Kontroversi “Karya” dan Bias “Pencitraan” – strategi.id
Dialektika

Kontroversi “Karya” dan Bias “Pencitraan”

Strategi.id - Kontroversi "Karya" dan Bias "Pencintraan"

Strategi.id – Citra adalah bayangan. Bayangan harusnya seukuran badan. Meski bayangan bukanlah objek itu sendiri. Apakah bayangan bisa ke luar dari ukuran objeknya? Sangat bisa. Itu namanya  out of focus , distorsi juga bias . Kesalahan  focus  itu bisa sengaja dibuat. Namanya direkayasa. Tergantung keperluan. Oleh karenanya, sering bayangan terlalu besar dibanding objeknya. Biasanya dilakukan untuk pencitraan diri sendiri.

Ada juga bayangan yang terlalu kecil dan miring dibanding objeknya. Biasanya itu untuk mencitrakan orang lain. Begitulah. Bayangan atau pencitraan cenderung menipu. Tetapi apapun, bayangan seharusnya tetap bersumber dari objeknya. Sebab bayangan selalu berkorespondensi dengan objeknya.

Urusan pencitraan ini kini menjadi sangat primadona di panggung politik nasional. Menjelang Pilpres dan Pemilu 2019 kita akan dihujani oleh berbagai bentuk pencitraan. Sesuai kecenderungannya, kita kadang dibuat bingung untuk membedakan mana baik mana buruk bagi kepentingan bersama.

Dalam dunia politik praktis ada dikenal jurus : “kepentingan subjektif harus dibuat seolah objektif.” Ini jurus pencitraan untuk memperoleh dukungan suara. Ini soal agregasi. Soal legitimasi. Misal, memberi santunan pada fakir miskin atau masyarakat terkena bencana. Di situ terdapat upaya untuk membentuk objektifitas. Perduli, dermawan, berpihak pada wong cilik, itu pencitraan yang ingin dibentuk. Namun, hyperbola sebesar dan seluas apapun, tetap saja bayangan seharusnya merujuk pada objeknya. Sebuah relasi yang sering diabaikan. Mungkin juga tak terjangkau publik.

Jika objeknya kambing tapi bayangannya manusia, itu pasti ngaco.

Jika objeknya antek asing tapi mencitrakan dirinya sebagai pembebas negeri dari cengkeraman asing, itu pasti bohong.

Jika objeknya manusia kejam lalu mencitrakan dirinya humanis dan pro wong cilik, patut diduga orang itu sedang berdusta.

Lantas bagaimana jika ada orang lain yang sudah berkarya bagi orang banyak namun dianggap pencitraan? Pada dasarnya penilai seperti ini iri dan dengki. Biasanya orang seperti itu tak mampu berbuat bagi orang banyak kecuali bagi dirinya sendiri.

Apapun, dalam pulasan besar aneka warna pencitraan nanti, bias itu akan semakin membesar. Apakah anda akan termakan bias pencitraan di tengah minimnya literasi, data dan track record segenap kontestan yang berambisi menaiki panggung kekuasaan pada kontestasi politik nasional ini? Itu problemnya. Semoga dalam Pilpres dan Pemilu 2019 nanti kita semua bisa menjadi pemilih berakal sehat. Selamat berpartisipasi dalam kontestasi itu.

Penulis Ismail Arief aktif sebagai Ketua Team Kajian dan Analisa *INDONESIA MAJU.*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top