Dialektika

Kontestasi Pilpres 2019

Kontestasi Pilpres 2019

Strategi.id – Jokowi-KH. Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno kini sdh memasuki track perlombaan . Seluruh penonton dan supporter banyak yang terkejut, kaget, mungkin kecewa bahkan ada yang senewen memasukin trek  2019.

Kenapa harus terkejut? Karena semua spekulasi, semua prediksi bahkan kesepakatan, pada tikungan terakhir berubah total. Rupanya ada satu hal yang terlewatkan oleh banyak pengamat. Bahwa kerahasiaan “kotak pandora” kedua pasangan yang baru dibuka menjelang finish sesungguhnya bukanlah untuk saling mengintai strategi masing-masing lawan. Tetapi justru mereka lebih mengintai dan menjaga di antara sesama partai koalisi agar tidak bubar. Publik pun tahu, semua partai punya ambisi untuk menempatkan calonnya masing-masing sebagai Cawapres.

Dilema itu dialami oleh kedua kubu. Prabowo pada akhirnya memilih jalan sepihak yang sempat membuat kecewa Partai Demokrat. Bukan AHY, bukan Habib Salim Assegaf, bukan pula UAS, apalagi Zulkifli Hasan. Prabowo justru memilih Sandiaga Uno dari Gerindra, yang tak pernah diusulkan, sebagai Cawapresnya untuk memutus polemik perdebatan di antara partai koalisinya.

Lantas bagaimana dengan Ijma Ulama? Faktanya itu tak menjadi bahan pertimbangan apalagi menjadi faktor penentu terbentuknya pasangan Prabowo/Sandiaga Uno.

Di pihak petahana, Jokowi justru lebih memilih memoderasi kekecewaan partai koalisi dengan memunculkan tokoh sepuh sebagai wakilnya. Secara umur, KH. Ma’ruf Amin dianggap bukanlah cikal bakal kompetitor bagi partai koalisi pada Pilpres 2024 nanti. Itu artinya tak satupun partai koalisi yang mencuri start membangun citra bagi Pilpres 2024 nanti. KH. Ma’ruf Amin juga bukan representasi salah satu partai sehingga tidak ada satu pun partai yang merasa dianak-emaskan. Selain itu, penempatan KH. Ma’ruf Amin sebagai Cawapres menjadi bukti betapa justru koalisi Jokowi lebih aspiratif dan akomodatif terhadap aspirasi kalangan ulama dan kaum muslim.

Ini langkah sangat strategis. Adil bagi partai koalisi, efektif utk meredakan publik dan menguatkan legitimasi publik.

Sekarang posisi jadi terbalik. Koalisi Prabowo yang selama ini dianggap membela Islam dan kaum ulama malah tidak memberi tempat bagi ulama serta tidak merespon aspirasi kalangan muslim. Bahkan pidato pengumuman Capres/cawapres semalam, begitu banyak mengutip jargon Soekarno yang selalu mereka anggap komunis.

Sementara Jokowi yg dianggap memusuhi Islam dan ulama justru memberi tempat pada ulama dan sangat merespon aspirasi kaum muslim.

Persaingan penentuan standing politik ini menurut saya dimenangkan oleh Jokowi. Tetapi, secara personal, pihak yang saya anggap “menang banyak” adalah Sandiaga Uno. Sandi lah politisi muda pertama di generasinya yang terlebih dahulu memiliki pengalaman mengikuti kontestasi Pilpres 2019. Kedua, ketika Sandi dinyatakan sebagai Cawapres maka di situ muncul sentimen kenaikan harga saham semua perusahaan miliknya. Dan ketiga, tentu saja Sandi memiliki kesempatan untuk menjadi Wapres.

Begitulah fakta fragmen Pilpres hari ini. Kita akan saksikan bagaimana episode perlombaan selanjutnya. Selamat berlomba.

Penulis Ismail Arief aktif sebagai Dir. Lembaga Kajian Sosial Politik LENTERA

Berikan Komentar

Berikan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seventeen − eight =

Atas