Kim Vs Trump, Era Baru Perang Dingin – Kilas Balik (Bagian 1) – strategi.id
Dialektika

Kim Vs Trump, Era Baru Perang Dingin – Kilas Balik (Bagian 1)

kim vs trump

Strategi.id – Runtuhnya Tembok Berlin menjadi tengara berakhirnya Era Perang dingin antara blok barat yaitu Amerika Serikat (AS) dan sekutunya NATO versus blok timur yaitu Uni Sovyet (US) dan sekutunya Pakta Warsawa yang berlangsung lebih kurang sejak akhir Perang Dunia II hingga 1991.

Perang dingin antara kapitalisme versus komunisme yang menjadi medan magnet tarik menarik hegemoni sehingga membuat dunia terbelah menjadi dua kubu yang dipaksa untuk pro AS kontra US atau pro US kontra AS. Tercatat setidaknya tiga negara yang sempat terbelah diantaranya Jerman yang terbagi dua menjadi Jerman Barat yang pro AS versus Jerman Timur yang pro US, Vietnam Selatan yang pro AS versus Vietnam Utara yang pro US, Korea Selatan yang pro AS versus Korea Utara yang pro US

Program perestroika (restrukturisasi, rekonstruksi, reorganisasi) dan glastnost (keterbukaan) yang dicanangkan Mikhail S. Gorbachov selepas dilantik menjadi Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Sovyet pada bulan Maret 1985 membuka peluang terjadinya babak baru perundingan antara Uni Sovyet dibawah kepemimpinannya dengan Amerika Serikat dibawah kepemimpinan Ronald Reagan yang membawa pada berakhirnya Perang Dingin sehingga mampu menyatukan kembali Jerman Barat dan Jerman Timur, meski pada konteks Vietnam, AS harus terusir pergi dan merelakan kemenangan Uni Sovyet atas Vietnam.

Di sisi lain, berakhirnya perang dingin berdampak pada krisis kejatuhan Uni Sovyet hingga terpecah menjadi 15 negara republik yang berdiri sendiri. Daniel Bell dalam bukunya yang berjudul The End of Ideology terbitan tahun 1960 sejak awal sudah memprediksi akan kekalahan komunisme yang sekaligus juga merupakan kemenangan kapitalisme yang membawa dunia pada mono ideologi yaitu sosialisme demokrat yang menjadi sintesa dari proses dialektika antara komunisme versus kapitalisme. Dalam perspektif barat, sosialisme demokrat lebih dikenal sebagai kapitalisme humanis mirip seperti dua sisi koin yang berbeda tetapi tidak terpisahkan satu dengan yang lain.

Meski nampaknya Perang Dingin sudah berakhir bahkan hampir terlupakan, namun setelah hampir 27 tahun ternyata masih berpotensi untuk bangkit kembali dalam poros pertarungan lama. Uni Sovyet yang sudah berubah menjadi Russia yang tidak lagi menjadi negara komunis, namun di bawah kepemimpinan Vladimir Putin mantan KGB (Dinas Intelijen US) yang masih mewarisi DNA konflik era Perang Dingin.

Belum lagi RRC yang meskipun masih mempraktekkan komunisme secara politik dengan kepemimpinan Partai Komunis China sebagai partai tunggal, namun setelah peristiwa tragedi Tiananmen yang berlangsung 15 April 1989 – 4 Juni 1989 segera berbenah dan mengkonsolidasi diri dengan lebih membuka diri secara ekonomi dan bertransformasi secara konstitusional menjadi 1 negara dengan 2 sistem seperti yang diformulasikan oleh Deng Xiaoping. Untuk kebijakan dalam negeri, RRC tetap mempraktekkan komunisme, tetapi dalam kebijakan luar negeri RRC berubah menjadi negara kapitalis (State Capitalism).

Keterlibatan militer US dan RRC juga terlihat hadir secara bersama dalam menghadapi krisis perang saudara di Suriah di bawah kepemimpinan Bashar Al Assad yang mendapat serangan dari pemberontak atas dukungan militer AS dan sekutunya. Sementara itu bersatunya Jerman Timur dengan Jerman Barat serta Vietnam Selatan dengan Vietnam Utara ternyata tidak secara paralel dialami oleh Korea Utara dan Korea Selatan yang hingga saat ini masih terus terlibat konflik perbatasan. Korea Selatan yang berafiliasi ke AS dan di pihak lain Korea Utara yang tetap masih mendapatkan dukungan dari RRC dan US.

Pada konteks Korea Utara, setelah kematian Kim Jong Il pada 17 Desember 2011 yang menjadi Pemimpin Tertinggi Korea Utara sejak 1994, Kim Jong Un putra bungsunya di usia yang baru 27 tahun didapuk naik sebagai “Penerus Agung” untuk menggantikan ayahnya. Di bawah kepemimpinannya, Kim Jong Un dalam rapat para petinggi militer Korea Utara mengeluarkan perintah untuk mempersiapkan uji coba nuklir dan memperkenalkan darurat militer yang mulai diberlakukan pada 29 Januari 2013.

Pada 7 Maret 2013, Kim Jong Un mengancam akan melakukan preemptive nuclear strike yang merupakan serangan mematikan langsung ke arah jantung pertahanan militer AS serta berencana untuk “menyapu habis” Pulau Baengnyeong milik Korea Selatan. Selain itu Korea Utara juga mengungkapkan rencananya untuk melancarkan serangan nuklir terhadap beberapa kota besar diantaranya Los Angeles, Washington D.C., Tokyo dan berbagai kota besar lainnya yang menjadi sasaran tembak. Yang terbaru, Kim Jong Un mengancam untuk menembakkan nuklirnya ke pangkalan militer AS di Hawaii dan Guam.

Kim Jong Un juga dikenal berdarah dingin. Orang orang yang selama ini menjadi kepercayaan ayahnya dan dianggap berpotensi sebagai pesaing dicopot dari jabatannya atau menghilang misterius untuk digantikan dengan orang orang yang hanya setia kepadanya. Tak terkecuali Jang Sung Taek, pamannya sendiri juga dieksekusi karena dituduh berkomplot melawan perintah dirinya sebagai Panglima Tertinggi. Bahkan Kim Jong Nam kakak sulungnya yang digadang gadang untuk menggantikan Kim Jong Il, juga dibunuh oleh agen intelijen Korea Utara di Bandara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia.

Tentu apa yang dipaparkan tersebut di atas bukan sekedar dongeng pengantar tidur melainkan sebuah kilas balik rangkaian peristiwa yang dihadirkan untuk menyegarkan kembali memory kolektif dari apa yang pernah terjadi di masa lalu. Berbagai informasi tersebut diharapkan bisa menjadi introduksi dan pengantar dalam mencermati apa yang sesungguhnya terjadi dibalik pertemuan Kim Jong Un dengan Presiden AS Donald Trump di Singapura.

Berlanjut ke: Kim VS Trump, Era Baru Perang Dingin (Bagian 2 Perang Generasi V)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top