Ketika Aktivis Berubah dan Berulah, Masih Ada Harapankah? - strategi.id
Dialektika

Ketika Aktivis Berubah dan Berulah, Masih Ada Harapankah?

Strategi.id - Ketika Aktivis Berubah dan Berulah, Masih Ada Harapankah?

Strategi.id – Perjuangan Pendudukan Gedung DPR/MPR bukanlah aksi yang didisain sangat canggih oleh Mahasiswa. Aksi ini adalah didisain dengan sederhana dengan segala keterbatasan.

Seingat saya, Forum Komunikasi Senat mahasiswa se-Jakarta (FKSMJ) bermaksud mengadakan rapat di Trisakti tanggal 12 Mei 1998 sore hari dengan agenda merumuskan aksi utk bertemu pimpinan DPR.

Namun rapat kita batalkan. Karena lewat Pager(penyetara), Saat itu Handphone masih jarang dan mahal, Kami dapat kabar Kampus Trisakti yang diserang polisi dan tentara saat itu telah menelan korban.

Semua kita sepakat utk membatalkan pertemuan dan semua sepakat menuju ke rumah sakit Sumber Waras untuk memastikan kejadian Penembakan

Pada tanggal 17 Mei 1998, Kita sepakat melakukan rapat di IKIP Jakarta. Proses rapat tidak mudah. Ada kondisi curiga antar sesama aktivis, ketidaksukaan beberapa kampus dengan kampus lain, hingga berusaha menjaga jangan sampai bentrok dengan jaringan aksi yg lain. Rapat berakhir saat malam hari. Semua peserta rapat sepakat berangkat dan menginap di Gedung G(Gedung Kesekretariatan Mahasiswa)IKIP Jakarta dengan kondisi tetap saling menjaga keamanan. Karena pasca Penembakan dan Kerusuhan,situasi keamanan di Kampus menjadi mencekam.

Esoknya,Kita berangkat dengan menyewa bus metromini P03 jurusan Senen – Rawamangun sebanyak 2 buah. Kami tidak menggunakan bus kampus apalagi bantuan keuangan dari kampus. Kami murni urunan dari uang teman teman. Kami memang mengikuti di belakang iring-iringan bus kampus IKIP Jakarta yg berisi Rektor dan Guru Besar yang berencana bertemu dgn Pimpinan DPR. Tapi kami bukanlah bagian dari kelompok ini. Kami hanya menggunakan cara ini sebagai strategi utk masuk ke Gedung DPR. Meskipun begitu,kami juga tetap membawa Surat keterangan utk bertemu Pimpinan DPR yg sudah kami Fax sebelumnya.

Dan Setelah Kita berhasil masuk ke halaman DPR dibelakang rombongan para Guru Besar,kami ditahan di halaman Parkir oleh Seorang Komandan Polisi dan beberapa anak Buahnya.Sementara itu, para Guru Besar IKIP Jakarta tetap lanjut masuk ke dalam gedung.

Tinggallah Kita ,sekitar 30 an orang,berdiri berpanas-panas dilapangan Parkir.Kami diintrogasi dengan beberapa pertanyaan. Dan saat kami jelaskan ke Komandan Polisi sambil menunjukkan selembar surat bahwa kami telah membuat janji dengan pimpinan DPR melalui Humas DPR, tiba-tiba datanglah salah seorang Dosen IKIP Jakarta yang berasal dari rombongan Guru Besar.Ia berlari kecil menuju Komandan Polisi yg sedang menahan kami. Dosen itu bernama (alm) Nusa Putra. Ia berteriak-teriak kepada polisi. Kira-Kira begini teriakannya: ” Bapak Polisi, tolong biarkan para mahasiswa ini. Para mahasiswa ini datang ke DPR sesuai dengan Instruksi Jendral Wiranto. Bapak Jendral meminta mahasiswa menyampaikan aspirasinya ke DPR …”

Kami hanya terdiam saat Dosen ini berteriak -teriak.
Saya tidak pernah meminta almarhum membantu kami karena kami paham posisi beliau yg saat itu berstatus Dosen PNS yg tentunya tidak bisa sembarangan membantu.
Tapi saat itu teriakannya cukup membantu kami sehingga akhirnya Komandan Polisi memutuskan kami untuk bisa masuk ke Gedung DPR.

Dan selanjutnya kita semua tahu apa yang terjadi.
***
Saya sengaja untuk tidak melanjutkan bagaimana kisah ini selanjutnya. Melalui tulisan ini,saya hanya ingin menyampaikan sebuah kenangan yang Saya harap bukan kenangan utopia.Saya terkenang dengan kejujuran Dan kesungguhan besar di hampir sebagian besar teman-teman FKSMJ untuk menjaga moral perjuangan.

Sebelum berangkat,Beberapa kawan sempat meributkan bantuan uang sebesar 100K dari salah satu kampus untuk aksi hari itu. Sebagian kita menolak uang tersebut karena khawatir ada maksud lain dari penyumbang yg kebetulan Juga dari kampus yang sedang punya masalah dengan beberapa kampus dalam beberapa aksi. Sekedar info,uang 100K cukup besar saat itu karena kalau kita makan diwarteg dapat sepiring nasi sayur dan telor untuk 20 orang….

Saya terkenang saat ini. Apakah kejujuran dan kesungguhan dalam berjuang akan bisa terus dibawa oleh kita dalam proses berjuang atau saat kita berkuasa atau setelah kita berkuasa hingga Ajal menjemput?

Saya mungkin naif….
Saya ingat dalam sebuah pertemuan sederhana beberapa waktu yang lalu,beberapa aktivis berargumen tentang moral dan kekuasaan.

Ada yang yang kira-kira berkata seperti ini: “Moral seperti kejujuran mungkin Kita simpan dulu dikantong Belakang celana kita dalam merebut kekuasaan. Nanti setelah kita berkuasa, Kita keluarkan moral kita!” Ada juga yang menambahkan: “Jangan bicara moral seperti kejujuran dan kesucian.” Saya Sudah cape miskin. Saya ingin menikmati hasil Reformasi ini ! Apa Saya nggak boleh hidup enak?”

Saya hanya bisa diam dan menerawang saat mendengar Ucapan yg sejenis seperti ini.

Apalagi aktivis yg lain menambahkan: “Apa yg Sudah kita dapatkan dari Reformasi ini? Sementara,jaringan aksi dari tetangga sebelah sudah ikut penguasa dan merasakan nikmatnya berkuasa dan kue – kue kekuasaan. Kapan giliran kita ?”

Saat itu, saya perhatikan wajah-wajah yg hadir. Ada sebagian yg menyetujui pendapat ini dan Ada yg tidak setuju.Bahkan ada yg Perhatikan juga Wajah kawan kawan agak tersinggung dengan Ucapan tersebut.

Tapi saya jadi semakin paham tentang masalah moral dan kekuasaan. Sebagian orang memang menjadi berubah dan berulah. Sayapun juga punya banyak dosa Serta tidak jujur dan tidak bersih. Saya Juga mungkin dianggap berubah dan berulah. Itulah realitas kehidupan. Sebagian aktivis mahasiswa telah bertransformasi menjadi dewasa dan berkeluarga. Yang tadinya seorang aktivis dan anggota komunitas aktivis, sekarang telah menjadi politisi atau komunitas politisi yang berubah dan berulah.

Saya memang masih merindukan kejujuran dan kesungguhan. Saya masih merindukan politisi atau penguasa yang banyak jujurnya Dan bersihnya. Bukannya politisi yang saat jadi aktivis paling keras membenci dan menghina Suharto tapi ternyata secara diam-diam telah melakukan transaksi negosiasi dgn Keluarga Suharto demi mendapatkan milyaran rupiah.

Saya sadar bahwa usia Saya mungkin tidak lama lagi. Saya mungkin tidak bisa melihat haraoan saya terwujud.

Saya mungkin tidak bisa berharap menjadi seorang politisi yg lebih banyak jujur dan bersihnya.
Saya juga mungkin tidak bisa berharap melihat sejumlah politisi yg banyak jujurnya dan bersih aktivitasnya.

Tapi saya mungkin punya harapan yang bisa terwujud

Harapannya saya ada di adik-adik mahasiswa dan pelajar. Saya selalu punya harapan saat berbicara di depan mereka. Saya selalu semangat bercerita kemereka.

Saat bertemu mereka, saya berharap saya bisa jadi inspirasi kecil buat mereka untuk punya idealisme moral dan kekuasaan.

Mungkin inilah aktivitas yang akan kujalani,saat “pulang” menuju “kampung halaman” ..

Saya tidak ingin menyalahkan kawan-kawan yang berseberangan tentang masalah moral dan kekuasaan. Apalagi saya tidak punya solusi konkrit buat kondisi ekonomi mereka. Dan saya pun bukan orang yg bersih yang layak dijadikan contoh.

Akhirnya, Saya mungkin mempunyai kesimpulan bahwa Reformasi memang telah memakan korban sebagaimana perjuangan kehidupan lainnya….
Namun selama kita yakin bahwa setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan maka menjadi korban dalam Perjuangan adalah keniscayaan….

(Tulisan ini ditulis tidak dengan semangat berapi -api tapi dengan menahan ngantuk..)

Penulis: Hendri Basel (Mantan Aktivis FKSMJ 98 dan Pemerhati Pendidikan).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top