Kepemimpinan Digital, Apa Lagi itu? - strategi.id
Dialektika

Kepemimpinan Digital, Apa Lagi itu?

Strategi.id - Kepemimpinan Digital, Apa Lagi itu?

Strategi.id – Dua hari yang lalu, saya membaca sebuah artikel online tentang transformasi digital. Di dalam artikel itu ditulis bahwa untuk mendukung implementasi transformasi digital yang sedang masif terjadi pada saat ini maka setiap organisasi harus memiliki gaya kepemimpinan digital.

Lalu pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan kepemimpinan digital itu? Kepemimpinan digital atau disebut juga e-leadership diartikan sebagai seorang pemimpin yang mampu memfokuskan dirinya pada tata kelola digital guna menggerakan dan memberdayakan para pengikutnya dan seluruh sumber daya organisasi guna mencapai visi dan misi organisasi

Sejak munculnya Revolusi Industri 4.0 ditambah lagi dengan adanya pandemi covid-19 maka kehadiran kepemimpinan digital itu sangatlah relevan dan amat diperlukan bagi sebuah organisasi.

Cara-cara kerja manual yang selama beberapa dekade kita lakukan lambat laun akan mulai hilang dan digantikan cara-cara kerja yang serba virtual, yang makin hari akan semakin meningkat guna menggantikan layanan dan cara kerja tatap muka tradisional. Dan ke depanya perilaku setiap orang akan terus nyaman dengan interaksi digital/virtual.

Karenanya, seorang pemimpin dan juga para pengikut harus memiliki kemampuan berpikir secara lincah dan mampu bekerjasama tanpa adanya batasan waktu, ruang, dan rintangan budaya dimana pengawasan dan interaksi tatap muka tidak diperlukan lagi. Ia harus bersifat fleksibel dalam penggunaan waktu dan mampu beradaptasi dgn perubahan lingkungan organisasi.

Perubahan yang terjadi saat ini akan memaksa sebuah organisasi dan umat manusia masuk ke dalam dunia digital secara utuh, dan ini akan mendorong perkembangan model kepemimpinan baru yang didasarkan pada kepemimpinan digital.
Karena itu, yuk… kita terus belajar menyesuaikan diri agar kita tidak semakin usang dengan kehadiran teknologi digital yang sangat super cepat akhir-akhir ini.

Penulis Oleh: Dr. Harry Nenobais (Dosen Kebijakan Publik Universitas Moestopo (Beragama) Jakarta

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top