Kontak Seksual di Luar Nikah, Halal? - strategi.id
Corong

Kontak Seksual di Luar Nikah, Halal?

Strategi.id - Kontak Seksual di Luar Nikah, Halal?

Strategi.id – Jagat “pemikiran Islam” di Indonesia tiba-tiba gaduh, menyusul simpulan disertasi doktoral M. Azis, dengan meminjam perspektif pemikir liberal asal Suriah M. Syahrur, bahwa “milk yamin” dalam teks Al-Quran ( malakat aymamakum ) adalah “pintu masuk” yang memungkinkan kontak seksual di luar ikatan pernikahan ( non marital ), halal.

Sahabat-sahabatku yang budiman.
Kita musti arif dalam meletakkan teks suci sebagai sumber istinbath hukum Islam.
Metode yang ditawarkan Syahrur sejatinya, pendekatan “kontekstual” terhadap teks.

Sementara, jika memperhatikan teks-teks yang diungkapkan Syahrur, (dan juga penulis “disertasi” M. Azis) sejatinya, berambisi mengaktualkan kembali “tradisi” Arab pra-Islam, seperti praktik “perbudakan”, “potong tangan”, dan seterusnya, yang sesungguhnya, Al-Qur’an hadir justru mengeritik secara substansial praktik-praktik tradiri Arab pra-Islam tsb.

Sejatinya, prinsip intrinsik tradisi hukum Islam yang diinspirasi Al-Quran misalnya tentanh proses “hukum” minuman keras dan juga “poligami” mengalami apa yang disebut al-tadrij fi al-tasyri’, yakni penetapan hukum yang bergerak secara gradual kepada arah yang lebih baik dan sempurna.

Terkait dengan “milk al-yamin” sebagai praktik kontak seksual non marital pra-Islam yang diintrodusir kembali Al-Quran, secara al-tadrij fi al-tasyri’ praktik tersebut akan sirna menyusul rubuhhya realitas “perbudakan” di abad modern bahkan posmodern.

Karena itu, ketika Syahrur ingin “merasionalisasi” teks “milk al-yamin” sebagai jastifikasi halal terhadap kontak seksual non marital pada konteks modern, ia kehilangan “pijakan” perihal “budak”, sehingga yang dia blow up kemudian adalah “kepemilikan” (milk) dan bukannya “budak” (yamin).
Dengan begitu, ketika Syahrur bermain “akrobat” perihal kontak seksual yang dibolehlan di luar nikah tapi musti via “perbudakan”, gagasannya pun macet, (karena praktik dan konsepsi “perbudak” telah sirna dalam peradaban manusia kontemporer). Di titik ini Syahrur lalu melakukan komodifikasi “kebolehan kontak seksual di luar pernikahan” , namun ia telah “kehilangan subyek” budak, sebagai alas aktualnya.

Di sinilah anomali ontologis dan juga epistemologis telah mengerkah pikiran dan metodologi Syahrur karena merujuk ke “teks suci”, malakat aymanakum yang sejatinya telah kehilangan konteksnya di masa modern ini.

Syahrur, juga metodologi hukum Islam yang diajukannya, sebab itu, tidak saja gagal “mengurai kebuntuan” rasionalisasi kemungkinan (istilah pejoratif Syahrur dan M. Azis sang penulis disertasi) kehalalan kontak seksual “non marital” , tapi sekaligus ia terjerumus pada apa yang diandaikan philosophy of science sebagai epistemologi dan aksiologi “yang mengelak”.

Penulis: Muhammad Sabri (Direktur Pengkajian Materi BPIP RI)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top