Kinerja Keuangan Jiwasraya “Tertekan” Sejak 2017 – strategi.id
BUMN

Kinerja Keuangan Jiwasraya “Tertekan” Sejak 2017

strategi.id jiwasraya gagal bayar Rp 802 milyar
strategi.id - Kinerja Keuangan Jiwasraya "Tertekan" Sejak 2017

Strategi.id- PT Asuransi Jiwasraya kini tengah dilanda masalah likuiditas. Akibatnya, asuransi BUMN itu menunda pembayaran polis asuransi yang dipasarkan melalui bank (bancassurance) yang jatuh tempo Oktober 2018.

Seperti yang dilansir Kontan ada tujuh bank yang menjadi agen penjual produk asuransi Jiwasraya. Mereka adalah PT Bank Tabungan Negara (BTN), Bank ANZ, Bank QNB, PT Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank KEB Hana, PT Bank Victoria dan Standard Chartered Indonesia.

Jiwasraya pernah diterpa masalah yang tidak mudah. Sekitar bulan Agustus 2014, Menteri BUMN Dahlan Iskan kala itu menuliskan cerita yang sedikit mengejutkan. Bila dilihat laporan kinerja PT Asuransi Jiwasraya (persero ) ini ditahun 2017 hingga Mentri Rini Soemarno turun tangan.

Kementerian BUMN di bawah kendali Rini Soemarno memang telah mencium ada sebuah ketidakberesan setelah mendapatkan laporan dari Direktur Utama Jiwasraya Asmawi Syam yang baru dilantik Mei 2018 lalu.

Dugaannya, terjadi aset liability mismatch (ketidakseimbangan aset dengan kewajiban) karena penempatan investasi. Kementerian telah meminta audit investigasi kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

Bila melihat tahun 2017, kinerja keuangan Jiwasraya memang tertekan. Hal ini terlihat dari laba bersih perusahaan yang anjlok 98,46% menjadi Rp 328,43 miliar. Tahun sebelumnya Jiwasraya mencatatkan laba bersih Rp 2,14 triliun.

Penurunan kinerjanya Pendapatan usaha tak tumbuh maksimal sementara jumlah beban terus meningkat. Jumlah pendapatan naik 19,03% menjadi Rp 25,12 triliun dari Rp 21,1 triliun.

Sementara jumlah beban naik 27,88% dari Rp 19,33 triiliun menjadi Rp 24,72 triliun. Salah satu penyebab kenaikan jumlah beban adalah pembayaran klaim dan manfaat yang naik lebih dari dua kali lipat, dari Rp 6,86 triliun menjadi Rp 15,67 triliun seperti yang dilansir CNBC Indonesia.

Indikator berikutnya yaitu utang. Pada 2017 tercatat, Jiwasraya memiliki utang mencapai Rp 513,81 miliar atau meningkat sekitar 30% dibandingkan 2016 yang hanya Rp 382 miliar.

Kenaikan utang salah satunya disebabkan meningkatnya utang klaim pada periode 2017, dimana pada tahun tersebut utang klaim mencapai Rp 125,68 miliar dari sebelumnya Rp 58,89 miliar pada 2016.  Kondisi ini berdampak kepada peningkatan utang perusahaan keseluruhan yang ikut membengkak.

Terakhir, rasio solvabilitas. Indikator ini penting untuk menilai kondisi keuangan suatu perusahaan asuransi sehat atau tidak. Berdasarkan aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perusahaan asuransi harus menjaga rasio solvabilitasnya di atas 120%.

Pada 2017, tingkat solvabilitas Jiwasraya sebesar 123,16%. Artinya Jiwasraya masih di atas ketentuan. Namun rasio solvabilitas pada 2017 turun dalam. Pasalnya, 2016 rasio solvabilitas Jiwasraya di kisaran 200,15%.

Beberapa gambaran ini, menjadi bukti jika kinerja perusahaan BUMN sedang mengalami penurunan. Untuk itu perlu dilakukan evaluasi menyeluruh agar kinerja dapat ditingkatkan kembali, sehingga terhindar dari risiko gagal bayar kewajiban.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top