Ketika Surya dan Energi Bersih Terbit di Nusa Tenggara Timur - strategi.id
Teknologi

Ketika Surya dan Energi Bersih Terbit di Nusa Tenggara Timur

Strategi.di – Pukul sembilan pagi posisi sang surya di kota Maumere, Kabupaten Sikka masih jauh dari atas kepala tetapi panasnya mulai terasa menyengat ke permukaan kulit. Saat itulah kami memulai perjalanan pertama menuju kelurahan Wailiti, kecamatan Alor Barat. Jaraknya sekitar 12 kilometer dari pusat kota. Di sanalah terdapat 55 kepala keluarga dari komunitas Pomat yang baru saja merdeka dari kegelapan setelah bertahun-tahun hidup tanpa aliran listrik.

Perjalanan ke Pomat memang butuh sedikit perjuangan. Jalan sempit, berbatu, dan menanjak sudah jadi pemandangan yang akrab ditemui. Di sisi kiri dan kanan jalan hamparan lahan yang luas khas Nusa Tenggara Timur menjadi perhiasan tersendiri. Tanahnya kering. Nyaris sulit menemukan pepohohan yang rimbun dedaunannya.

Sekitar tiga kilometer sebelum tiba di tempat tujuan, jaringan listrik PLN sudah tidak lagi kelihatan. Namun mulai tampak satu hingga dua rumah yang memasang perangkat panel surya di atas atap. “Panel itu termasuk pemberian kami. Seperti itulah kira-kira bentuknya,” kata Maria Kristina, salah satu staf lokal Yayasan Wadah Titian Harapan.

ahloo-surya 7

Salah satu rumah warga di Pomat yang menggunakan panel surya

Kristina tahu betul seluk beluk komunitas Pomat sebelum teknologi panel surya masuk ke wilayah mereka. Dia termasuk dalam tim yang ikut melakukan survei awal untuk menentukan kelompok masyarakat mana yang pantas diberikan bantuan. Berbagai pertimbangan dilakukan, salah satunya soal akses listrik yang minim, hingga akhirnya diputuskan empat komunitas yang layak menerima. Pomat termasuk di dalamnya.

Ia bersama Wolomude dan Wuring Lembah adalah tiga komunitas di wilayah Kabupaten  Sikka yang mendapatkan bantuan lampu listrik tenaga surya. Satu komunitas lagi adalah Koa yang berada di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan. Dalam masyarakat NTT, komunitas setara dengan dusun. Biasanya jumlah penduduk di satu komunitas tak lebih dari 400 kepala keluarga.

Setelah melalui 30 menit perjalanan tibalah kami di pusat kegiatan masyarakat Pomat. Warga setempat lebih suka menyebutnya bengkel listrik tenaga surya (LTS). Di tempat ini sinar matahari sudah sangat terasa menyengat dengan suhu sekitar 31° celcius. Panasnya cukup ideal untuk mengisi ulang baterai yang telah tersambung dengan kabel panel surya.

“Sekarang sedang musim kemarau jadi memang matahari bisa sangat terang,” kata Agnes Dalima.

Mama Agnes, biasa ia disapa, adalah salah satu dari delapan perempuan yang dikirim ke India dua tahun lalu untuk belajar merakit listrik tenaga surya. Mama Agnes bilang ketika memasuki musim hujan, biasanya di bulan Januari hingga Mei, warga harus pintar-pintar menghemat energi. Soalnya, di musim itu sinar matahari tidak seterik saat kemarau. Kadang dalam seminggu hanya satu hari panas, sisanya hujan dan mendung.

ahloo-surya 2

Mama Agnes dan salah satu kadernya sedang melakukan service rutin

Supaya lampu surya tetap menyala, warga hanya menghidupkan satu lampu di setiap rumah. Sementara tiga lampu lainnya terpaksa dimatikan. Namun keadaan seperti itu masih lebih baik ketimbang tiga tahun lalu. Saat itu Pomat sangat gelap ketika malam datang. Warga hanya mengandalkan pelita berbahan bakar minyak tanah dan senter baterai sebagai penerangan.

Memiliki listrik surya memang jadi berkah buat warga Pomat. Selain dapat menikmati terangnya cahaya lampu, listrik yang mengalir juga membantu mereka mengisi ulang daya baterai handphone. Gauldensius Potu (36), salah satu warga Pomat bercerita, dirinya harus pergi ke kota Maumere hanya untuk mengisi ulang baterai.

Ongkos pulang-pergi ke kota sekitar Rp 20.000, sementara ongkos mengisi ulang baterai sekitar Rp 2.000 sampai terisi penuh. Kebiasaan itu terus menerus terjadi. Warga hanya bisa pasrah sebab PLN tak juga mau mengabulkan pengajuan jaringan listrik ke wilayah mereka. Padahal, secara administratif Pomat termasuk dalam wilayah kota di bawah wewenang perangkat kelurahan.

Keadaan yang serupa juga terjadi di komunitas Wolomude, desa Tekaiku, kecamatan Kangae. Kondisi geografisnya mirip dengan Pomat yang terletak di perbukitan. Bedanya, keadaan fisik jalan menuju Wolomude jauh lebih baik. Di komunitas ini terdapat 170 kepala keluarga (KK) yang menetap. Namun hanya 96 KK yang menggunakan listrik tenaga surya.

ahloo-surya 1

Mama Delfina dan Mama Karolina saat datang pada pertemuan rutin dengan pengurus komite LTS

Mereka yang tidak kebagian bantuan adalah kelompok masyarakat yang meragukan program bantuan ini. Ketika tim survei dari Yayasan Wadah Titian Harapan mendata siapa saja yang berminat ikut, mereka memilih tidak ikut serta. Akhirnya jumlah bantuan pun hanya disesuaikan dengan data formulir yang diisi warga.

Sebelum memasang listrik surya, warga banyak mengandalkan pelita dan genset sebagai sumber penerangan. Setiap rumah biasanya menyimpan tiga hingga empat pelita. Sementara genset tidak digunakan setiap hari. Mereka hanya memakainya pada saat ada hajatan, ibadah bersama, atau upacara adat.

Saat bantuan listrik tenaga surya datang, nyaris semua itu tak pernah lagi dipakai. Tidak ada lagi warga yang memakai pelita sementara mesin genset hanya dipakai ketika butuh tambahan daya listrik yang besar. Itupun jadi pilihan terakhir bila kapasitas listrik di bengkel LTS tidak mencukupi. Bengkel LTS yang dibangun atas bantuan Yayasan Wadah Titian Harapan juga memiliki perangkat panel surya.

Kapasitasnya lebih besar dibandingkan panel yang dipasang di rumah warga. Untuk kegiatan rohani seperti latihan paduan suara yang membutuhkan alat musik listrik keyboard, warga memanfaatkan fasilitas ini. Kadang mereka juga memakainya untuk menyalakan televisi saat acara nonton bersama.

 

ahloo-surya 6

Searah jarum jam: Tiang listrik yang baru dibangun, Panel surya di bengkel, dan Mama Delfina yang sedang memperbaiki kerusakan

Sebenarnya nasib Wolomude bisa dibilang lebih beruntung dibanding Pomat. Selain medannya yang lebih mudah dicapai, jaringan listrik PLN mulai masuk ke wilayah mereka. Mateus Moa(60), Ketua Komite LTS Wolomude bercerita, pembangunan tiang listrik di tempat mereka dilakukan tak lama setelah Wolomude mendapatkan bantuan listrik tenaga surya. Kabel-kabel listrik pun sudah tampak saling terikat antara satu tiang dengan tiang yang lain. Meskipun sudah siap, masih sedikit warga yang memutuskan untuk berlangganan listrik PLN.

Harga yang mahal jadi kendala buat mereka. Untuk memasang daya sebesar 900 watt, mereka harus menyediakan uang sekitar Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta. Jika daya lebih dari itu, harga yang disetor ke PLN tentu lebih besar. “Uang itu besar sekali buat kami. Warga berpikir dua kali untuk langganan. Kami lebih baik pakai ini (listrik surya) dulu,” ungkap Mateus.

***

Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu provinsi yang rasio elektrifikasinya rendah. Bila dibandingkan dengan Jakarta yang sudah 100 persen berlistrik, rasio elektrifikasi di NTT hanya 24,5 persen. Fakta ini memunculkan gap yang sangat besar antara pusat dengan daerah. Warga yang tidak mendapatkan akses listrik terpaksa harus hidup dalam gelap atau mengusahakan listrik mandiri dengan genset.

Padahal menurut data yang pernah disusun organisasi lingkungan hidup, Greenpeace Indonesia, penggunaan genset secara berkala selain menghasilkan emisi karbon juga sangat mahal. Didit Haryo Wicaksono, Climate and Energy Campaigner Greenpeace Indonesia menjelaskan, untuk mengkonversi listrik dari mesin genset selama empat jam per harinya, dana yang dibutuhkan mencapai Rp 29 juta per tahun.

Hitungan tersebut dia dapat ketika melakukan program serupa di masyarakat Sui Utik, desa Embaloh Hulu, Kapuas Sulu, Kalimantan Barat. Masyarakat setempat akhirnya mengalihkan penggunaan genset ke panel surya. “Dengan panel surya, mereka hanya membutuhkan Rp 10 juta di tahun pertama untuk mendapatkan jumlah listrik yang sama seperti genset. Selebihnya tidak perlu membayar,” jelas Didit.

ahloo-surya 3

Didit Haryo Wicaksono, Climate and Energy Campaigner Greenpeace Indonesia

Menurut data kajian Greenpeace Indonesia, saat ini jumlah energi terbarukan yang baru dimanfaatkan hanya 4,4 persen, sisanya Indonesia masih tergantung pada fosil. Itu berarti pengurangan emisi karbon masih sangat kecil. Padahal energi bersih seperti pembangkit listrik surya sangat berpotensi besar bila dikembangkan, khususnya di wilayah yang memiliki intensitas radiasi matahari yang tinggi.

BPPT dan BMG pernah mengeluarkan data statistik mengenai intensitas radiasi matahari. Kedua lembaga itu menyebut rerata intensitas radiasi matahari di Indonesia sekitar 4,8 kilowatt per jam/m². Itu artinya, di setiap lahan seluas satu meter persegi energi listrik yang bisa dihasilkan dari matahari mencapai 4.800 watt atau setara daya listrik lima buah rumah sederhana di Jakarta.

Di provinsi Nusa Tenggara Timur intensitas radiasi matahari termasuk yang tertinggi dibanding provinsi lain yakni 5,1 kilowatt per jam/m². Dilihat dari fakta itu, secara teknis NTT memiliki potensi besar dalam pengembangan pembangkit listrik surya. Kendala kebutuhan lahan yang biasanya didengungkan pun bukan jadi masalah besar apabila melihat banyaknya lahan tidur yang tersebar di berbagai titik.

Kendala lain dalam pengembangan pembangkit listrik surya adalah besarnya modal investasi. Itulah yang menjadi alasan mengapa hingga saat ini jarang ada perusahaan swasta yang berminat membangun pembangkit surya. Pemerintah melalui Kementerian ESDM harus turun tangan langsung menyediakan pembangkit surya dengan dana APBN.

ahloo-surya 5

Dari catatan Kementerian ESDM, hingga akhir 2015, jumlah pembangkit surya terpusat yang sudah dibangun di seluruh Indonesia berjumlah 141 unit dengan total kapasitas listrik 5,4 megawatt. Daya listrik sebesar itu mampu menerangi 21.771 rumah dan 1.000 fasilitas umum. Khusus di provinsi Nusa Tenggara Timur, pembangkit listrik surya yang sudah dibangun sebanyak 13 unit dengan total kapasitas listrik 380 kilowatt sebagai penerang 1.449 rumah dan 51 fasilitas umum.

Tahun ini Kementerian ESDM juga sudah menargetkan penambahan fasilitas pembangkit surya di NTT.  Jumlahnya mencapai 14 unit pembangkit skala kecil yang tersebar di berbagai kabupaten dengan total kapasitas listrik 1.105 kilowatt. Jika satu rumah sederhana memiliki daya listrik 450 watt, berarti ada lebih dari 2.000 rumah tangga yang akan menikmati aliran listrik baru.

Direktur Konservasi Energi, Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Farida Zed meyakinkan bahwa pemerintah sangat serius dalam membangun sumber energi bersih di Indonesia Timur seperti NTT.  Hampir semuanya menggunakan dana APBN karena minimnya keterlibatan swasta.  “Di Indonesia Timur kita ketahui bahwa potensi sumber daya energi dari matahari sangat besar, maka itu kita memanfaatkannya dengan membangun panel surya dalam skala komunal,” ujar Farida.

ahloo-surya 4

Farida Zed, Direktur Konservasi Energi, Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi

Jika langkah itu berhasil, target pemerintah untuk mengurangi pembangkit fosil akan cepat terlaksana. Di Maumere, tempat tiga komunitas pengguna listrik surya berada masih menggunakan pembangkit diesel yang memakai solar. Padahal kandungan emisi yang dihasilkan diesel cukup tinggi. Sebaliknya, pemakaian listrik surya sama sekali tidak menghasilkan emisi karbon.

Sesuai hasil konfrensi perubahan iklim ke-21 di Paris tahun lalu, Indonesia memiliki target untuk mengurangi emisi sebesar 29 persen pada 2030 atau 41 persen dengan dukungan internasional. Di masa depan penyumpang emisi terbesar adalah sektor energi. Itulah mengapa dalam naskah Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional, jumlah pembangkit listrik terbarukan ditambah jadi 25 persen.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Kementerian ESDM, Jarman Sudimo sangat yakin skenario pemerintah ini akan berhasil menurunkan jumlah emisi sesuai target meskipun porsi pembangkit fosil masih cukup besar. “Pembangkit fosil kan lebih cepat dibangun tapi sembari itu kita buat peraturan yang menarik swasta agar mau berinvestasi di energi terbarukan, termasuk di pembangkit surya.” (Sumber : pingopi.com)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top