misal, 2X + 3Y dan X adalah kambing, Y adalah macan, maka bisa jadi hasilnya adalah 3 macan yang kenyang.

Angka 2 dan 3 adalah konstanta. Faktor yang tetap. Sedangkan X dan Y adalah variabel. Faktor yang tidak tetap. Variabel inilah yang membuat hasil akhir menjadi berbeda. Hasil sangat tergantung pada variabel.

Dalam dunia teknologi juga terdapat variabel perubah hasil. Pesawat terbang yang terangkat ke udara, pasti akan jatuh kembali ke bumi. Namun ketika diberi dorongan tenaga turbo dengan kekuatan melebihi daya tarik bumi, hasilnya pesawat itu justru terbang menjauh permukaan bumi.

Meski pada akhirnya pesawat tetap akan turun ke bumi, tapi turunnya di tempat berbeda. Begitulah pesawat itu melakukan penyimpangan. Dorongan tenaga turbo menjadi penyebab penyimpangan itu. Penyimpangan yang disengaja ini dikenal sebagai rekayasa.

Di dunia hukum pun terdapat variabel perubah. Jika terjadi pelanggaran hukum, artinya ada ketentuan hukum yang dilanggar, dan itu dibuktikan dengan barang bukti serta saksi, maka dapat dipastikan sanksi hukum akan dijatuhkan.

Tetapi apa yang membuat seorang tersangka bisa mendapat hukuman ringan bahkan terhindar dari hukuman? Di situ terdapat tafsir dan persepsi sang hakim yang mempengaruhi putusan. Apakah tafsir dan persepsi hakim itu didasari oleh azas keadilan atau oleh adanya praktek kong-kalingkong? Hanya dirinya dan Tuhannya yang tahu. Di sini variabel persepsi dan tafsir membuat penyimpangan putusan. Meski pemicunya tersembunyi.

Bagaimana dalam dunia politik? Jika dalam matematika variabel menentukan hasil, dalam dunia politik praktis justru hasil yang menentukan variabel. Apapun variabelnya, hasilnya harus tetap. Menang. Sebab dalam politik praktis berlaku prinsip : Tak ada keberhasilan tanpa hasil. Hasil menjelaskan keberhasilan.

Oleh karenanya para ahli strategi politik dalam permainannya menggunakan rumus : segala cara dan alat dimungkinkan untuk Tujuan.

Tak boleh ada perdebatan apapun mengenai pilihan cara dan alat kecuali itu menentukan Tujuan. Dalam rumusan itu jelas sekali bagaimana rekayasa dan kebohongan sangat mungkin dilakukan bahkan sengaja dilakukan sepanjang hal itu dapat mengantarkan mereka pada kemenangan. Orang bilang ini pilihan taktik dan strategi. Padahal, itu adalah maksud subjektif.

Tentu saja maksud subjektif harus dibuat seolah objektif. Tidak boleh diketahui publik jika kepentingan objektif ditumpangi kepentingan subjektif. Itu akan menghancurkan Team dan Tujuan karena dianggap melakukan kebohongan publik. Jika itu terjadi, maka person atau unit yang melakukan kesalahan itu harus diamputasi agar tidak merusak Team secara keseluruhan, termasuk tidak menghancurkan Tujuan.

Skandal kebohongan publik yang dilakukan Ratna Sarumpaet kemarin, bisa jadi berlatar belakang seperti itu. Mengingat Ratna Sarumpaet merupakan salah satu figur dalam Team Pemenangan pasangan 02. Prabowo-Sandi.

Terlepas apakah kebohongan itu dilakukan berdasar rencana Team atau inisiatif pribadi, sebagaimana rumus tindakan politik, amputasi harus dilakukan untuk menyelamatkan Team dan Tujuan. Ratna Sarumpaet akhirnya dikeluarkan dari Team Pemenangan 02. Prabowo-Sandi.

Begitulah dunia politik praktis. Variabel yang merubah hasil, boleh disingkirkan. Berbeda dengan matematika. Politik praktis itu seperti permainan catur. Variabel boleh diganti, bidak dan perwira boleh dikorbankan. Sepanjang itu menghantarkan pada kemenangan. Sebab kalah dan menang dalam permainan catur bukan terletak pada berapa bidak dan perwira yang masih tegak berdiri. Tapi pada Skak Mat!

Jika yang dilakukan Ratna Sarumpaet adalah pengorbanan perwira dalam strategi pemenangan, maka dia akan mendapatkan kehormatan dan imbalan dari Team-nya pasca kemenangan.

Jika yang dilakukan Ratna Sarumpaet ternyata semata hanya emosi subjektifnya saja, maka malanglah dia. Menghadapi penghakiman sosial dengan mata pisau moral dan norma untuk masa tawanan yang tak diketahui ujungnya.

Penulis: Ismail Arif, Ketua Tim Kajian Dan Analisa Indonesia Maju

Berikan Komentar

Berikan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

20 − seven =

Atas