Ketua Fraksi Hanura Inas N Zubir : Telah Muncul Genre Politik Baru Neo Orbaisme – strategi.id
Nusantara

Ketua Fraksi Hanura Inas N Zubir : Telah Muncul Genre Politik Baru Neo Orbaisme

strategi.id- H. INAS NASRULLAH ZUBIR BE, SE

Strategi.id- Ketua Fraksi Hanura di DPRstrategi.id- H Inas Nasrullah Zubir  BE SE  menilai, telah muncul genre politik baru yang diusung kubu Prabowo Subianto, yaitu neo orbaisme.

Menurut Inas Zubir, nepotisme menjadi ciri khas orde baru (orba) yang dihidupkan kembali melalui persekongkolan politik keluarga Cendana dalam Pilpres 2019.

“Suka tidak suka, itu kenyataannya. Meski neo orbaisme-nya Prabowo memang tidak sepenuhnya juga orba, melainkan bercampur dengan kesetiaan absolut kepada pemimpin, xenophobia dan propaganda,” kata Inas, Selasa (23/10/18).

Lanjut Inas, kesetiaan absolut tercermin dari tidak adanya munas, musda dan muscab di Partai Gerindra yang dipimpin Prabowo Subianto.

“Ketakutan kepada asing (xenophobia) dan pesan-pesan Prabowo yang tidak objektif tapi bertujuan untuk mempengaruhi masyarakat (propaganda),” jelasnya.

“Oleh karena itu genre politik baru yang diciptakan Prabowo ini dapat kita namakan juga neo orbanazisme,” sambung Inas.

Pada kesempatan yang berbeda Tommy Suharto, Ketua Umum Partai Berkarya bertemu warga Hamadi, Kota Jayapura. Dalam kesempatan itu, ia membicarakan tentang utang luar negeri Indonesia yang semakin meningkat dan kurangnya pemberdayaan ekonomi rakyat.

“Partai Berkarya hadir karena sudah 20 tahun reformasi Indonesia tidak membawa perubahan yang lebih baik bagi kehidupan masyarakat. Malah utang luar negeri kita yang semakin bertambah hingga mencapai Rp 5,425 triliun,””ujarnya saat berbicara di hadapan ratusan masyarakat nelayan Pasar Ikan Hamadi, Kota Jayapura, Papua, Rabu (24/10/18) seperti yang dirilis Detik.

Hutomo Mandala Putra Soeharto atau yang biasa dipanggil Tommy Soeharto mengatakan, dirinya tadinya berharap di era reformasi, kehidupan masyarakat Indonesia akan lebih sejahteran dari masa Orde Baru.

“Kita bangga infrastruktur dibangun tetapi nyatanya semua itu diutang, sementara ekonomi kerakyatan tidak diperhatian,” katanya.

Peryataan tersebut menimbulkan polemik di masyarakat salah satu yang ikut komentar adalah Aktifis 98 Sayed Junaidi Rizaldi Al Hinduan (SJR), merespon keras pernyataan Tommy Soeharto yang mengatakan bahwa 20 tahun reformasi tidak membawa perubahan, Jakarta (25/10/18).

Sayed yang lebih dikenal dengan Pak Cik ini menegaskan bahwa setelah tumbangnya Orde Baru menjadi awal perubahan tatanan negara di Tanah Air. “Korupsi dan kolusi terlihat jelas proses pemberantasannya,” katanya.

Pak Cik pun memaparkan di era Orde Baru, dominasi keluarga Cendana sangat kuat. “Bisnis keluarga Cendana mulai dari hulu hingga ke hilir,” tegasnya.

“Baiknya Tommy tak usah banyak omong. Silahkan diingat-ingat saja masa Ayahnya berkuasa selama 32 tahun. Memimpin bangsa dengan otoriter dan HAM pun dilanggar,” kata Pak Cik.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top