Nusantara

Kekuatan Islam Jadi Kata Kunci Cawapres Jokowi

Presiden Joko Widodo atau Jokowi menanti kehadiran Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad dan Ibu Siti Hasmah dalam kunjungan kenegaraan di Istana Bogor, Jawa Barat, Jumat (29/6). (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/ is)
Presiden Joko Widodo atau Jokowi menanti kehadiran Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad dan Ibu Siti Hasmah dalam kunjungan kenegaraan di Istana Bogor, Jawa Barat, Jumat (29/6). (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/ is)

Strategi.id -Menguatnya figur seperti Zaenul Majdi (TGB), Mahfud MD, Muhaimin Iskandar dan sejumlah ulama dalam beberapa hari belakangan menunjukkan ada kecenderungan “Kekuatan Islam” menjadi kata kunci (keyword) dalam konfigurasi posisi cawapres Jokowi. Hal itu didasarkan pada realitas politik kekinian dimana politik identitas menjadi instrumen dalam kontestasi elektoral dan diyakini memiliki pengaruh di tingkatan pemilih.

Hal ini dikatakan Direktur Eksekutif Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo, Minggu (15/7/2018) malam, menanggapi mengangatnya atmosfer politik karena kian dekatnya waktu pendaftaran pasangan calon presiden. Saat ini, publik menanti siapa cawapres Joko Widodo. Pasalnya, hingga kini mantan Wali Kota Solo ini belum juga mengumumkan nama calon pendampingnya.

Karyono mengatakan, pemaknaan kata kunci “Kekuatan Islam” bisa menggunakan dua perspektif. Pertama, kekuatan Islam yang merujuk pada figur berlabel Islam yang memiliki basis pendukung Islam. Kedua, bisa merujuk pada tokoh yang beragama islam tapi tidak berlabel sebagai tokoh Islam, tetapi dekat dan didukung ulama dan umat Islam. Artinya, yang menjadi kata kunci sejatinya adalah dukungan umat Islam mayoritas.

Lebih jauh dia menerangkan, ada sejumlah aspek yang menjadi pertimbangan dalam menentukan cawapres Jokowi, misalnya kontribusi masing-masing tokoh dalam menyumbang kenaikan suara.  Dalam penilaian Karyono, preferensi pilihan cawapres pendamping Jokowi boleh dikatakan belum ada yang terlalu menonjol dalam menaikkan suara selain figur Jusuf Kalla (JK) dan Prabowo Subianto. Namun dalam semua simulasi pasangan capres berdasarkan hasil survei sejumlah lembaga, elektabilitas Jokowi saat dipasangkan dengan dengan beberapa nama seperti Muhaimin Iskandar, Airlangga Hartarto, Moeldoko, Mahfud MD, TGB, dan lain-lain masih tertinggi dibanding pasangan calon presiden yang lain.

“Karenanya, untuk aspek elektabilitas tidak terlalu mengkhawatirkan bagi Jokowi asalkan figur cawapresnya tidak terlalu parah track record-nya,” kata Karyono secara tertulis kepada strategi.id.

Selain aspek elektabilitas, figur yang menjadi calon wakil presiden harus bisa diterima oleh masyarakat dan partai koalisi. Memilih figur yang bisa diterima semua pihak ini yang tidak mudah karena masing-masing partai memiliki kepentingan. Inilah tantangan bagi Jokowi. Tantangan penting lainnya bagi Jokowi adalah memilih figur yang memiliki loyalitas bisa bekerjasama dengan baik. Aspek ini penting agar tidak terjadi konflik, sehingga pemerintahan bisa berjalan baik. “Kalau soal kapabilitas dan integritas dari nama-nama yang muncul di publik pasti ada plus-minusnya,” ujarnya.

Tetapi Karyono juga mengingatkan aspek lain yang juga menjadi pertimbangan, yaitu realitas isu yang berkembang saat ini seperti menguatnya isu politik identitas yang mengandung unsur SARA dan isu militer vs sipil. Faktanya, pesaing Jokowi saat ini ada beberapa nama yang berlatar belakang militer. Sebut saja Prabowo Subianto, Gatot Nurmantyo, dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Publik juga mengetahui di belakang tiga nama itu bertaburan mantan perwira militer.

“Sekarang tinggal tergantung Jokowi dan partai politik yang bakal mengusungnya untuk memilih cawapres dengan pertimbangan dan analisa yang tepat. Semua memiliki kelebihan dan kekurangan. Tinggal membuat skor atau rumus yaitu siapa tokoh yang memiliki skor terbaik dari semua kriteria di atas,” tutup Karyono.

Berikan Komentar

Berikan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

thirteen + four =

Atas